Privatisasi Birokrasi Pemerintah

Tahun ini aku berencana untuk kembali mencoba keberuntunganku dengan mendaftarkan diri sebagai CPNS di Departemen Luar Negeri, sebagai seorang sarjana ilmu politik bisa bekerja di Departemen Luar Negeri memang merupakan sebuah impian yang di dambakan bagiku ataupun bagi orang-orang lain yang pernah duduk di bangku jurusan ilmu-ilmu yang mempelajari hubungan internasional.

Tahap pertama di mulai melalui pendaftaran online melalui web deplu. Pada tahap pertama ini prosesnya sedikit dapat berjalan mulus, ya walaupun kita harus mencobanya sampai beberapa kali di karanekan bandwith deplu.go.id yang sudah pasti  sangat terbatas bila harus melayani pendaftaran sekitar delapan ribu orang lebih. Proses pertama selsai, setalah itu kita di wajibkan untuk mengirimkan lamaran via pos yang sudah dilengkapi administrasinya.

Kelengkapan administrasi tersebut antara lain adalah; kelengkapan ijazah yang sudah di legalisir pajabat terkait, form pendaftaran yang telah di bubuhi materai enam ribu rupiah, CV, FC KTP, FC akta lahir, surat keterangan sehat dari dokter pemerintah, Surat Keterangan Catatan Kepolisian terbaru, Kartu Pencari Kerja terbaru, dan beberapa persyaratan lainnya. Kurang lebih itulah persyaratan administrasi yang harus di lengkapi sebelum kita melamar sebagai CPNS.

Karena saat ini aku sudah bekerja, sehingga waktu yang aku milikipun juga sangat terbatas, dan hari sabtu adalah  satu-satunya hari yang aku miliki untuk mencari dan memperoleh segala tiket masa depan untuk mengabdikan diri pada Negara ini. Dan Sabtu ini pun ku berharap semuanya dapat terselsaikan, kucoba bangun lebih pagi, dan berangkat menuju polsek untuk mengurus skck terlebih dahulu. Ternyata disana aku tidak sendirian, ada ratusan orang seperti aku yang ingin mengabdikan dirinya pada Negara atau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baek dengan menjadi pegawai negeri, entahlah apa saja yang ada di benak mereka, yang jelas kita sama-sama mencari skck dari kepolisian.

Ketika mulai memasuki polsek kulihat beberapa orang dengan berseragam polisi mondar-mandir di depan gerbang, dan saat ku mulai langkahku untuk memasuki polsek, beberapa orang berseragam tersebut menghampiriku dan bertanya padakau, “mau mengurus SIM atau STNK, mari kami bantu?” pandanganku pun jelas mengarah pada papan tulisan yang berbunyikan “dilarang menggunakan calo”. Aku abaikan tawaran mereka dan terus berjalan menuju ruang tempat mengurus SKCK. Ketika berada di dalam lingkungan polsek, terpampang sebuah tulisan dan semboyan yang sangat menggetarkan hati ini, “TIADA HARI TANPA TEMAN BARU” yang disusul dengan  tulisan “BAGIMU NEGERI JIWA DAN RAGA KAMI MENGABDI”, semangatku untuk ikut serta mengabdikan diri kepada Negarapun semakin berapi.

Namun saat aku mulai masuk ke ruangan dan menghampiri petugas administrasi yang berada di depan, tulisan-tulisan tadi sepertinya hanya omong kosong belaka, karena yang aku terima adalah pelayanan yang sangat mengenakkan dari sang petugas, seakan-akan kami ini adalah pelaku criminal atau apalah yang mereka anggap pada kami. Tapi karena aku sangat membutuhkan surat dan jasa dari mereka, aku pun tidak mau cari masalah dengan memprotes sikap pelayanan dari mereka. Yah karena aku memang yang butuh, sehingga inilah yang membuat mereka berfikiran “Kamu yang butuh aku kok” dan mereka pun lupa bahwa mereka ini adalah public service yang bertugas melayani masyarakat. Mungkin mereka betul juga, karena tugas mereka adalah untuk melayanai dan mengabdi pada Negara bukan pada masyarakat yang ber KTP kan WNI?

Segala persyaratan yang dibutuhkan untuk membuat skck sudah aku penuhi, dan ini masih jam Sembilan pagi, dimana jam pelayanan akan selsai pada pukul dua siang. Tapi apa kata mereka setelah aku mengajukan syarat-syarat administrasi tersebut, “Selesai hari senin siang ya”. Aku pun bertanya, “ga bisa selesai hari ini ya pak? Dan jawaban yang aku terima, “ga bisa, soalnya pekerjaan kami banyak jadi tidak bisa selesai hari ini”. Mungkin bila seorang  Konsumen dari jasa pemerintah bisa ga seh kita menerima alasan itu, mungkin bila itu adalah sebuah pelayanan dari sebuah perusahaan, sudah pasti perusahaan tersebut tidak akan seramai ini, dan pastinya tidak aka nada orang yang mau membutuhkan pelayanan dari mereka. Tapi apa mau dikata, kita yang butuh mereka dan tugas mereka adalah untuk mengabdi dan melayani Negara bukan pada masyarakat. Dan lihat saja pelayanan public yang selalu digembor-gemborkan oleh pejabatnya adalah gratis untuk masyarakat ini, ternyata tetap ada juga biaya administrasinya kok, untuk pembuatan skck baru dikenai biaya 25 ribu dan memperpanjang skck cukup 10ribu saja, jadi gratis dari mana?

Aku-pun masih ingat benar ketika pertama kali aku mendapatkan tugas jurnalistik, ketika itu aku mendapatkan tugas untuk meliput sidak Menteri Pendayaan Aparatur Negaya bersama Kaplori ke polsek-polsek yang berada di Jakarta. Ada suatu hal sangat-sangat menggelikan yang aku lihat waktu itu, di salah satu polsek Jakarta Utara ada sebuah spanduk besar yang bertuliskan “Selamat Datang Menteri Pendayaan Aparatur Negara dan Kapolri dalam acara Sidak…. “. Ternyata ada juga ya sidak yang dikoordinasikan terlebih dahulu? Dan ternyata selain melayani pada Negara tugas mereka tambah satu lagi, yaitu membuat Bapak-bapaknya senang.

Sudahlah, aku tidak mau menambah luka batin disitu, aku-pun beranjak pergi dari polsek untuk menuju ke Depatemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Sesaat sebelum aku pergi dari polsek ada satu kejadian yang setidaknya membuatku sedikit tersenyum, setidaknya masih ada seorang tukang parkir yang memberikan pelayanannya dengan sangat baik, dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik walaupun hanya mendapatkan imbalan seribu rupiah, dia menuntun motorku keluar dari tempat parkir yang berjubal ratusan motor, sembari tersenyum dia menyerahkan motor dan menanyaiku, “ngurus apa pak, sudah selsai?” ku jawab “belum pak, ga tau ney saya hanya mengurus perpanjangan skck saja masa ga bias selsai hari ini?”, dan dia pun menjawabnya dengan positif, “lagi banyak kerjaan mungkin mereka mas, karena dari kemarin memang banyak sekali orang yang mengurus skck untuk cpns”. Kalau saja ya orang-orang yang berada di dalam sana memiliki sikap dan nilai melayani seperti sang abang parkir ini?

Dengan membawa kekecawaan dari kantor polisi, aku berhapar di Depnaker ini aku dapat pulang membawa hasil. Yah ternyata Depnaker hari sabtu tutup. Dan yang aku temui disana hanya ada beberapa penjaga dan sebuah tulisan “biaya administrasi pembuatan kartu kuning atau kartu pencari kerja Rp. 10000”. Sepertinya memang ga ada yang gratis ya di negeri ini? Aku pun bertanya pada beberapa petugas di sana yang sedang bermain game di computer, “hari sabtu tutup ya pak, kalau hari biasa bukanya dari jam berapa sampai jam berapa?” dan jawabnya, “iya mas, sampeyan saja liburkan masa kita juga ga boleh libur, kalau hari biasa dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore”. Karena penasaran akupun bertanya, “memang jam kerjanya dari jam berapa samapai jam berapa pak?” dan aku pun mendapatkan jawaban ekspresi kekesalan mereka pada pertanyaanku. “sudah dikasih tau masa harus diperjelas seh mas!” Aku pun hanya dapat terheran,kok bisa ya Departemen – departemen yang memberikan pelayanan kepada masyarakat sipil di hari libur juga ikut libur, padahal masyarakat kebanyakan di hari – hari biasa bukannya juga harus bekerja untuk menafkahi keluarganya.  Dan waktu yang mereka miliki adalah pada hari sabtu dan minggu, sehingga kalau ada masyarakat yang sedang membutuhkan pelayanan jasa dari pemerintah karena ada keperluan-keperluan surat-surat yang telah ditentukan oleh pemerintah sendiri, masyarakatpun harus kembali mengorbankan dirinya lagi untuk keperluan pemerintah. Mungkin hal ini wajar ya bila kita hidup di suatu Negara yang tugas birokrasinya  adalah untuk melayani dan mengabdi pada Negara bukan pada masyarakat.

Huh…. Masih ada satu tempat lagi yang harus aku tuju, sesuai dengan rencanaku hari ini (Puskesmas). Ya, dan akupun segera meluncur ke puskesmas untuk mendapatkan surat keterangan sehat, disanapun kembali aku temui kejadian yang semakin menyesakkan dada ini. Dalam UUD 45 telah teramanatkan dengan jelas bahwa anggaran belanja negara untuk kesehatan adalah 20% dan rakyat miskin berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Tapi apa yang aku temui disana adalah biaya pendaftaran berobat di puskesmas sebesar lima ribu rupiah, mungkin ini memang nilai yang tidak terlalu besar bagi kita, tapi bila uang itu bagi rakyat miskin tentu hasil yang tidak mudah mereka peroleh, paling tidak untuk uang senilai itu mereka dapat menambah lauk atau sayur pada meja makanan mereka yang selalu kosong. Mungkin ini peringatan saja bagi masyarakat miskin di negeri ini, “orang miskin di larang sakit”. Karena tugas birokrasi di negeri ini adalah untuk melayani Negara bukan masyarakat.

Kejadian hari ini mengingatkanku akan segala hal yang telah aku pelajari di bangku kuliah tentang bagaimana membangun good government dan good governance, public service, reformasi birokrasi, atau teori-teori lainnya mengenai birokrasi dan juga pelayanan public. Sepertinya kata-kata webber dan teman-temannya memang hanya akan menjadi utopia di negeri ini, entah sampai kapan masyarakat di negeri ini akan terus terluka untuk mendapatkan kepuasan public yang optimal. Mungkin bila birokrasi pelayanan public di negeri ini perlu di privatisasikan dahulu agar dapat tercipta pelayanan public yang prima sehingga para petugasnya dapat berorientasi pada pelanggan (masyarakat) adalah yang utama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: