Petuah Ayah Di Hari Pertama Tembaru

Burung tetap berkicau di Jakarta, Nak
Kendati dalam sangkar yang memperkosanya
Bicaralah walau engkau merasa takut, Nak
Supaya lepas judekmu dari kesumpekan
Atau ketertekanan batinmu oleh kurungan
Sebab, kata-kata tak pernah mubazir, Nak
Betapapun kata-kata sering hilang daya
Lantaran kata-kata telah dipakaikan baju
Dan kata-kata terbiasa bersolek
Aduh, Nak
Jika engkau punya air mata, nangislah, Nak
Di Jakarta, seperti di banyak kota dunia
Orang memilih peran sebagai ular
Makan kenyang lantas tidur sekian bulan
Sambil menanamkan rasa takut
Atas nama keadilan
Dengan cara hendak melilit-menerkam
Engkau sudah dengar kata-kata bijak ini, Nak
Bahwa orang cari kemenangan di pengadilan
Dan keadilan diperlombakan seperti festival
Siapa kuat dia otomatis benar
Engkau pun sudah dengar amsal itu, Nak
Bahwa di tempat orang perjuangkan keadilan
Justru disitu Berjaya ketidakadilan
Aduh, Nak
Jika engkau menangis, Nak
Anggaplah engkau menyanyi
Kerna di ratap yang tumbuh atas sukma
Bisa berbuah batu karang yang teguh
Seperti engkau lihat dalam peradaban
Perubahan lahir dari pengorbanan
Ia tidak tercipta dari kemanjaan teruna
Maka jika engkau remaja, berhenti manja, Nak
Yang engkau perlu kasih, bukan kasihan
Tapi hasilkan manfaat, bukan mudarat

Sebab, akan tumpah darah dari langit, Nak
Mengalir dari gunung ke laut
Mematikan sawah dan lading
Terbunuh ternak dan peliharaan
Dan orang kenyang akan kelaparan
Lalu orang miskin akan dimuliakan
Duduk sebagai pengantin dengan baju indah
Disalami dengan doa-doa selamat
Aduh, Nak
Jangan tutup mata atas pelangi di siang, Nak
Sebab ia berikan isyarat hari depan
Sebab ia janjikan adanya besok buatmu
Panggilah satu nama, Nak
Dan ucapkan keberuntungan
Seperti yang diajarkan nenenk moyang
Apa itu bangsa Cina, Arab, atau Belanda
Sama saja
Kerna yang namanya kebajikan, Nak
Tembus dari segala kebangsaan
Demikian engkau harus robohkan tembok, Nak
Yang dibangun oleh prasangka kebangsaan
Demikian engkau harus percaya, Nak
Yang melahirkan kebangsaan memang Tuhan
Tapi iblis memanfaatkan pertikaiannya
Tuhan menyuruh kita bersatu, Nak
Hidup dalam damai kasih karunia
Tapi iblis merusak kemesraan itu
Dan mengalirkan dendamnya pada kita, Nak
Nah, katakanlah engkau terkurung
Tapi liat burung berkicau dalam sangkarnya, Nak
Itulah hiburan yang dapat kukasihkan buatmu
Tiap hari adalah tembaru, Nak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: