Mempertanyakan Relevansi APEC

Di tengah krisis ekonomi serta kekhawatiran akan terjadinya resesi dunia, memang sulit bagi kita untuk memikirkan APEC dan maknanya bagi Indonesia. Pertemuan APEC di Kuala Lumpur baru-baru ini sekali lagi memperlihatkan simbol kerja sama yang khas, dengan masing-masing kepala negara mengenakan kemeja batik Malaysia yang berpadu rancak dengan warna hijau daun kelapa. Namun panorama ceria itu tidak menutup kenyataan bahwa para kepala negara berdiri kaku, bahkan saling membuang muka.

Padahal, relevansi APEC sedang dipertaruhkan, dan pada saat ini ada tiga pertanyaan pokok yang perlu dikaji secara mendalam. Pertama, relevansi APEC bagi komitmen negara-negara anggotanya terhadap “Sasaran Bogor”, yaitu perdagangan dan investasi bebas dengan tenggat waktu tahun 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara sedang berkembang. Komitmen ini dapat berubah karena krisis ekonomi telah menyebabkan proses liberalisasi dan globalisasi dipertanyakan. Ternyata, program peningkatan liberalisasi kolektif di sembilan sektor, yang disebut sebagai Early Voluntary Sector Liberalization (EVSL), tak juga dapat disepakati.

Di samping itu, salah satu negara yang paling mempersoalkan liberalisasi justru adalah tuan rumah APEC, Malaysia, yang telah melakukan kontrol devisa. Hong Kong, yang selama ini dianggap jagoan ekonomi pasar, juga melakukan intervensi di pasar modalnya. Walaupun tidak tercapai kesepakatan untuk program EVSL, tapi yang menggembirakan ialah tidak ada anggota APEC yang menarik diri dari komitmen liberalisasi. Bahkan, ada seruan untuk mempercepat negosiasi secara menyeluruh (broad-based) di forum multilateral WTO. “Good news” lainnya adalah langkah-langkah Malaysia tidak disambut dengan melakukan de-liberalisasi. Sebaliknya, ada kemajuan dalam proses liberalisasi di masing-masing negara, yang merupakan ciri khas kawasan APEC. Cile akan menurunkan rata-rata tarifnya dari 11 persen menjadi 6 persen dalam kurun waktu 5 tahun. Tiga negara di bawah program IMFKorea, Thailand, dan Indonesiajuga memiliki program liberalisasi dan reformasi yang sangat komprehensif.

Negara anggota yang lain juga diperkirakan melakukan penyesuaian sebagai respons terhadap krisis. Maka, proses liberalisasi melalui wadah APEC diharapkan dapat memberi kepercayaan kepada negara anggotanya agar tetap pada komitmen ekonomi terbuka, dan mencegah kecenderungan proteksionisme dari negara maju. Kendati bagi Indonesia liberalisasi tanpa basis kelembagaan dan kapasitas yang menunjang bisa menyebabkan krisis, patut juga disimak bahwa dalam mengatasi krisis ekonomi kini, komitmen pada liberalisasi ekonomi juga perlu dipertahankan. Tentunya, dampak buruk liberalisasi, seperti arus modal jangka pendek, tetap harus diantisipasi.

Kedua, relevansi APEC melakukan respons terhadap krisis ekonomi yang melanda kawasan ini. APEC memang lahir dan besar dalam keadaan negara anggotanya semua tengah mengalami pertumbuhan pesat. Dalam kondisi pertumbuhan tinggi, negara-negara APEC tidak mampu melakukan respons yang tangkas untuk menangkal krisis. Maka, hanya para pemimpin APEC-lah yang diharapkan memberi solusi dengan cepat dan berani. Memang, pertemuan APEC di Vancouver pada 1997 hasilnya sangat tidak memuaskan dan tidak ada tindak lanjutantara lain karena waktu itu bahaya krisis belum sepenuhnya disadari. Bagaimana dengan hasil Kuala Lumpur? Ternyata, para kepala negara APEC juga tidak berhasil memberikan respons yang diharapkan untuk mengatasi krisis.

Penegasan dan prioritas yang ditetapkan para kepala negara memang sudah tepat, yaitu: jaringan sosial; penyempurnaan sistem keuangan internasional; memperkuat sistem perbankan nasional dan global yang memenuhi syarat prudensial internasional; pemantauan dan manajemen arus dana jangka pendek, termasuk penyempurnaan informasi yang harus disampaikan oleh hedge funds dan badan pengelola dana lain; juga pembentukan kelompok kerja dengan pihak swasta untuk menangani masalah utang dan manajemen risiko. Namun, masih sulit untuk menilai arti konkret kata-kata tersebut karena pelaksanaan dan proses realisasinya sangat tidak jelas.

Hasil konkret bukannya tidak ada, yaitu upaya membantu proses restrukturisasi perbankan dan utang swasta. Walaupun paket dan rinciannya belum jelas, AS telah menawarkan US$ 5 miliar dan diperkirakan akan ditambah US$ 5 miliar lagi oleh Jepang, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia. Bantuan ini dikaitkan dengan program restrukturisasi utang swasta dan perbankan, misalnya untuk dana garansi obligasi yang diterbitkan oleh negara-negara tersebutdalam rangka rekapitalisasi sektor perbankan. Hanya saja, jumlahnya kecil dan mekanismenya belum jelas. Ketiga, relevansi APEC di tengah krisis politik yang melanda berbagai anggotanya.

APEC tidak berpegang pada konsep “non-interference” dan bukan forum untuk membahas politik. Namun pertemuan APEC kali ini sangat diwarnai masalah politik, terutama karena penahanan atas diri Anwar Ibrahim, mantan orang nomor dua di negara jiran itu. Memang, pujian yang disampaikan Wakil Presiden AS, Al Gore, kepada kelompok reformis di Malaysia telah menjatuhkan martabat pemerintah yang kini berkuasa di negeri itu. Walaupun pesan Gore dianggap melampaui batas dan tidak diplomatis, tapi pesan itu sangat penting. Lagi pula, reformasi dan kebijakan ekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa komitmen untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bijaksana (good governance). Maka, APEC pun harus mendewasakan diri sehingga dapat lebih bersikap terbuka, bukan saja untuk membahas kebijakan ekonomi masing-masing negara, tetapi juga aspek politiknya. Terlebih dalam era globalisasi ini, ketika kebijakan yang diambil oleh suatu negara dapat mengimbas atau membawa pengaruh bagi negara lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: