Mendobrak Langit-Langit Kaca

“Jangan-jangan kesetaraan gender itu utopia?” itu pertanyaan saya, kenapa? Seabad lalu . Kartini menciptakan emansipasi perempuan. Kini kaum perempuan telah mengambil peran di semua bidang, baik di bisnis, politik, maupun aktivitas sosial laliannya. Perempuan yang memperoleh gelar doctor kini mencapai jumlah yang besar dibanding masa sebelumnya, perempuan yang menjadi professional di perusahaan juga menapak karier ke atas. Mereka adalah produk kesetaraan gender di dalam rumah dan di luar rumah.

Namun, apa yang terjadi seperti yang ditulis Adevrtising Age (2009), di AS yang praktik bisnis dan demokratisasinya begitu berkembang, persepsi public masih menempatkan perempuan di rumah. Dalam tradisi gender kita, perempuan juga diberi sebutan wanita. Denotasi dari kata ini adalah “wani ditata” atau berani ditata sehingga menimbulkan konotasi perempuan jarang diposisikan sebagai sosok yang berada diatas. Ia selalu berada dibawah untuk menerima perintah. Dan sampai sekarang persepsi itu masih lekat di masyarakat.

Banyak penelitian tentang lambatnya kaum perempuan meraih posisi manajemen puncak. Tharenou (1998) misalnya, mengatakan, perempuan yang ingin mencapai posisi puncak di manajemen sering kali gagal karena penghambat yang tak kelihatan. Penghalang itu ibarat langit-langit kaca (glass celling). Meski kesamaan derajat disuarakan sejak puluhan tahun silam, stereotype perempuan nomor dua masih ada.

Padahal, perempuan sebenarnya memiliki banyak kelebihan yang sudah pasti tidak dimiliki lelaki. Bahkan, dalam konteks mengembangkan karier, perempuan memiliki apa yang tidak bisa dilakukan oleh lelaki.

Kaputra dalam bukunya female brand, memaparkan kelebihan atau setidaknya kesamaan perempuan dan laki-laki. Diawali dengan otak. Misalnya, Kaputra mengakui bahwa berdasarkan penelitian, ukuran otak perempuan 9 persen lebih kecil dari rata-rata otak laki-laki. Namun, jumlah sel otaknya hamper sama. Jaringan dan pilinan sarafnya juga lebih padat sehingga memungkinkan perempuan melihat suatu persoalan dalam tinjuan yang lebih luas dibanding lelaki. Hal, lainnya, seperti diketahui, otak manusia terdiri dari otak dan kiri. Nah, dalam memproses stimulus berupa pernyataan (verbal), gambar dan emosi, lelaki hanya menggunakan satu otak, sedangkan perempuan menggunakan keduanya.

Penggunaan otak kanan dan kiri ini sangat penting manakala seseorang harus mengambil keputusan, perempuan mempunyai orientasi yang luas. Pemimpin perempuan lebih menyukai hal yang bersifat melatih dan menasehati, kerja sama, dan melibatkan banyak orang, serta kemampuan komunikasi interpersonal yang mempesona.

Untuk mencapai sebuah keberhasilan, kaum perempuan bagaimanapun caranya harus membangun karakternya melalui personal brand untuk berhasil.Banyak hal yang perlu dilakukan perempuan dalam branding. Namun, yang membuat unik dalam branding perempuan adalah kemampuan me-leverage “media” untuk membangun gambaran identitas. Dengan menggunakan paradigma ini, kaum perempuan dapat melangkah sederap bersama kaum lelaki dengan segala kehormatan dan keanggunannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: