Kepemimpinan Pemuda

Leon Botstein terpilih menjadi Rektor New Hampshire’s Franconia College di tahun 1970 dalam umur 23. Tak pelak, penunjukkannya tercatat sebagai salah satu rektor termuda sepanjang sejarah di Amerika Serikat. Dia mengemban tanggung jawab melakukan turn around terhadap kondisi yang centang perenang di kampus tersebut. Kebijakan pembaharuan yang dilakukannya ternyata dimulai dari langkah pertama yang tidak lazim, “bebaskan kampus dari keliaran anjing!”.

Bulan Agustus tahun 2007 ini, Universitas Indonesia (UI) memiliki pimpinan baru. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dengan sebuah pergantian kepemimpinan di kalangan perguruan tinggi, hanya saja yang berbeda saat ini adalah UI memasuki babak baru perjalananya dibawah nahkoda salah satu putra terbaiknya yang masih dapat dikatakan muda belia. Prof Dr Gumilar menjadi rektor di usia 44 tahun atau rektor termuda dalam sejarah UI. Langkahnya di awal mirip dengan Botstein, hadirkan lingkungan yang bersih dan memiliki jalur sepeda di kampus. Benar adanya, bahwa hal-hal besar dapat dimulai dari langkah kecil yang sederhana.

Bagi UI sendiri, peremajaan kepemimpinan tidak saja menyentuh pucuk tertingginya karena kamu muda mulai mengambil alih estafet kepemimpinan di berbagai institusi dalam ruang lingkup universitas, Di fakultas ekonomi dan hukum sebagai contoh , dekan terbaru mereka bahkan belum berusia 40 tahun ketika dilantik, dibawahnya berbagai direksi dan pimpinan departemen di lingkungan fakultas dipenuhi oleh anak muda usia 30an bahkan akhir 20, sebagian dari mereka baru pulang menggondol Phdnya, mereka-mereka yang dipersiapkan menjadi pimpinan teras unversitas dan bangsa di masa mendatang. Dan hebatnya tidak ada keluh kesah dari para senior,jaman berubah paradigma pun berubah.

Di Universitas Paramadina telah dipilih pengganti sosok guru bangsa yang juga rektor universitas selama ini, Almarhum Nurcholis Madjid , seorang anak muda yang dulu dikenal sebagai sosok aktivis mahasiswa yang setelah itu melanglang buana memenuhi dahaga inteletualismenya. Anis Baswedan baru berumur 38 ketika harus mengambil tongkat estafet yang sedemikian berat dibebankan padanya terlebih lagi sosok Cak Nur sudah sedemikian menyatunya dengan sejarah perkembangan Universitas Paramadina.

Adakah universitas-universitas tersebut kekurangan sumber daya senior yang berpengalaman sehingga harus mempertaruhkan reputasi universitas yang telah puluhan tahun terbina baik di tangan tokoh-tokoh muda yang bagi sebagian orang dianggap “anak kemaren sore” sehingga tidak cukup berpengalaman untuk mengemban tanggung jawab yang besar.

Nampaknya permasalahannya bukan terletak di sana, karena yang menjadi pemicu adalah terdapatnya kesadaran bahwa sudah saatnya kaum muda diberikan kesempatan untuk beraktulisasi dan membuktikan diri, tidak saja “mendobrak pintu” tetapi menjaga dan memimpin manaejemn rumah. Universitas memang menjadi garda terdepan kesadaran akan perlunya bangsa ini mulai mempercayakan kaum mudanya untuk memimpin. Mereka adalah pihak yang paling siap untuk menjawab diskursus pemimpin muda di pucuk pimpinan, bukan sekedar wacana yang dikembangkan banyak pihak tetapi langsung diimplementasikan di lapangan.

Alasannya sederhana,  perubahan mendasar di negara ini selalu dimulai dengan reaksi kaum muda idealis ini terhadap permasalahan besar bangsa,  mengorbankan waktu, tenaga maupun nyawa. Selain itu, kesadaran bahwa kompetisi global memerlukan energi, kesegaran pemikiran dan kreatifitas yang tinggi yang sungguh tidak dapat diakomodir oleh kepemimpinan yang lambat, penuh paradigma lama apalagi mereka yang masih menyepelekan soal governance. Kepemimpinan yang akan cepat absolete dan sekedar menjadi penonton persaingan kompetitif global. Bukan sekedar soal teknis, tuntutan untuk potong generasi sudah lama dimasukkan seabagai wacana ebangsaan untuk memisahkan bangsa ini dari stigma kebobrokan yang dibawa generasi tuanya

Sheila Kinkade dan Christina Macy dalam buku “Our time is now : young people changing the world ” menekankan kembali bahwa abad 21 adalah abad kaum muda, hal ini ditandai dengan  semakin berperannya pemuda dalam perubahan dunia. Dapat dilihat dalam buku mereka yang menarik itu,  bagaimana puluhan anak muda di seluruh penjuru dunia berpendar memperbaiki dan merubah komunitasnya ke arah yang lebih baik, lebih banyak dari apa yang kaum tua bisa lakukan dalam perbaikan komunitas tersebut. Tak sedikit dari mereka yang dapat kita lihat jejaknya : para akademisi muda.

Dengan misi yang kurang lebih sama, World Economic Forum setiap tahunnya mengadakan sesi Young Global leader yang mengundang sosok calon pemimpin bangsa yang saat ini berusia di bawah 40 bahkan sebagian dari mereka masih berusia dibawah 30 tahun untuk duduk bersama mendiskusikan berbagai problema kemasyarakatan global, menyongsong dunia baru yang penuh dengan pemimpin-pemimpin muda.

Kepemimpinan itu menular,.  Bukti nyatanya adalah dengan kiprah kaum akademisi di dunia birokrasi. Mereka mencoba menjalarkan hal-hal yang baik dilakukan oleh dunia kampus ke dalam birokrasi yang bobrok. Sebagai contoh, Menteri Keuangan, Sri Mulyani gencar dengan implementasi reformasi birokrasi hari-hari ini, Ketua BPK,Anwar nasution mengguncang jagat birokrasi dengan gerakannya menelanjangi berbagai institusi yang korup. Ini sebenarnya sekedar  bukti bahwa governance itu memiliki sifat contagious jika dipegang oleh mereka yang tepat. Terbukti kiprah akademisi yang kuat dapat memecah utopia bahwa birokrasi tidak dapat dirubah dari dalam. Hanya saja dalam soal pucuk pimpinan tertinggi negeri ini perlu waktu untuk bisa ke sampai ke sana.

Padahal belajar dari negara lain, Amerika serikat misalnya, Roosevelt (42 tahun menjadi Presiden), JFK (43), Clinton (46) begitu juga Tony Blair (43) di Inggris adalah figur-figur yang tidak saja muda tetapi tersukses dalam menjalankan roda pemerintahan. Saat ini dunia menunggu kandidat muda lainnya untuk muncul,  Barrack Obama adalah salah satunya. Kalau dia bisa menang membuktikan bahwa  kebutuhan atas birokrasi yang masih segar sudah menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Kepemimpinan muda sangat dibutuhkan oleh bangsa ini, seperti banyak pengamat yang sudah memulai wacana Presiden muda untuk pemilu 2009. Negara ini yang oleh sebuah majalah internasional disebut sebagai “Negara paling sulit bagi  seorang Presiden” perlu darah muda dan pemikiran yang segar tidak saja unutuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan besar yang dihadapi bangsa tetapi juga untuk memutus generasi tua yang korup dan telah meninggalkan Indonesia dalam centang perenang.

Leon Botstein akhirnya tercatat tidak saja sebagai yang termuda tetapi juga rektor tersukses dalam melakukan transformasi internal pada lembaga pendidikan yang terancam bangkrut tersebut, merangkak kembali menjadi salah satu institusi pilihan masyarakat. Sehingga semakin kuat premis yang mengatakan bahwa kepemimpinan pemuda hanya soal kesempatan dan kepercayaan bukan soal kemampuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: