Trilogi: Kehidupan dan Kematian Perusahaan

Bukan hanya sebuah novel macam lord of the ring atau laskar pelangi saja yang dapat menghadirkan kisah trilogy. Jim Collins seorang perisat dan penulis buku bisnis kenamaan juga telah berhasil menyeslaikan epilognya dengan mempersembahkan buku How The Mighty Falls sebagai  epilog dari karya –  karyanya sebelumnya, good the great dan Built to Last.  Ketiga buku tersebut merupakan sebuah kisah epik dari perjalanan dan perkembangan perusahaan – perusahaan di dunia.

Di dalam Good to Great, Collins member kita peta bagaimana perusahaan dengan kinerja yang bagus kemudian melejit menjadi hebat dengan kinerja yang minimal tiga kali lipat dari rata-rata pasar. Esensi yang dia temukan adalah perubahan kinerja ini didasari kepemimpninan yang ibarat ilmu padi, semakin sukses semakin menunduk, pemimpin yang mampu membangun tim eksekutif yang mempunyai nilai dan karakter yang cocok dan bersama-sama mereka menentukan tujuan dan focus kompetitif (hedgehog) perusahaan.

Kepemimpinan seperti itu, yang dia namakan level 5 leadership, menjadi pemicu energy yang ditujukan kepada kepentingan institusi dan bukan kepada kepentingan pribadi dang pejabat.. dari titik tolak ini, dia akan membangun budaya eksekusi didalam institusinya untuk secara konsisten mengimplementasikan strategi perusahaan dengan disilpin yang kuat. Jika proses transisi ini tercapai, perusahaan akan menjadi a great company dengan kinerja yang hebat.

Lalu bagaimanakah kinerja yang tinggi ini dapat dipertahankan? Dia memberikan jawabannya melalui prinsip yang tertera di Built to Last : Perkuat perusahaan sehingga tidak tergantung pada sang pemimpin, temukan makna (misi dan nilai) perusahaan yang tidak sekedar terfokus kepada laba dan sukses pribadi, pertahankan makna perusahaan tetapi dorong terus angin perubahan dengan Big Audicious Hairy Goals (BHAGs) yang didasari focus kompetitif perusahaan.

Di buku ketiganya ini, Collins menagatakan kepada tim risetnya, “we turning to the dark side” (mereka bukan akan meneliti hal positif apa yang membuat perusahaan berhasil, tetapi hal negative apa yang bisa membuat perusahaan gagal).

Disini Collins menyatakan bahwa mencari sebuah kerangka untuk menerangkan bagaimana perusahaan menurun kinerjanya lebih sulit daripada menacari kerangka bagaimana membuat perusahaan menanjak, karena lebih banyak cara untuk gagal daripada sukses. Namun dia memeberikan apa yang dia namakan “kerangka yang berguna” untuk para pemimpin yang ingin mencegahnya atau membalikkan kinerja yang menurun.

Tahap awal penurunan sering susah dideteksi karena kinerja perusahaan masih baik, tetapi indicator dini  yang terlihat adalah adanya kesombongan karena sukses, merasa sukses memang sepatutnya mereka dapatkan, namun seringkali hal ini menyebabkan mereka lupa pada fokus kompetitifnya.

Tahap kedua How The Mighty Fall adalah “Mengejar target lebih besar tanpa disiplin”. Disini terlihat pertumbuhan seakan-akan harus dikejar tanpa melihat batas kemapuan internal yang ada. Yang penting harus menjadi lebih besar (bukan lebih baik). Tetapi kekurangan talenta dalam posisi yang diperlukan, pengendalian biaya berkurang, birokrasi bertambah, dan kepentingan pribadi menjadi lebih penting daripada kepentingan perusahaan. Semua perusahaan pasti ingin tumbuh, tetapi pertumbuhan harus dilaksanakan dengan disiplin yang ketat.

Tahap ketiga di namakan “Mengingkari resiko dan bahaya”. Dalam tahap ini, semakin kelihatan turunnya kinerja dan lebih sering hal-hal positif yang dikedepankan, sedangkan hal yang negative tidak banyak dibedah. Kemudian muncul target dan pertruhan perubahan yang besar tanpa validasi yang kuat, dinamika tim mulai tampak menurun, banyak reorganisasi dan kesalahan yang dilimpahkan ke pihak eksternal.

Dua tahap terakhir adalah “mencari jalan keluar” dan “menyerah menjadi tidak relevan atau mati”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: