THANK’S MY FRIENDS, THAT’S A GREAT MOMEN I EVER HAD

April 2009, untuk pertama kalinya aku harus menelan pahitnya pil kekalahan. Getir memang rasanya, hingga membutaku hampir tidak mau meneruskan jalan ini. Walaupun sebelum ini sempat juga ku merasakan sesaknya tersisihkan, tapi kala itu adalah sebuah kekalahan yang terhormat. Setelah satu tahun lebih aku meninggalkan bangku kuliah dan menghadapi pertarungan hidup, berbagai kisah hidup anak manusia aku temui dan berbagai rumah aku masuki. Dari merekalah aku banyak belajar tentang Dunia dan Indonesia, walaupun semua tidak dapat sesumpurna seperti yang aku impikan, paling tidak sejumlah kebanggan dan kehormatan pernah aku dapatkan.
Sekali lagi, kini aku harus menerima kekalahan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ingatanku pun melayang jauh di saat – saat bahagia ketika berada di bangku kuliah dan persahabatan di masa remaja, ketika semangat untuk membawa perubahan terus di kobarkan oleh para imam – imam Universitas. Dan juga canda tawa dalam diskusi kusir yang tak pernah garing. Semua kenangan itu membuatku semakin merindukannya.
Di saat Indonesia tengah sibuk dengan pesta demokrasi, kuputuskan untuk kembali pulang ke tanah ku dilahirkan. Ku jumpai semuanya masih sama seperti dulu, angin segar pegunungan Ungaran, membawa pikiranku sedikit rileks akan penantnya kekalahan yang masih mengglayuti jiwaku. Bertemu dengan keluarga, meilhat wajah saudara – saudaraku semakin mendamaikan hati ini, bercerita dengan Ibuku walaupun hanya lewat batu nisannya membuatku semakin lega.
Sudahlah aku tidak mau memikirkan apa – apa lagi yang ada di Jakarta, termasuk kekalahan yang baru aku dapatkan. Ku temui sahabat – sahabat lama, segala romansa akan masa lalu mengalirkan darah kebahagiaan di antara kami. Terbuka lagi lembaran – lembaran lama yang pernah mengharu – biru dalam hidupku, kuratapi lagi kisahku akan sebuah kekalahan yang baru saja aku terima. Kenapa aku bisa terkalahkan? Kenapa aku tidak dapat sekuat dulu lagi? Pertanyaan – pertanyaan akan kesalahanku di masa kini terus menghujam deras dalam otakku, dan benar – benar hampir mebuat berantakan isinya.
Melihat teman – teman dan mendengar cerita mereka membuatku semakin terpuruk. Ku lihat kalian telah tumbuh semakin kuat seperti pohon akasia di depan rumahku.
Dalam senyum dan tawa kalian kulihat semangat yang berapi – api.
Dalam keluh kalian aku rasakan ambisi yang tak pernah padam.
Dan dalam diri kalian kulihat sebuah iman yang semakin tumbuh tinggi.
Semua yang kalian tunjukkan padaku, membuatku bertanya kembali pada diriku sendiri. Kemana aku yang dahulu, di mana kita bisa berdiri sama tegak dalam semangat meraih cita dan cinta??? Malam demi malam pertanyaan itu terus menghantui tidurku di rumah yang paling nyaman ini.
Aku benar sudah merasa kehilangan diriku, dan entah kemana lagi aku harus mencarinya. Hingga akhirnya aku bertemu dengan sahabat – sahabat lama yang membawakan cermin kejujuran. Sepertinya mereka merasa nyaman dengan kegelisahan yang aku sembunyikan Selama dua hari ini. 12 april ini merupakan Ultahku, jangankan merencanakan target yang akan kukejar dalam satu tahun kedepan, akan visi yang pernah aku bagun saja, aku sudah lupa. Karena itulah mereka mengajakku keluar untuk menikmati udara malam di semarang sambil merayakan Ultahku. Sungguh aku merasa terharu atas perhatian yang mereka berikan. Café tanjakan yang dulu sering aku jadikan tempat diskusi bersama teman – teman kuliah, kembali kami jadikan sebagai pilihan. Seperti anak SMA saja, malam itu kami benar – benar melakukan hal gila, kebut – kebutan di jalan dan bikin gaduh di sepanjang jalan Ungaran – Semarang. Lepas dan terbang semua kepenatanku saat bersama mereka, segala canda – tawa menghiasi café yang sudah sepi pengunjung ini. Dan aku pun mendapat kado Istimewa dari mereka. Walaupun kembali kalian menunjukkan kelicikan kalian untuk mengelabuhi aku, tapi itulah momen terindah dalam hidupku sepanjang tahun 2009 ini. Muka penuh dengan tepung dicampur bau amis telor serta wanginya molto, membuatku jadi seperti adonan kue saja. Thank’s that’s a great momen I ever had.
Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, di bulan april ini pula aku akan kehilangan seseorang yang pernah menghiasi hidupku selama berada di Universitas, selsainya masa belajarnya di kampus Undip Semarang tercinta ini akan membawanya kembali ke tanah kelahirannya, mungkin bisa jadi pertemuan dengannya kemarin adalah pertemuan terakhir, kamu akan selalu jadi dewi yang pernah merubah hidupku. Selamat jalan sayang…
Siang ini ku coba kembali merenungkan semua yang telah kulewati beberapa hari ini, sambil ku baca wall yang ada di facebook dan juga sms yang tak pernah berhenti berbunyi dari dini hari tadi. beragam doa dan harapan tertuju padaku, sungguh aku merasa terharu membaca semua itu, aku pun teringat kembali oleh kekalahanku kemarin. Dan pertanyaan ini muncul, pantaskah bila aku menerima kekalahan ini, saat aku kehilangan diriku??? Entahlah, yang jelas aku ingin mengembalikan lagi semangat dan visi yang pernah aku bangun, dan berjanji lagi untuk menjadi yang terbaik sebagai anak bangsa Indonesia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: