Goresan Pena

Masing-masing penulis memiliki “gaya” tersendiri dalam mengungkapkan gagasannya. Tak terkecuali saya. Baik penulis esai, prosa, puisi, novel, fiksi, berita, hingga artikel ilmiah pasti memiliki karakter sendiri dalam tulisan-tulisan yang ia buat. Karakter tersebut kadang didapatkan sendiri tanpa disadari -karena terbiasa menulis- dan ada pula yang menemukan lantas menggunakan karakter tersebut dalam tulisan-tulisannya.

“Gaya” tulisan adalah identitas. Ia melambangkan sebuah karakter mendalam yang dimiliki oleh penulis, yang dituangkannya dalam buah karyanya berupa tulisan. Entah itu artikel, puisi, atau jenis-jenis tulisan lain. Dengan “gaya” kepenulisan yang khas, tulisan seseorang dapat dikenali dengan mudah tanpa harus membaca siapa penulisnya.

Sebagai contoh, tulisan-tulisan Yudi Latif memiliki karakter khas, yaitu gaya tulisannya yang cenderung refleksionis, memainkan diksi, dan agak berfilsafat. Ritme tulisannya diatur dengan baik. Sehingga, model tulisannya lebih sastrawi, tapi tidak meninggalkan analisis yang tajam. Ini yang membuat tulisan seorang Yudi Latif “enak” dibaca dan punya karakter yang tegas.

Sebaliknya, tulisan-tulisan Hanta Yuda, pengamat politik The Indonesian Institute, jauh dari kesan romantik dan sastrawi. Sebagaimana lazimnya tulisan seorang pengamat politik, ia mengantarkan analisisnya dengan tajam, tegas, dan langsung mengena substansi.  Dengan gaya kepenulisannya yang tajam, sistematis, dan to-the-point tersebut, ulasan Hanta menjadi lebih mudah dinikmati oleh para peminat politik.

Sementara itu, tulisan-tulisan Goenawan Muhammad terkenal kuat dengan bahasan jurnalistik, sastra, dan pengetahuannya yang mendalam. Sebagai seorang wartawan, ia tentu tak banyak berteori soal fakta. Langsung saja ia ceritakan sebuah masalah dengan gaya bercerita yang khas wartawan. Kritiknya sederhana, langsung ke tema, tapi dibalut dengan bahasa yang enak dibaca. Karakter jurnalistik dibalut dengan sedikit sastra dan kadang dengan bahasan filsafat, juga dengan tema-tema yang sebetulnya sederhana, menjadikan catatan pinggirnya menjadi sangat digemari oleh para pembaca.

Para penulis tema keislaman, seperti Adian Husaini, memiliki karakter tegas, kritis, langsung pada pokok persoalan, dan pandai membongkar semua persoalan secara tuntas. Tulisan-tulisannya tidak banyak memainkan diksi atau sastra, tetapi kritiknya yang tajam dan komprehensif membuat banyak pembacanya terkesima, mungkin juga sekaligus terbakar. Ia memang mampu menyajikan ulasan secara kritis dan tanpa tedeng aling-aling membuka kedok “lawan tulisannya”.

Sementara itu, Anis Matta, yang tulisannya banyak digemari aktivis tarbiyah dan simpatisan PKS, lebih kental dengan nuansa sastra dan menebar optimisme. Tulisannya tidak banyak mengungkap teori ataupun menyajikan fakta sosial, tetapi reflektif dan berpikir jauh ke depan. Ia mampu menyajikan optimisme dalam tulisan-tulisannya, dan bukan kritik. Selain itu, karakter tulisannya lebih dominan nuansa sastra dan romantik. Wajar jika kemudian banyak aktivis dakwah kepincut dengan tulisan-tulisannya.

Adapun tulisan-tulisan Hamka, penuh dengan nuansa sastra dan dengan gaya bercerita, namun ada semangat tersendiri yang ia tawaran. Ia menulis pendapatnya dengan enak dibaca, penuh spontanitas, dan kadang diselingi dengan pesan moral atau pantun khas Minang. Satu hal yang harus kita akui, pengetahuan sejarah Hamka luar biasa. Ketika menulis, ia banyak mengemukakan fakta sejarah yang menguatkan argumen beliau. Wajar jika negeri ini mengakui beliau sebagai ulama-sastrawan-sejarawan yang besar.

Yusuf Maulana,  khas dengan gaya kepenulisannya yang memainkan diksi dan penuh sinisme sosial. Gaya tulisannya analitis, tapi tidak banyak menyinggung teori. Ketika menulis tentang fakta sosial, gaya tulisannya dibalut dengan sedikit nuansa sastra, penuh permainan diksi kata, dan sedikit banyak ditulis dengan gaya bercerita.

Sukardi Rinakit, pengamat politik, banyak menulis dengan gaya bercerita dan kadang-kadang diselipi istilah bahasa Jawa. Gaya-gaya berfilsafat juga terlihat dalam beberapa tulisan beliau. Kadang melambangkan sinisme sosial dan kritik atas tindakan-tindakan politik. Penuh makna. Ia tidak banyak berputar dalam diksi kata, tapi dengan logika tulisan yang agak rumit dan diselingi sedik analisis. Itu mencirikan identitas tulisan seorang Sukardi di berbagai koran.

Atau, ada contoh lain. Seorang teman memiliki gaya kepenulisan yang sangat jauh berbeda dengan gaya kepenulisan saya. Ia lebih suka esai-esai yang dibalut dengan nilai sastra. Tentu dengan permainan diksi yang kentara. Sementara saya lebih suka menulis analisis dengan logika yang sistematis. Tidak memutar-mutar diksi kata. Langsung pada substansi permasalahan. Improvisasi hanya pada balutan kata-kata yang ada. Itupun dengan model bahasa kajian dan kadang sedikit berteori. Setidaknya, itu yang saya lakukan ketika mulai menulis lima tahun silam.

“Gaya” kepenulisan akan sangat ditentukan oleh kecenderungan penulisnya untuk menulis di mana dan untuk apa. Saya memulai karier kepenulisan dengan menulis opini di koran. Selama bertahun-tahun, gaya tulisan opini itu terbawa bahkan ketika saya menulis untuk keperluan lain. Sementara itu, teman yang saya ceritakan di atas memulai karier kepenulisannya dengan menulis esai. Itu juga mempengaruhi karakter tulisannya.

Selain itu, bahan bacaan juga menentukan “gaya kepenulisan” seorang penulis. Saya dulu banyak belajar dari tulisan-tulisannya Eep Saefulloh Fatah atau analisis beberapa orang pengamat yang menulis di koran. Akibatnya, tulisan saya ketika awal-awal menulis banyak terpengaruh gaya beliau. Walaupun, dari waktu ke waktu gaya kepenulisan yang saya temukan sendiri sudah mulai membentuk identitas kepenulisan.

Lantas, bagaimana kita menemukan gaya kepenulisan kita? Hal paling mudah yang bisa dilakukan adalah dengan membiasakan diri menulis. Paling tidak, dengan membiasakan diri menulis secara rutin, karakter tulisan akan sedikit demi sedikit meresap masuk ke dalam diri. Hingga, ketika sudah terbiasa, menulis akan menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Bahkan, bisa menjadi sebuah kegemaran dan kebutuhan.

Membiasakan menulis berarti bersegera untuk mulai menulis. Sebab, hal paling sulit dalam menulis justru adalah memulai untuk menulis. Mulai menulis berarti mulai menuangkan apa yang ada di dalam pikiran ke dalam tulisan. Selanjutnya, mulai memilih, model tulisan apa yang “enak” dari kepenulisan kita.

Pertanyaannya, bisakah gaya menulis itu berubah? Jawabnya bisa saja. Gaya menulis ditemukan dengan pembiasaan seorang penulis. Dari waktu ke waktu, karier kepenulisan itu berproses. Dan tidak menutup kemungkinan adanya proses perubahan gaya menulis ketika tiba di suatu titik. Ini tergantung pada dinamika dan keseriusan seseorang ketika menjadi penulis.

Maka, mari menemukan gaya kepenulisan dengan mulai mentanfidzkan diri sebagai seorang penulis. Tulislah gagasan anda, sesederhana apapun gagasan itu. Yakinlah, dengan gaya menulis, menjadi tidak relevan bagi kita untuk men-judge apakah tulisan seseorang itu baik atau tidak. Sebab, gaya menulisnya pun pasti berbeda. Yakinkan saja diri anda, bahwa menulis itu mudah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: