SERAT JATI PRIBADI

Ini tahun aku pergi ke mana dibawa kata hati
Mumpung raga terasa kuat jiwa terasa sehat
Mencari tempat untuk menyiram budi
Di gunung, mata air kehidupan
Apa untungnya megah di kota penuh wisesa
Tapi batin melompang kehilangan pijar
Maka kutinggalkan kota yang siangnya memanjang
Oleh lampu-lampu neon ribuan watt
Dipasang berjuta mengganti matari
Dan benderangnya membuat aku terasing
Déjà vu di antara kakerlak wirok nyamuk
Siapa bias karib di keindahan semu
Membayangkan kota ini pada 2222
Jika kini aku menjadi paling skeptic
Masihkah pohon tumbuh di Lapangan Merdeka
Sedangkan di Pondok Labu tak tumbuh labu
Di Pondok Cabe tak tumbuh cabe
Di Pondok Kopi tiada kopi
Di Utan Kayu, Kebon Sirih, Sawah Besar, Rawa Bening
Hanya tumbuh tembok disepanjang pematang hot-mix
Dikuasai bangsa manusia yang kini jadi sebangsa macan

Kota telah membuatkan seperti mesin fotokopi
Mengulang-ulang hari dengan rasa yang sama
Saban keluar rumah pikiran liar
Stress dikalksoni oto-oto ban radial velg racing
Knalpot megafon yang keluarkan asap pedas
Dipekaki tape yang dilengkapi amplifier
Meraung-raung antara rock dan dangdut
Berpacu sinting, zig-zag, ugal-ugalan
Menuruti etika binatang: the survival of the fittest
Jika satu menit lepas dari traffic-jam sialan
Di arteri sana macet lagi memusingkan kepala
Yang dibutuhkan orang di kota ini
Bukan aspirin tapi obat sakit gila

Mauku sekarang mendaki segala gunung negri ini
Melihat telanjangnya sepi
Menulis puisi cantiknya edelweiss
Garidanya murai dan pilunya terukur
Sembari menyanyikan madah
Sepi adalah guru untuk merenung
Tapi orang mengerti isyarat alam
Hidup hari ini menentukan hidup hari esok
Yang tidak menabur tidak mengambil bagian memetik
Aku mau bersusah-susah di fana kini
Supaya tidak ditolak dibaka nanti.

I
Kumulai pendakian di Gunung Tampulon Anjing
Menjulang 2008 utara Sipirok, Sumut
Aku jumpa suhu yang bicara perkara buku
Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk

“Paling utama,” katanya. “punya buku
Jangan bilang bangsamu berbudaya tinggi
Kalau kau tidak p[ernah tahu pentingnya buku
Yang membedakan manusia dengan hewan
Bukan sandang
Bukan pangan
Bukan papan
Tapi buku
Manusia pakai baju hewan pun pakai bulu
Manusia cari makan hewan pun cari makan
Manusia punya rumah hewan pun punya sarang
Tapi manusia punya buku hewan tak punya buku
Mengaku manusia tapi tak pernah punya buku harga dirimu hewan
Maka miliki buku dan baca
Simak kekuatan yang tersirat dalam puisi
Kalau kau bisa membaca tapi tidak membaca puisi
Kau baru bebas buta huruf tapi tidak bebas membaca.”

“Buku bagi orang yang bebas membaca
Adalah air bagi suatu tanah kebun
Jangan biarkan dirimu jadi tanah gersang
Lantaran air tidak mengalir atasmu
Membuat tumbuhan tidak hasilkan buah
Jika sawah kehabisan air
Mungkin sawah berubah jadi lading
Tapi jika hujan tak turun atas lading
Dan beruntung padi masih hidup di situ
Bagaimana jika dating wereng rusaki daunnya
Dan batang pipit habis buahnya
Lalu tikus geregoti batangnya
Kemudian mati mereka bersama
Karena kehausan disitu
Bukankah lahanmu jadi sia-sia
Makin lama makin terlantar
Menumpang semak dan putri malu?
Jika ada binatang yang besok kesitu
Hanyalah belalang yang salah terbang
Terbawa kencang putting beliung
Lalu lusa ia mati karena kehausan.”

“berpalinglah kau dari kebiasaan bangsa
Yang asyik sibuk perkara-perkara besar
Seraya lupa pada perkara yang lebih penting
Buku tidak sebesar harga cincin berlian
Tidak juga sebesar harga oto buatan Jerman
Tapi ia menjadi besar dalam harga diri dan harkat
Yang membedakan manusia dengan hewan
Kalau kau mau tidak dikecilkan
Ikatkan cincin percintaan harga diri lewat buku
Dan baca segala puisi pujian
Mazmur buat Sang Khalik
Nyanyikan hormat tembusi awan di langit
Dan benturi dasar laut di samudra
Kau pasti tidak pernah kehausan.”

II
Lalu beralih aku ke Gunung Pangrango
Menjulang 3019 barat Cipanas Jabar
Aku jumpa suhu yang bicara perkara 5W
(Wibawa, Wanita, Wisma, Wahana, dan Wang)
Dan kubuka mata kupasang telinga

“Yang kesatu bagi lelaki,” katanya, “adalah wibawa
Seorang lelaki mesti memiliki sinar dan wibawa
Yang tumbuh dari batin
Dan dipelihara oleh nurani
Agar tahu ia harga kesuamian dan keayahannya
Menyangkal diri adalah karunia pertama
Memedulikan kepentingan orang lain
Menyusul kedua yang bersendi pada jiwa
Ia harus tegas tapi jangan keras
Ia harus lunak tapi jangan lembek
Ia harus perkasa tapi jangan perkosa
Ia harus rendah tapi jangan direndahkan
Ia harus cerdik tapi jangan licik
Ia harus alim tapi jangan lalim
Ia boleh lekas tak percaya tapi jangan lekas curiga.”

“Yang kedua bagi lelaki,” katanya, “adalah wanita
Seorang lelaki mesti memiliki wanita dalam hidupnya
Agar ia sempurna menghayati kejantanannya
Wanita bagi seorang lelaki adalah ilham
Untuk mengenal keseungguhan dan ketekunan
Untuk melatih kecermatan dan kesabaran
Yang membangkitkan gairah
Yang menggairahkan jiwa-raga
Wanita memberinya arti tentang cinta
Cinta memberinya arti tentang anak
Anak memberinya arti tentang wilayah Tuhan
Tuhan memberinya arti tentang hidup kekal.”

“Yang ketiga bagi lelaki, “adalah wisma
Seorang lelaki mesti memiliki tempat tinggal
Di mana ia membangun keluarga dan cinta kasih
Jangan lihat wisma dari bangunan sosoknya
Tapi periksa wisma dari cirri-ciri sisiknya
Pada intinya sebagai tempat tinggal
Karena rumah yang kokoh pun pada saatnya akan binasa
Kayu-kayunya diparani rayap atau ngengat
Atapnya bocor atau dindingnya retak
Namun cinta kasih yang dibangun di dalamnya
Berlanjut turun-temurun dalam tutur kata bestari
Sebagai benang-benang tawarikh perdamaian
Wisma adalah tempat tinggal
Dan juga tempat meninggal
Meninggalkan orang-orang terkasih
Ayah, ibu, mertua, istri, anak, dan cucu
Kau butuh tempat tinggal selama di dunia
Untuk belajar mengetahui betapa mestinya
Kau butuh tempat tinggal selama-lamanya di surge
Ajarkan itu kepada manusia, he lelaki.”

“Yang keempat bagi lelaki,” katanya, “adalah wahana
Seorang lelaki harus punya kendaraan
Supaya ia tidak melulu diam didalam wismanya
Siapa yang tak pernah keluar dari tempat tinggal
Tak punya kesempatan melihat dirinya
Diantara orang-orang lain di luar dirinya
Maka itu, keluarlah, nikmati tamasya
Lihat kenyataan akan adamu
Dalam adanya dunia
Di situ hadir Tuhan
Wahana dapat membawa rindumu
Ke mana kau suka
Tapi pergilah tidak sendiri
Sebab wahana juga tempat kau membina keluarga
Sebab wahana juga melatihmu arti kebersamaan
Dalam wahana kau lihat orang lain
Dalam wahana kau sadar kau bukan sendiri
Di luarnya ada orang lain yang sama pentingnya
Jika kau tidak melihat kenyataan
Kau mengabaikan dirimu sendiri
Inilah perkara wahana yang mesti kau camkan
Bahwa kecelakaan lalu lintas di sekitarmu
Bukan sebab kesalahan wahana
Tapi kesalahan tidak melihat kenyataan
Adanya orang lain-lain diluar dirinya
Kalau kau punya wahana
Jangan wahana membuatmu sebagai Caligula
Mempermainkan nyawa orang atas selera biadab
Tapi seperti wahana lahir dari suatu peradaban
Tempatkan dirimu sebagai bagian yang menentukan adab.”

“Yang kelima bagi lelaki,” katanya, “adalah wang”
Seorang lelaki mesti memiliki harta
Supaya ia tidak gampang dipermainkan dendam
Seperti selalu miskin mendendami kaya
Carilah wang sebanyak-banyaknya dengan cara bertahap
Dan jangan dengan cara mendadak
Sebab dalam bertahap kau berputar bersama waktu
Dan dalam mendadak kau memperkosa jalannya waktu
Tanpa wang kau tak kenal arti memiliki
Betapapun yang kau miliki itu sementara
Dan tidak menyertai jisim di liang lahat
Jangan percaya kemiskinan dapat melahirkan ilham
Malah kemiskinan dapat membuat orang jahanam
Ilham yang tulen justru lahir dalam kecukupan
Sebab ilham yang tulen membawa kebajikan
Dan ilham yang palsu membawa keonaran
Semakin banyak wangmusemakin mudah jalanmu
Tapi jangan lupa alpa member perpuluhmu
Member derma member zakat
Membantu yang miskin
Menolong yang susah
Adalah hikmah perdana kebijaksanaan
Wang dapat mengubah perangai
Siapa punya wang punya kuasa
Kuasa dapat memaksa
Kuasa dapat membujuk
Kuasa dapat menyeleweng
Kuasa dapat sewenang-wenang
Tapi kuasa tak kuasa ajal
Jangan wang mengubahmu jadi menyembah wang
Sebab betapa gampang wang berubah jadi berhala
Jika wang memberhala, batinmu pun miskin pahala
Kalau kau tak berhasil mendapat wang sebanyak-banyaknya
Setidaknya dengan yang kecil pun kau eling
Dan bersyukur sebagai rezeki dari Tuhanmu.”

III
Lalu beralih aku ke Gunung Slamet
Menjulang 3428 timur Bumi Ayu Jateng
Aku jumpa suhu yang bicara perkara 5 SK
(Senang Kawin, Senang Kelakar, Senang Kibul, Senang Kongkalikong, Senang Korupsi)
Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk.

“Soal satu,” katanya, “Jauhi sifat senang kawin
Orang yang senang kawin, berbiasa diri main dusta
Mngatasnama cinta di balik topeng birahi daging
Lelaki mencari untung dari kerugian perempuan
Tapi jangan perempuan keburu menyalahkan lelaki
Sebab jika 9 dari 10 lelaki menyeleweng
Berarti 9 dari 10 perempuan menyediakan diri diseleweng
Perempuan baik bertahan seperti selalu kuat bertahan
Bahwa kata-kata rayu biarkan jadi tawanan lagu pop
Masuk kuping satu keluarkan di hidung
Kalau ingin jadi pemenang setialah pada perkawinan

Tidak diberi kepada Adam: dua Hawa
Tidak diberi kepada Hawa: dua Adam
Tapi diberi kepada Ibrahim : berjuta keturunan.”

“Soal dua,” katanya, “Jauhi sifat senang kelakar
Orang yang senang kelakar, suka sesat dalam kata
Ketika kata-kata meluncur dalam kesenangan
Gampang kesenangan melumer dengan kebohongan
Semakin banyak kelakar semakin sering tergelincir
Dan masuk kelakar dalam lowongan mempermainkan orang
Siapa yang senang kelakar senang merugikan orang
Yang menguping kelakar di luar dinding
Melanjutkan kerugian dengan pertikaian
Maka berpikirlah kalau hendak kelakar
Supaya kau bebas dari benci orang
Nuh terpaksa mengutuk putranya Ham karena kelakar
Dibenci sebagai budak oleh saudaranya Sem dan Jafet.”

“Soal tiga,” katanya, “Jauhi sifat senang kibul
Orang yang senang kibul, disiksa bayang sendiri
Tertutup pintu di saat ia mau bersungguh-sungguh
Kau boleh bicara tidak benar untuk lucu-lucu
Asal jangan selamanya bicara tidak benar
Sekali-sekali tidak benar diterima wajar
Berkali-kali tidak benar dianggap kurang ajar
Maka hentikanlah pengulangan bicara tidak benar
Supaya orang tidak menyebutmu tukang kibul
Hafallah peribahasa ini:
Sekali lancung kerna kibul
Seumur hidup disumpah anak-cucu
Bahwa terkutuk Yahudi diatara bangsa-bangsa
Terwaris kibul dari neneknya

“Soal empat,” katanya, “jauhi sifat senang kongkalikong
Orang yang senang kongkalilkong, memutus tali munasabat
Ditinggalkan seperti kuburan tua tanah pedesaan
Semak ilalang tumbuh saling berebut menutupnya
Bukan kupu-kupu yang mampir tapi belalang yang pamit
Menangis hanya menangis sendiri
Tertawa hanay tertawa sendiri
Kau pantas berkelahi jika harus bertahan kebenaran
Kalah mengaku kalah, menang akan dihormati
Tapi jangan berbuat kongkalikong seperti Yahudi
Bahwa Iskariot berkongkalikong dengan Kayafas
Menghadap karmanya dengan konyol di hari tewas
Penyesalan di kemudian waktu tak pernah menolong.”

“Soal lima,” katanya, “jauhi sifat senang korupsi
Orang yang senang korupsi tidak kenal diri
Makin lama makin tidak peduli diri orang
Ia kira rakyat diam hanya menangis
Tak tahu dalam menangis rakyat mencatat dengan marah
Jika musim berubah dan marah jadi revolusi
Ia digebuki sebagai layaknya terhadap maling
Dan orang-orang akan berkata dengan terang
Lebih mudah memaafkan penjajah Belanda
Ketimbang korupsi yang dibuat bangsa sendiri
Maka kalau kau punya cukup kekuasaan
Jangan memanfaatkan kekuasaan untuk korupsi
Upah korupsi mati di tangan rakyat
Sudah mati masih mati lagi di akhirat.”

IV
Lalu beralih aku ke Gunung Welirang
Menjulang 3156 barat Tretes Jatim
Aku jumoa suhu yang berkata perkara R dan M
Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk

“Hanya satu saja,: katanya, “yang paling penting
Mesti dipunyai orang-orang sekarang
Apalagi kalau kau kaya dan punya kekuasaan
Yaitu R untuk Rasa dan M untuk Malu
Kau boleh punya 3 W dari 5 W itu tanpa batas
Tapi kalau kau tak punya Rasa Malu, kau binatang
Orang yang masih mengenal malu mesih mengenal Tuhan
Yang tak punya malu, mengubah dirinya menjadi tuhan
Karena itu camkan baik-baik perkara RM
Dalam butir-butir perjalanan ini:
Kaya jangan pamer
Pintar jangan takabur
Berkuasa jangan selamanya.”

V
Lalu beralih aku ke Gunung Pohen
Menjulang 2069 utara Bedugul Bali
Aku jumpa suhu yang berbicara perkara Kerja dan Doa
Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk

“Inilah kawruh paling tua tentang hidup,” katanya
“Hidup adalah persaingan akan hadir dan tersingkir
Kau dianggap ada atau tiada
Adalah persoalan kerja
Dalam kerja kau harus punya cita-cita
Sebab cita-cita tanpa disertai kerja, sia-sia
Ketika kau bercita-cita, kaupun bekerja
Kerja adalah karunia
Membuatmu senang
Kerja bukanlah siksaan
Jangan bersungut
Kerja keras disertai eling membawa hasil
Kerja asal disertai grutu hanyalah batil
Syukur kerna kau kerja
Siapa yang bekerja ia menghormati bakat
Siapa yang sadar bakatnya sadar penciptanya
Jangan kau mengharapkan nasi tanpa kerja
Sebab yang berhak pada nasi adalah yang mau kerja
Namun jangan kerja telah membuatmu mabuk-workaholic
Kerja keras tanpa mengingat waktu adalah mabuk
Tuhan tidak mabuk ketika Ia bekerja setiap waktu
Menciptakan langit dan bumi
Siapa yang mabuk bekerja, melupakan Tuhannya

“Maka ayo, dalam mengingat Tuhan, ingat pula saudara
Jika ada saudaramu yang belum bekerja, doakan
Doa adalah kerja sukma menemui penciptanya
Kalau kau rajin mendoakan saudara
Saudara rajin mendoakan kau
Dalamnya kau dibungkus roh kasih saying
Yang tak henti bekerja menuntun langkahmu
Roh kasih saying itu tidak menuntut jasa
Ia menuntun memedulikan semua orang sebagai saudara
Maka kasihi saudaramu yang berbeda denganmu
Jika saudaramu mandul jangan salahkan perkawinan
Doakan ia supaya dikasih umur yang cukup
Untuk bertahan seraya taat dan bertawakal
Seperti Ibrahim. AS memperoleh Ismail AS
Setelah perkawinannya berusia 100 tahun
Jika saudaramu ada yang memilih tidak menikah
Berilah tempat yang layak baginya untuk berkembang
Sebab Tuhan tidak melahirkan manusia dalam mesin cetak
Masing-masing orang dibedakan karena sikapnya
Kerna perasaannya kerna alat driyanya
Jika saudaramu ada yang menderita homoseksual
Janganlah meniru jalan keliru orang yang menistanya
Sebab seperti semua orang mungkin dijangkiti penyakit
Doakan saudaramu ini supaya sembuh dari penyakitnya
Lalu perlakukanlah ia dengan belas kasih
Kau terpanggil untuk menolongnya
Jika saudaramu ada yang menjadi pelacur
Doakan mereka yang justru sembunyi-sembunyi memakainya
Kerna orang-orang yang sangar hendak memberantasnya
Malah diam-diam memakai tubuhnya dengan tawar-menawar
Kau terpanggil untuk membela nasib pelacur
Pelacuran punya jasa bagi kejahatan
Kerna ada pelacuran tiada perkosaan
Kerna ada pelacuran orang aman bepergian
Jika saudaramu ada yang jadi pencuri
Jangan bilang semua orang bebas dari sifat mencuri
Doakan orang-orang yang jadi korban pencurian
Supaya mereka sadar yang ada di dunia ini tidak kekal
Hari ini dia punya barang yang dibelinya dengan mahal
Besok barang itu berpindah tempat dari rumahnya
Demikian juga hidupnya sendiri di kulit bumi
Ajal dating juga seperti pencuri
Siap-siaplah selalu.”

“Dan terakhir, jangan lupa doakan dirimu sendiri
Untuk memngingat adamu dalam kembara ini
Bahwa hidup adalah kembara panjang
Bukan atas maumu
Tapi kodratmu
Ada hari rugi
Ada hari duka
Jika kau lepas dari Satu
Kau masuk dalam satu lainnya
Simaklah rancang ini sebagai kasut kaki:
Kau bias berjalan dengan topeng di saat sedih
Supaya wajahmu tersamar di balik lakonnya
Kau bias menyelami samudra di saat menangis
Supaya air matamu bersatu dengan air laut
Tapi kau tak bias mengundang keceriaan
Tanpa member tempat bagi karya keselamatan.”

“Jika kau berdoa, jadilah kau sebagai miskin
Dalam miskinmu, kau lihat, aksioma
Setiap jalan panjang, lurus
Mata mencari tahu apa yang kasat
Di situ kau berditi mengenal dirimu pelan-pelan.”

VI
Lalu beralih aku ke Gunung Aurbunak
Menjulan 1150 utara Pleihari Kalsel
Aku jumpa suhu yang berbicara perkara SIM
(Syarat Istri Mulia – dalam kehidupan lelaki)
Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk

“Mula-mula yang harus kau ingat,” katanya,
“Istri adalah bagian dari rohmu
Hadir di dunia dari ragamu
Dan dari raganya lahir rohmu
Ia lebih tahu tentang dirimu
Daripada cermin tempatmu berkaca
Sebab ia tidur di sebelahmu
Maka jangan berpura-pura membonginya
Sebab ia hafal air mukamu
Bahwa lelaki punya dua wajah
Satu yang dikenal umum
Satunya lagi hanya dikenal istrinya
Kau boleh menaruh istrimu di belakang
Tapi kau mesti tetap menjunjungnya ke depan
Kerna dari rahimnya
Atas kerjasama benihmu
Kau memproleh buah hati
Tempat kau mengutus benihmu kerahimnya
Istri adalah duta syurgawai yang melengkapi lelaki
Bahwa hidup insani tumbuh dari keindahan itu.”
“Setelah itu yang harus kau ingat,” katanya
“Pesankan bahwa hak istri sama dengan hak suami
Toh di akhirat tak ada surge suami surge istri
Istri harus berjuang kesamaan haknya itu
Bukan hanya di meja-meja seminar
Di mana panitia mencari nama dan memperloeh laba
Lebih besar daripada pemasaran
Tapi dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari
Di mana masih banyak istri yang menderita
Diperlakukan sebagai tawanan penjahat perang
Nanti di saat perjuangannya berhasil
He istri, jangan kau lawan kodrat alam
Sebab kodrat alam adalah wilayah Ilahi
Bahwa sebagai istri kau adalah ibu
Dan sebagai ibu kau punya sejarah
Tentang hamil
Tentang melahirkan
Tentang menyusui
Tentang mengasuh
Itulah karunia istimewa dalam dirimu dari-Nya.”

“Dan terakhir yang harus kau ingat,” katanya
“Katakan begini pada istrimu, he lelaki
Bahwa jangan istri mengira seks semata-mata
Yang dapat menahan suami untuk tidak ngelencer
Coabalah susuri sungai Negara ke pedalaman utara
Dari teluk Banjarmasin ke hulu Muarakoman
Kau bias beli jamu pasakbumi untuk mengurus seks
Padahal bukan kerna seks tapi kerna kasih saying
Perhatian
Pengabdian
Ketulusan
Kelemahlembutan
Yang membuat suami betah dan butuh
Maka peliharalah perasaanmu itu, he istri
Jangan menaruh tempat bagi curiga di hati
Dalam semua hal kaitkan hatimu pada-Nya.”

VII
Lalu beralih aku ke Gunung Lompobattang
Menjulang 2870 tenggara Malino Sulsel
Aku jumpa suhu yang berbicara perkara pribahasa
Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk

“Satu saja yang harus kau hafalkan,” katanya
“Setelah dua kekasih memutuskan kawin
Menjadi suami dan istri
Lahir bayinya
Apa lagi?
Anak bersekolah sampai tamat sarjana
Mencari kerja mendapat kerja melanjutkan hidup
Pertanyaannya tidak surut dari tabiatnya
Apa lagi?
Hidup sampai mati
Dunia tempat bersinggah
Manusia lewatkan segala cuaca
Mesti sendiri dan mungkin sebatang kara
Gelombang bukan Cuma di laut
Gempa bukan Cuma di tanah
Topan bukan juga di udara
Tapi di hati dalam sukma yang tak terisi
Kosong berisi ketiadaan
Apa lagi?
Kata – kata yang royal sepanjang sejarah
Tak perlu disesali betapapun mubazirnya nanti
Kalau seorang bayi dari cinta yang disumpahkan
Tiba-tiba berubah tua tanpa mengerti arti takwa
dia menghadap Dia
apa lagi?
Kau sediakan paying untuknya sebelum hujan
Agar ia tidak kuyup oleh penyesalan.”

VIII
Lalu beralih aku ke Gunung Klabat
Menjulang 2002 barat Bitung Sulut
Aku jumpa suhu bicara perkara hak anak
Dan kubuka mata kupasang telinga seilakan masuk

“Ini satu-satunya kawruh tentang anak,” katanya
“Anak adalah buah hati kasih saying
Lanjutkan kasih sayang itu kepadanya
Abakmu milikmu hatinya miliknya
Jika hatinya tak sejalan dengan jalan hatimu
Biarkan ia menemukan jalannya sendiri
Jangan kau paksa masuk ke dalam jalanmu
Kau boleh tunjuk jalan yang patut
Tapi jangan bilang yang patut itu yang baik
Sebab apa yang baik bagimu
Belum tentu benar buat anakmu
Anak bukan orang tua dalam ukuran umur muda
Kalau kau minta ia jadi tua seperti umurmu
Kau menganiaya dan membunuh jiwanya pelan-pelan
Kalau kau larang ia bermain sebagai anak di usianya
Kau telah merampas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya
Jangan meniru cara orang fasik
Di waktu kesal menyerapah anaknya
Dan berteriak menyesali kelahirannya
Sebab jika kau menyerapah dan menyesali
Buah hati dari kasih sayangmu
Niscaya kasih sayang Ilahi pun berkurang atasmu
Jadikan dirimu sebagai sepatu atas anakmu
Ia memakaimu untuk memberi aman bagi kakinya
Tapi ke mana langkah kakinya pergi di tentukan hatinya.”

“Namun, beri juga akhlak bagi anakmu,” katanya
“Bahwa anak mesti dengar-dengaran orang tua
Sebab orang tua wakil roh syurgawi di dunia
Jangan sampau turun kualat dari Tuhan atasnya
Biarlah akhlak akan menjadi pelita bagi jalannya
Ia harus mendengar orangtua walau boleh membantah
Ia boleh membantah tapi harus dengan sopan santun
Jika ia membantah ia telah renungkan dengan hati
Ia nalarkan dengan akal budi
Ia pertimbangkan dengan nurani
Supaya pembantahannya bukanlah menuruti cara bedebah
Yang membuka mulut sekedar kegiatan asbun
Dan kata-kata tumpah seperti sampah
Anak-anak berkata orangtuanya salah
Sebab orang tua tidak selalu benar
Anak harus punya pengetahuan yang lebih
Melebihi pengetahuan orangtuanya
Tapi jangan pengetahuannya membuatnya sok tahu
Anak mesti menerima orangtua sebagai guru
Sebab guru bukan hanya di sekolah
Anak mesti meminta sekolah
Untuk mengembangkan diri sebagai dirinya
Dalam dirinya ia menjadi lain dengan lainnya
Anak boleh nakal dan guru boleh menghukumnya
Hukuman jangan dianggap kebencian
Betapapun kerasnya hukuman itu
Sebab seperti harimau boleh ganas
Harimau tak pernah menerkam dan memakan anaknya
Demikian kasih sayang adalah kembarannya hukuman
Dan inilah kewajiban alami manusia
Kala kecil ayah-ibu menuntun anaknya
Dan ayah ibu jadi kakek nenek
Haruslah anak ganti menuntun anaknya.”

IX
Lalu beralih aku ke Gunung Ranakah
Menjulang 2400 tenggara Ruteng Flores
Aku jumpa suhu yang berbicara perkara tanggung jawab
Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk

“Hidup dimulai dari tanggung jawab,” katanya
“Menjawab arti hidup dalam nafas
Atas suara-suara yang mengimbau-imbau dalam nurani
Tanggung jawab tulen tumbuh dari nurani
Mewujud dalam ejawantah kasih
Kalau kau bilang ada kasih
Apa jawabmu jika jawabnya ada benci
Kalau kau tetap bilang ada kasih
Apa jawabmu jika tetap jawabnya ada benci?
Pelajaran pertama kasih bagimu dimulai pada kata
Kata bersatu dengan laku
Laku bersatu dengan lafal
Lafal bersatu dengan Tuhan
Tuhan bersatu dengan kasih

(!)
Inilah catatan kaki kasih yang diajarkan pitarah
Kasih tidak memikirkan untung
Kasih tidak menuntut jasa
Kasih tidak mencari nama
Kasih tidak menghitung
Kasih tidak berpihak
Kasih tidak cemburu
Kasih tidak gelojoh
Kasih tidak khianat
Kasih tidak sombong
Kasih tidak bohong
Tapi
Kasih itu tulus ikhlas
Kasih itu lemah lembut
Kasih itu rendah hati
Kasih itu penyerahan
Kasih itu tawakal
Kasih itu pemaaf
Kasih itu eling
Kasih itu jujur
Kasih itu takwa
Kasih itu iba
(!)

Siapa tak memiliki kasih
Memang memiliki pintu yang tertutup atas nur
Dan di balik pintu ia meraba-raba dalam gelap
Kadang membentur kadang kesandung
Siapa senang dalam gelap
Menyamakan dirinya bagai tikus
Tikus bersembunyi pada siang hari
Jika ia mati, ia mati kerna perangkap atau racun
Dan bangkainya dibuang ke comberan dengan benci.”

X
Lalu beralih aku ke Gunung Bifemnasa
Menjulang 1198 ke utara Kafenemanu Timor
Aku jumpa suhu yang bicara perkara gurindam 10
Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk

“Ini dia nyanyian gurindam 10 yang baru,” katanya
“Nyanyikan di sanubari bukan di bibir.

Kalau mau ikut jalan Tuhan
Siap-siap memikul beban

Kalau kau bilang tidak ada iblis
Artinya kau menjadikan dirimu iblis

Gengsi bias dimanfaatkan setan
Nurani adalah mahkamahnya Tuhan

Membikin ayat suci sebagai jimat
Itu langkah pertama menuju khianat

Mengaku diri bangsa Pancasila
Tak galang kerukunan namanya gila

Lebih gila yang mengaku bertuhan
Tapi korupsi terus berjalan

Jika korupsi jadi kesukaan
Melebarlah sayap kemelaratan

Alangkah aib yang melarat rohani
Di surge nanti tak dikenal nabi

Lewat nabi kita kenal surga
Surge semayam Tuhan Yang Maha

Percaya Tuhan ada jalan keselamatan
Pecaya setan menuju jalan kebinasaan

XI
Lalu beralih aku ke Gunung Bianiya
Menjulang 3055 timur Masohi Seram
Aku jumpa suhu yang bicara perkara arti hari
Dan kubuka mata kupasang telinga silakan masuk

“Kita hidup dalam satu dunia,” katanya
“yang telah diatur hari-harinya
Mengulang bagai roda atas segala abad
Besok tak pernah jelang tanpa hari ini
Hari ini tak kunjung tanpa kemarin
Hari ini matahari terbenam
Besok gilir matahari terbit
Yang kemarin sudah berlalu
Hari ini lapar
Besok dating kenyang
Yang kemarin lupakan saja
Hari ini badan tak sehat
Besok kita segar bugar
Yang kemarin jangan rasakan
Hari ini kita bermusuhan
Besok kita galang persahabatan
Yang kemarin tak usah diungkitkan
Hari ini kita menampar
Besok kita mengelus
Yang kemarin takkan terulang
Hari ini terpaksa melukai hati
Besok wajib meminta maaf
Yang kemarin jangan ingat
Hari ini kita tak kuasa menahan tangis
Besok kita tertawa terbahak bersama
Yang kemarin biarkan berlalu
Hari ini kita berkumpul
Besok kita berpisah
Yang kemarin selesai
Hari ini kita hidup
Besok kita mati
Tapi mati bagi orang-orang percaya
Diganti hidup kekal diseberang ajal
Yang kemarin adalah peringatan-Nya untuk eling
Maka atur hari-harimu bukan untuk hari ini dan kemarin
Sebab kau tak tahu apa arti besok.”

XIII
Dan akhirnya beralih aku ke gunungku sendiri
Gunungku adalah kredo Hayati Pancasila

“Hanya satu Allah yang akbar
Yang mencipta alam semesta
Dan manusia mendunia
– Aku percaya

Aku hidup dalam banyak kebenaran
– Aku percaya
Hindu, dharma yang dibenarkan Sang Hyang Widhi
– Aku percaya
Budha, agama yang dibenarkan Sidharta Gautama
– Aku percaya
Nasrani, Jalan keselamatan yang dibawa Isa Al Masih
– Aku percaya
Islam, Akidah yang dibenarkan Allah Ta’alla
– Aku percaya
Pancasila, asas yang mempersatu rasa percaya
– Aku percaya

Aku kembang dalam leluri Pancasila
Kepercayaan adalah perdamaian
Tidak harus terjadi perpecahan

XVI
Maka kuhentikan pendakian pada tahun besok
Kerna jalan di depanku sudah rata oleh makrifat
Tinggal menunggu datang hari menyatunya Dia dan aku

“Duh Gusti mugi paringo ing margi Kaleresan
Kados margineng manungso kang mangkeh kanikmatan
sanes margine manungso kang patuho ngelaknati.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: