KONTEKS DUNIA BISNIS YANG BERUBAH

Pada penghujung abad ke-20an dan selama tahun awal – awal abad ke 21, dunia bisnis mengalami banyak perubahan yang belum ada presedennya pada masa lalu. Asia Timur mengalami krisis ekonomi yang dahsyat. Negara – Negara “macan” dari Asia Tenggara mengalami krisis ekonomi yang berkepanjangan sebagai dampak dari kecenderungan pada masa lalu untuk membangun dengan bertumpu pada bantuan Negara lain dan badan – badan multilateral, seperti Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia serta meninggalkan budaya menabung yang pada masa lalu menjadi tumpuan kehidupan social economic yang tangguh pada zaman kolonial.

Harga minyak bumi sudah mendekati dari $150 per barel pada pertengahan tahun 2008, sekitar enam kali lipat harga pada tahun 2000. Dunia mengalami resesi besar pada tahun 2008 dan hingga saat ini belum dapat sepenuhnya keluar dari cengkeraman resesi tersebut. Sebaliknya, meskipun mengalami hantaman resesi, Cina (bersama India dan Indonesia) dapat menunjukkan dirinya sebagai suatu kekuatan ekonomi yang tidak dapat diabaikan lagi oleh Dunia Barat. PetroChina telah menjadi perusahaan terbesar di Dunia dengan nilai modal diatas US$1triliun. Barang buatan Cina dengan harganya yang murah dan kualitas yang memadai, kini membanjiri pasar di seluruh Dunia. Pada saat yang sama, Indonesia dapat mempertahankan laju pertumbuhan ekonominya pada tingkat 4,0 – 4,5% pada waktu banyak Negara industry mengalami pertumbuhan negative. Garuda memperoleh laba yang besar, pada waktu perusahaan penerbangan terkemuka lainnya merugi. Inilah tantangan dan sekaligus peluang bagi Indonesia. Dapatkan kita menghadapinya dengan baik dan memperoleh manfaat dari keadaan ini? Inilah tantangan besar bagi kita yang tentunya perlu dihadapi dengan cara piker dan kerja yang baru.

Dunia diguncang oleh peristiwa terror raksasa terhadap World Trade Center di New York pada 11 September 2001 yang menimbulkan dampak besar pada dunia bisnis di seluruh dunia. Pada saat yang sama kita juga menyaksikan betapa perusahaan multinasional yang besar menjadi lebih besar melalui merger, seperti merger Chevron-Texaco, Exxon-Mobil, Hewlett-Packard-Compaq. Kita juga melihat bagaimana perusahaan rokok kretek Indonesia yang begitu terkenal, Sampoerna, yang produk-produknya sudah puluhan tahun dihisap oleh semua lapisan masyarakat di Indonesia, kini sudah diambil alih oleh perusahaan rokok multinasional yang dikenal karena Marlboro Man-nya. Merger dan akuisisi ini memunculkan perusahaan yang bersekala rakasasa yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya karena kedua pihak dahulunya bersaing ketat, kini justru bekerja sama membentuk satu satuan usaha yang baru.

Tetapi pada saat yang sama Indonesia berhasil keluar dari krisis ekonomi berkat ketangguhan usaha kecil dan menengahnya. Semua peristiwa ini, baik yang menyangkut dunia bisnis secara langsung maupun tidak langsung, menciptakan lingkungan bisnis yang penuh gejolak serta mengandung banyak ketidakpastian dan paradox. Bagi sebagian orang, keadaan ini dirasakan sebagai kacau (chaotic), mengancam, dan menakutkan, tetapi bagi banyak orang lain, konteks ini seperti menawarkan peluang untuk maju.

Dunia usaha kini merasakan bahwa lingkungan usaha yang dihadapinya terus berubah dengan makin cepat tanpa pola yang jelas. Berbagai perubahan itu meliputi berbagai aspek kehidupan, baik yang bersifat ekonomi, social, budaya, maupun politik. Berbagai pakar mencoba menjelaskan apa yang menjadi biang keladi dari berbagai perubahan tersebut. Alasannya seperti globalisasi ekonomi, diterapkannya system ekonomi pasar, dan perkembangan teknologi sering dipandang sebagai system kausal dari perubahan yang terjadi terus menerus tanpa pola yang jelas di dunia bisnis kontemporer.

Anggapan yang baru dikemukakan ada benarnya, tetapi jika dikaji secara lebih mendalam terlihat bahwa semua perubahan itu adalah akibat dari perubahan dari peran, kebutuhan, harapan, dan selera manusia. Hal ini dapat dimaklumi karena gejolak yang terjadi dalam dunia usaha adalah konsekuensi dan ditimbulkan oleh ulah dan perilaku manusia dalam usaha mereka mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik.

System kausal perubahan yang sering terlupakan adalah yang terkait dengan proses pendewasaan yang dialami persuahaan yang bersangkutan. Banyak perusahaan gagal bertumbuh kembang karena perusahaan itu tidak mampu menyalurkan dinamika dan potensi internalnya dengan baik. Perusahaan – perusahaan itu terbelenggu oleh kebiasaan lama yang dominan pada waktu mereka berada dalam kondisi awal perkembangannya yang membawa mereka dengan sukses ke kondisi saat ini. Banyak perusahaan mengalami “pubertas” tanpa memahami dengan baik apa yang perlu dilakukan pada waktu mereka berkembang dan beranjak dewasa.

Perubahan yang terjadi di dunia usaha maupun didalam perusahaan sendiri, bukan saja menimbulkan berbagai tantangan dan situasi baru, melainkan juga menimbulkan berbagai paradoks. Paradoks itu berupa perkembangan didalam tatanan ekonomi dan bisnis yang saling bertolak belakang. Terjadi pula perubahan pada dinamika internal perusahaan yang menyertai proses pendewasaannya. Perkembangan innersia internal akan berkontribusi besar pada perkembangan usaha, jika arah dan pola perkembangan itu selaras dengan tuntutan perkembangan ekstrenal yang dihadapi oleh perushaan yang bersangkutan. Tidak ada resep yang dapat diberlakukan untuk mengatasi semua persoalan perubahan ini. Meskipun demikian, kita dapat melihat pula bahwa ada beberapa karakteristik umum yang perlu dimiliki suatu perusahaan, bila perusahaan tersebut mau berhasil di masa depan.

Naisbitt (1994) melihat paradoks global itu menjangkau semua bidang kehidupan diseluruh pelosok dunia. Akan tetapi, yang paling penting adalaha kenyataan bahwasannya semua perubahan itu akan menempatkan orang pada posisi yang makin penting di dunia bisnis yang bergejolak ini.Manusia akan memegang posisi sentral di dalam gejolak lingkungan bisnis yang berubah dan paradoks tersebut, karena untuk mendapatkan jalan keluar dari kondisi ini diperlukan banyak usaha dan inisiatif individual yang digalang dalam suatu kerangka dan semangat kerja yang sinergistik. Hanya manusia, dengan rasionalitas yang penuh daya analisis dan inovasi, semangat yang penuh gelora, motivasi dan inisatif, serta hati nurani yang besih dan penuh timbang rasa yang mampu memanfaatkan kondisi paradoksal itu sebagai peluang bisnis yang menguntungkan semua pihak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: