Teh Botol Sosro: Inovator dan Pelopor

“Teh Botol Sukses karena berani Melawan arus,

bersedia menjadi inisiator,

Memiliki determinasi tinggi, cerdas, dan

Penuh perhitungan.”

Ketika membaca sebuah artikel karya Nur Kuntjoro yang merupakan seorang former COO Tupperware Indonesia, akan kekagumannya pada kesuksesan teh botol sosro, yang mana notabanenya juga sebagai tempat dimana saya bekerja. Akan tetapi lepas dari semangat corps korporasi, kita memang harus mengakui kehebatan dan ketangguhan brand minuman siap saji ini. Bagaiamana tidak, karena sang pendirinya telah menginspirasikan pada kita akan sebuah pemikiran – pemikiran luar biasa, pemikiran – pemikiran yang lepas dari batas konvensional, atau sering kali disebut sebagai thinking out of the box.

Kisah sukses industry minuman ini terjadi pada kurun waktu tahun 1970-an. Saat itu, minuman ringan merek – merek internasional sudah merambah pasaran. Coca Cola sudah meluncurkan fighting brand-nya, Fanta dan Sprite. Greenspot dan Seven Up masih kokoh menjadi andalan PLI (Pabrik Limun Indonesia), dan masih ada beberapa merek lain lagi.

Seorang pengusaha teh dari Slawi – Jawa Tengah mempunyai pemikiran inovatif untuk meluncurkan produk teh siap minum yang dikemas dalam botol. Untuk masa itu, pemikiran tadi dianggap “aneh” oleh para ahli pemasaran. Alasannya, karena dalam sejarah tidak ada teh yang diminum dari botol. Teh selalu diminum panas-panas segera setelah diseduh, dengan atau tanpa gula. Bahkan di Jawa Tengah terkenal slogan nasgitel untuk mendefinisikan teh yang nikmat, yaitu panas), legi (manis), dan kenthel (kental). Teh yang nikmat adalah teh yang manis, panas dan kental. Memang, sudah ada warung – warung makan yang menyuguhkan es teh, tapi popularitas es teh masih jauh dibawah popularitas es sirup.

Konon, ada juga riset konsumen yang menjajagi tingkat acceptane terhadap teh yang dikemas dalam botol. Konon pula, hasil riset mengidikasikan bahwa sebagian besar konsumen tidak berminat meminum teh dari kemasan botol. Mereka hanya ingin minum teh yang diseduh, dinikmati ketika hangat, bahkan ketika masih panas. Pasar juga mengidikasikan bahwa kenikmatan minum teh seperti yang lazim dilakukan bisa diperoleh oleh siapa saja dengan harga murah.

Pengusaha teh asal Jawa Tengah tersebut, bukannya tidak mendengar pendapat – pendapat itu, bukannya tidak mengetahui hasil riset. Tapi langkahnya tidak surut. Dia tetap kokoh dengan pemikirannya yang menyeruak dari kotak pemikiran konevensional. Dia tetap kokoh dengan pendiriannya yang menentang arus. Namun dia juga sadar bahwa perlu usaha mega besar untuk membuat the botolnya sukses dipasaran.

Dia sadar bahwa konsumen perlu di educate untuk menikmati teh botol. Dan ini memerlukan biaya besar serta waktu yang lama. Ini memerlukan kerja keras. Memerlukan product availability atau spreeding (ketersediaan produk) yang luas. Memerlukan jaringan distribusi yang kuat, yang berarti juga harus meng-educate para pelaku distribusi, yakni para pengecer, grosir, bahkan para pedagang asongan. Untuk mempercepat semua proses tersebut, pengusaha teh ini memilih nama generic untuk produknya: teh botol, ditambah company identity-nya Sosro. Pada saat itu seungguh tidak produk yang diberi nama generic. Tidak ada kecap yang diberi nama kecap. Tidak ada mi yang diberi merek Mi. Tidak ada sirup yang diberi nama Sirup. Pemilihan nama generic ini pun mencerminkan keberanian sang innovator dan pelopor yang hebat tadi.

Anda sekarang yang berumur kurang dari 35 tahun mungkin tidak bisa ikut menyaksikan betapa gigih pengusaha ini memperkenalkan produknya di pasaran. Iklan bellow the line bertebaran dimana-mana. Tenda yang berbentuk seperti paying yang lazim disebut awning dengan logo teh botol sosro diproduksi secara kolosal dan disebar secara spektakuler. Akhirnya, produk itu sukses luar biasa. Mudah ditebak, pengusaha lain berbondong – bondong ikut membuat teh dalam kemasan botol. Kompetisi bak jamur di musim hujan. Namun, Teh Botol Sosro tetap tegak tak tergoyahkan. “Being the first you get so many previlage,” kata para ahli pemasaran. Apalagi untuk menjadi pemain dalam industry ini, diperlukan modal sangat besar, menginangat sifatnya yang low margin – high volume.

Selain itu, biaya distribusinya sangat mahal karena produknya berat dan bulkey, sedangkan harga per unit sangat rendah. Pengusaha ini sukses karena thinking out of the box, berani melawan arus, siap menjadi inisiator, punya determinasi tinggi, cerdas, penuh perhitungan, tidak mudah menyerah, berani menghadapi resiko, serta mau banting tulang.

3 Komentar (+add yours?)

  1. Tupperware Indonesia Promo
    Sep 22, 2010 @ 13:42:28

    Teh Botol Sosro memang Jempol… salut buat pendiri Teh Botol Sostro….

    Balas

    • aank1985
      Mei 15, 2011 @ 02:17:51

      Terima Kasih …
      Salut juga buat tupperware Indonesia yang telah berhasil membangun brand awarnessnya dg strategi luar biasa.

      Balas

  2. dodi jaenudin
    Apr 26, 2011 @ 08:27:51

    Dijual perkebunan teh luas tanah 900Ha, Net 56M.
    Nama dari sertifikat jadi kepemilikan orang yang membeli perkebunan tersebut. Cuman Tanah Seluas itu harus dipergunakan untuk usaha tersebut, tapi kalo orang yang membeli seruis biar mereka hubungi langsung sama pemilik atau sama pak bowo.
    Tahun 2012 habis, tapi harga yang ditawarkan sudah termasuk perpanjangan HGU, bisa diurus jadi HM, Asal punya uang.
    “Mau di Urus jadi HM?” Yang penting punya uang..
    Intinya harga tersebut adalah harga masih murni HGU, Kalo mau jadi kepemilikan harganya engga seperti itu. Tapi akan dibantu untuk pengurusan jadi Hak Milik….
    Harga Net 56M…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: