Kemana Lagi Kita Akan Berdemokrasi?


Demokrasi, kata sacral yang selalu diucapkan manusia sebagai human beingnya untuk mendapatkan hak berpendapat dan berbicara sesuai dengan apa yang dirasakannya. Hampir di setiap Negara selalu menjunjung tinggi kata ini sebagai azaz berdirinya sebuah Negara yang konon katanya demokrasi adalah perwujudan pemerintahan dari rakyat untuk rakyat, bahkan ada yang bilang pula demokrasi sebagai vox populi vox dei, suara rakyat suara Tuhan.

Dalam sejarahnya demokrasi kerap sekali mendapat ujian bahkan batu sandungan, terutama dari para tangan – tangan besi yang selalu ingin melanggengkan kekuasaannya, entah itu pemerintah yang berkuasa ataupun korporasi yang memiliki kepentingan di dalamnya. Aspirasi dan pendapat rakyat dianggap sebagai pengganggu stabilitas dan pencapian tujuan oleh para penguasa maupun pihak yang berkepentingan, karena itulah pendapat-pendapat tersebut seringkali di kebiri, entah dengan intervensi kekuasaan, kekerasan, maupun manipulasi politik, atau lebih ironinya dilegalisasikan melalui  hukum perdata dan pidana. Semua itu akan dilakukan oleh sang penguasa agar hati nurani manusia tetap diam.

Kebangkitan media sebagai wadah informasi bagi rakyat, merupakan sebuah pertanda positif bagi tumbuhnya demokratisasi di dunia, Demokrasi yang merupakan sebuah azaz dan system dalam kehidupan manusia merupakan sebuah alat bagi kehidupan berbangsa maupun global agar setiap manusia mendapatkan hak – haknya secara wajar, keadilan didepan hukum, kesempatan yang sama dalam berusaha, bahkan sebagai wujud perlindungan kepada rakyat untuk menyampaikan kritik dan keluhannya. Dan media lahir sebagai bentuk akan aspirasi – aspirasi tersebut, sehingga tak mengherankan bila media massa seringkali disebut sebagai pilar demokrasi yang keempat.

Namun seiring dengan berjalan waktu, media massa yang awalnya berfilosofi sebagai penyalur informasi dan pendapat rakyat, mendapat godaan yang tak lagi dapat dihindarinya, sehingga media massa saat ini telah kehilangan idealismenya untuk menyalurkan informasi kepada masyarakat secara netral dan benar. Bila dalam pemerintah otoriter kematian idealism media ini seringkali disebabkan cengkraman sang penguasa, sehingga media massa hanya dijadikan sebuah propaganda politik dari rezim berkuasa. Dan kini idealism media massa kembali terbunuh tapi bukan oleh pemerintah yang berkuasa namun oleh kepentingan bisnis. Bagaimana tidak, media massa saat ini merupakan corong paling efektif untuk promosi,  menjaga image corporasi bahkan tempat untuk mendiplomasikan dan negoisasi kepentingan korporasi. Dan rakyatpun kembali masuk dalam jebakan utopia demokrasi.

Saat rakyat tidak dapat lagi menyalurkan aspirasi dan pendapatnya sesuai dengan kata hati nuraninya, serta tidak lagi dapat memperoleh informasi yang objektif. Disinilah peradaban manusia kembali pada zaman kegelapan ditengah gemerlap cahaya yang menyesatkan.

Akan tetapi kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi memberikan secercah harapan dan setitik cahaya bagi demokrasi, lahirnya internet yang dapat di akses siapa saja dan dapat digunakan oleh siapa saja, tanpa ada aturan-atuaran yang melarang setiap manusia untuk menyampaikan pendapatnya didalamnya, merupakan sebuah ladang bagi lahirnya kembali demokrasi di dunia maya, setidaknya disinilah manusia kembali mendapatkan hakikatnya.

Internet menyediakan layanan-layanan gratis bagi siapa saja untuk mencurahkan segala isi hati dan pendapatnya, seperti mesin pencarian google yang dapat memberikan segala informasi mulai dari A – Z, yahoo yang dapat memberikan layanan surat – menyurat lebih cepat daripada via pos dan lebih murah dari telpon, atau facebook yang dapat setiap orang untuk saling berkenalan dan berbagi cerita dari seluruh penjuru dunia, serta masih banyak lagi web-web dalam internet yang telah dapat membentuk komunitas social di dalamnya. Bahkan komunitas – komunitas social dalam internet tersebut juga telah dapat membentuk tatanan kehidupan baru yang lebih terbuka, adil dan sesuai dengan setiap keinginan hati nurani para pengikutnya, jadi jangan heran bila tercipta suatu tribes-tribes atau pola kepemimpinan global dalam internet. Bahkan pemimpin-pemimpin dari tribes-tribes tersebut mendapat loyalitas dan dukungan penuh dari anggotanya, hal ini terjadi tentu saja karena internet menyediakan wadah bagi siapa saja untuk bisa ikut berdomkratisasi didalamnya.

Namun, ternyata demokrasi yang telah terusir ke dunia maya ini kembali memperoleh cobaan dari mereka yang mengatakan dirinya sebagai penjaga dan pengawal demokrasi tapi justru ingin membunuh demokratisasi itu sendiri. Cyber crime law, yang awal rancangannya adalah untuk mengendalikan para penjahat didalam dunia maya, saat ini telah disalah gunakan oleh mereka yang kepentingannya dalam dunia material mulai terganggu oleh besarnya pengaruh internet terhadap kekuasaan maupun kepentingannya.

Internet yang memberikan akses bagi siapa saja untuk bercerita, dapat menginformasikan setiap keburukan ataupun kebaikan mulai dari orang secara personal maupun korporasi yang bersekala global. Dan dalam internet inilah dimana demokratisasi tumbuh subur, telah dapat memberikan informasi mengenai setiap keburukan dari mereka yang telah menyalahi hak – hak dasar manusia lainnya, merupakan ancaman nyata bagi sang zalim Karena suara hati dan kejujuran yang terdapat dalam internet ini bisa jadi pedang yang akan membunuh semua kepentingan para elit.

Pengejawantahan Cyber criminal law di Indonesia melalui UU informasi dan teknologi menjadi senjata ampuh bagi siapa saja yang merasa kepentingannya telah terusik. Kini para pengguna internet dan para bloger merasa was-was terhadap tulisan ataupun pendapat yang inign mereka sharingkan. Karena bisa jadi pendapat – pendapat mereka tersebut bakal membawa mereka ke tahanan seperti yang dialami ibu Frita karena mengkritik pelanyanan sebuah rumah sakit.

UU ITE inilah yang digunakan oleh para pihak berkepentingan untuk membungkam suara hati rakyat. Dengan dalih pencemaran nama baik, para pihak berkepentingan tersebut berbondong-bondong ke kantor polisi melaporkan setiap keluh kesah yang disampaikan oleh rakyat. Rakyat seringkali tidak berdaya menghadapi ketidakadilan, kebohongan public ataupun penipuan yang dialaminya  dari para elit, oleh karena itu rakyat sering kali berkeluh kesah dan menyampaikan pendapat ataupun kritiknya di dalam blog-blog ataupun situs-situs yang terdapat dalam internet. Akan tetapi saat ini demokrasi mayapun telah sekarat oleh UU ITE yang telah miss intepretasikan oleh para pejabat hukum, dan akhirnya dijadikan senjata mematikan oleh para elit untuk membungkam opini public.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: