KETERBUKAAN BUDAYA

Apabila pada masa lalu orang cenderung terkungkung dalam budayanya sendiri dan tidak acuh terhadap budaya orang lain, kini orang perlu hidup dan bertumbuh kembang dalam suatu budaya global tanpa perlu kehilangan jati diri merek sendiri. Di alam keterbukaan budaya, yang justru paling diperlukan adalah pengenalan dan keyakinan pada diri sendiri, termasuk budaya dan jati dirinya.

Orang perlu yakin pada kebesaran budayanya tanpa perlu merendahkan budaya orang lain. Mereka perlu berkembang menjadi sosok yang lebih cosmopolitan, tetapi tetap menghargai tradisi. Mereka perlu mengaktualisasikan kembali budaya mereka dalam konteks dunia kontemporer.

Di Indonesia, orang perlu mempertanyakan kembali praktik kebersamaan, kesetiaan, dan kekeluargaan yang selama beberapa tahun terakhir telah diintepretasikan secara menyimpang menjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme negative dan merugikan masyarakat. Kita perlu mengartikulasikan kembali makna budaya yang selama ini dihayati. Kita perlu membuka diri untuk menerima bahwa bangsa lain bisa saja memiliki budaya yang berbeda, tetapi pada saat yang sama kita perlu menghargai budaya orang lain. Kita juga perlu menyadari bahwa berbagai unsure budaya kita perlu diselaraskan artikulasinya dengan perkembangan dunia, termasuk perkembangan dunia bisnis dan dunia kerja yang terjadi diseluruh dunia.

Pada saat yang sama, kita juga perlu membiasakan diri bekerja di dalam tatanan budaya yang didasari oleh tata nilai yang universal, seperti keterbukaan, kejujuran, keadilan, dan nondiskriminasi, karena kerjasama internasional yang sangat dibutuhkan pada masa depan, didasarkan pada nilai – nilai tersebut.

Di tingkat perusahaan, budaya keterbukaan yang dialogic perlu menggantikan budaya petunjuk dan pengarahan yang merupakan perwujudan hubungan patron-klien di tempat kerja. Pekerja diharapkan patuh dan sepenuhnya percaya kepada pucuk pimpinan perusahaan, tanpa kehilangan sifatnya yang kritikal.

Pada saat yang sama, mentalitas berlebih (abundance mentality) perlu menggantikan mentalitas keterbatasan (scarcity mentality) dengan cara mendorong kebiasaan berbagi (sharing) diantara sesame anggota perusahaan dan diantara perusahaan dengan mitra bisnisnya.

Fokus manajemen orang (people management) yang semula ada pada peningkatan prestasi individu pekerja perlu pula digantikan dengan cara lebih memperhatikan prestasi tim. System imbalan perlu pula disesuaikan sehingga lebih mencerminkan pergeseran fokus pada kerja tim yang mampu memunculkan keberdayaan kolektifnya.

System manajemen yang semula beroreintasi pada hasil dan keluaran, kini perlu lebih diorientasikan pada perbaikan proses dan penyesuaian perilaku. Untuk mewujudkan semua ini diperlukan budaya kerja transformasional yang dilandasi rasa saling percaya untuk melengkapi cara bekerja transaksional yang selama ini dipraktikkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: