Kritik atas Demokrasi

Logika demokrasi kompetisi elit, sebagaimana dipaparkan Huntington memaknai demokrasi sebagai sebuah pengaturan kelembagaan, urusan elit, dan harus berdampak pada kesejahteraan ekonomi. Menurut Joseph Schumpeter, demokrasi harus memberikan efisiensi secara ekonomis, dan demokrasi mesti kompatibel dengan pasar. Artinya, demokrasi adalah proses bagaimana untuk mendapatkan legitimasi publik, dalam hal ini, people’s vote agar pasar berjalan secara optimal.

Apakah argumen tersebut dapat serta-merta kita terima? Tentu saja, ada beberapa kritik yang bisa diajukan terkait hal tersebut.

Pertama, Konsep competitive elitism yang menggunakan logika segelintir elit cenderung untuk menafikan pluralitas yang mengemuka di masyarakat. “Rakyat” di sini adalah kelompok masyarakat yang tidak punya akses langung pada sumber daya publik (kekuasaan) dan tidak melakukan peran-peran politik. Pendapat yang mereduksi konsep demokrasi dari rakyat menuju elit ini tentu akan dikritik oleh mereka yang menganut demokrasi langsung atau penganut demokrasi deliberatif yang mengutamakan adanya diskursus komunikatif dalam demokrasi.

Kedua, model perwakilan yang direduksi hanya menjadi perwakilan segelintir elit juga akan cenderung oligarkis. Penelitian Michels (1912) menyatakan bahwa kecenderungan organisasi ketika menjadi semakin besar adalah kecenderungan oligarkis. Dalam bahasa Michels, fenomena yang dikhawatirkan muncul dari kecenderungan tersebut adalah adanya anggapan bahwa “Le parti c’est moi”; “partai adalah saya”. Kritik yang perlu kita ajukan adalah, competitive elitism akan berdampak negatif pada struktur politik di masa depan, karena akan mengubah formula demokrasi ke bentuk oligarki atau personal rule.

Ketiga, Anggapan bahwa demokrasi hanya sesuai dengan kapitalisme terkesan simplistis dan overgeneralisasif, karena mengabaikan pengalaman di beberapa negara dunia ketiga yang tidak menganut sistem ekonomi pasar. Muncul kritik bahwa bisa saja teknokrasi tidak mendasarkan kebijakannya pada kepentingan publik (rakyat), tetapi untuk kelas yang ada di atasnya, alias oligarki yang telah terjalin rapi. Faktanya, demokrasi juga dapat kompatibel dengan negara yang menerapkan sistem ekonomi berbeda atau bukan kapitalis, semisal Brazil yang menerapkan popular democracy atau demokrasi partisipatoris.

Keempat, Demokrasi bukan hanya persoalan mengatur lembaga politik saja, tetapi lebih dari itu. Partisipasi dalam demokrasi tidak hanya diukur dari partisipasi yang sifatnya politis, tetapi juga partisipasi dalam bidang ekonomi, sosial, bahkan di sisi-sisi kecil seperti pendidikan. Untuk sampai pada level otonomi demokrasi, partisipasi publik distimulasi tidak hanya dalam partisipasi politik an sich, tetapi juga dalam bidang ekonomi, sosial, atau bidang-bidang kehidupan lain.

Catatan kritis di atas mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan: demokrasi tidak dapat hanya direduksi dalam segelintir elit, baik yang menamakan diri sebagai birokrasi sebagai organisasi politik atau teknokrasi sebagai instrumen ekonomi pasar. Demokrasi juga perlu melibatkan partisipasi publik dalam skala yang lebih luas, tidak hanya dalam persoalan politik, tetapi juga persoalan non-politik. Untuk itu, model competitive elitism dalam demokrasi perlu dikomparasikan dengan model lain. Persoalan elit dan massa akan sangat banya kita temukan dalam diskursus pasca-Marx yang menitikberatkan pada kedaulatan rakyat dan kritik atas kapitalisme. Jangan percaya pada monodiskursus dalam demokrasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: