MARKETING GETHUK TULAR

Ketika strategi – strategi marketing modern mulai kehilangan kepercayaannya dari masyarakat, karena di nilai terlalu provokatif dan penuh kebohongan. Maka masyarakat kembali lagi pada kebiasaan lama untuk mendapatkan merek terbaik dari produk yang hendak di beli.
Di akui atau tidak, kredibilitas iklan dari waktu ke waktu memang terus menurun. Terlebih lagi saat ini jumlah iklan yang muncul sudah sedemikian banyak dan hampir semuanya tampil dengan tema yang sama, sehingga konsumen menjadi bingung menentukan produk mana yang akan di pilihnya.
Kala bingung dalam menentukan pilihan, konsumen akan mencari opini tambahan dari lingkungan sekitar, entah itu keluarga, teman atau kerabat, karena mereka di anggap lebih tulus di banding iklan.
Metode classic ini oleh Mark Hughes, dia sebut sebagai worth of mouth marketing (WOMM), “saat ini WOMM menjadi lebih penting di banding sebelumnya. Dan hampir semua pakar serta praktisi pemasaran sepakat bahwa inilah jurus paling sakti dalam memasarkan produk dan jasa.
Rasanya tak adil bila kita membicarakan akan kebaikan umum bila hanya melihatnya dari sisi marketing saja, karena seperti yang di ketahui bersama, marketing merupakan ajang kebohongan yang menarik. Namun dalam metode WOMM ini fenomena yang terjadi adalah, “kepercayaan yang di bangun oleh opini public merupakan sebuah kebaikan umum yang di terima dan di harapkan oleh masyarakat”, kata Jurgen Habermass.
Khusus bagi masyarakat Indonesia metode WOMM ini mendapatkan tempat paling istimewa dalam benak konsumen, hal ini di karenakan latar belakang budaya mayarakat Indonesia yang gemar melakukan komunikasi, hingga – hingga metode WOMM ini mendapat julukan flamboyant oleh masyarakat sebagai gethuk tular (dari mulut ke mulut). Bahkan budaya gethuk tular ini sendiri oleh masyarakat Indonesia sudah di jadikan strategy marketing, seperti halnya bila melihat slogan – slogan yang ada di warung padang, “Jika anda puas, beritahu pada teman dan kerabat anda. Jika anda tidak puas, beritahu kami.”
Beberapa waktu lalu, majalah ekonomi dan bisnis SWA bekerja sama dengan onbee marketing research (Octovate Consulting Group) melakukan penelitian tentang fenomena gethuk tular terhadap pemasaran produk dagang di Indonesia.
Ada banyak temuan menarik yang di dapat dari hasil penelitian tersebut. Diantaranya, rata – rata orang Indonesia membicarakan hal yang baik ke 7 orang lainnya, namun untuk hal yang negative, mereka membicarakannya ke 11 orang lainnya. “Orang lebih suka berbicara yang negative disbanding yang positif”, kata Soemardy (Pakar pemasaran dari octovate consulting group). Akan tetapi ketika orang membicarakan WOMM negative, mereka hanya membutuhkan 6 hal positive yang baru untuk menetralkannya. Sedangkan untuk sumber yang paling kredibel bagi konsumen Indonesia adalah teman dan keluarga. “Sumber informasi yang paling tidak di percaya konsumen adalah salesman dan iklan, mereka meragukan kredibilitasnya.
Temuan menarik lainnya, betapa besar pengaruh WOMM terhadap keputusan membeli. Dalam survey tersebut, terungkap bahwa 67,78% responden akhirnya memutuskan membeli produk yang direkomendasikan lewat jalur WOMM.
Faktor utama yang membuat WOMM lebih “dipercaya” adalah karena komunikasi via WOMM di anggap lebih jujur dan tulus. Pasalnya pihak yang merekomendasikan merek tersebut merupakan orang yang sudah dikenal.
Riset tersebut mengambil hampir seluruh sample produk – produk industry yang di pasarkan di Indonesia, sehingga dari hasil riset tersebut dapat terlihat mana saja produk – produk di Indonesia yang paling di percaya masyarakat.
Dalam kasus tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk, brand yang paling krusial dan paling sering di jadikan bahan pembicaraan masyarakat, sehingga berakibat terhadap produk tersebut layak atau tidaknya untuk di konsumsi oleh konsumen adalah produk – produk jenis obat – obatan serta makanan dan minuman, hal ini tentu dikarenakan oleh produk – produk tersebut akan berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan juga keselamatan sang konsumen. Sehingga boleh di bilang apabila ada produk jenis tersebut yang di sering di bicarakan positive atau negative oleh masyarakat, sama juga halnya dengan menunjukkan pada mutu dan kualitas dari produk yang bersangkutan.
Untuk produk – produk tersebut yang mendapat rangking paling atas dalam mendapatkan rekomendasi masyarakat adalah seperti, KFC (restoran fast food), promag (obat magg), dan teh botol Sosro, (minuman siap saji). Produk – produk tersebut merupakan produk paling di percaya oleh masyarakat Indonesia diantara merek – merek lainnya dalam bidang bisnisnya.
Dan yang paling menarik dari hasil temuan riset mengenai peringkat produk paling dipercaya masyarakat tersebut adalah dari teh botol sosro, dimana PT Sinar Sosro sebagai perusahaan yang memproduksi teh botol tersebut juga memproduksi minuman teh siap saji lainnya degan merek yang berbeda – beda, berhasil menempatkan produk-produknya di urutan 5 besar produk paling sering di rekomendasikan oleh masyarakat, dengan urutan teh botol sosro di paling atas lalu disusul oleh fruit-tea dan stee di tempat ke tiga dan keempat, serta joy tea pada peringkat ke tiga dalam golongan teh hijau minuman siap saji.
Keberhasilan PT Sinar Sosro dalam menempatkan seluruh produknya di produk – produk paling di rekomendasikan oleh masyarakat ini ternyata sesuai dengan falsafahnya “niat baik”, serta mottonya sebagai “ahlinya teh”. Kedua hal tersebutlah yang membawa perusahaan pengolahan teh terbesar di Indonesia ini untuk selalu menjaga mutu dan kualitas produknya, serta komitmennya untuk memberikan kepuasan kepada konsumen dalam melepaskan dahaga dimana saja dan kapan saja, dengan mendistribusikan produknya di setap tempat, mulai dari PKL hingga restoran kelas atas, teh botol selalu tersedia.
Apa yang jadi falsafah “niat baik” PT Sinar Sosro dan juga mottonya untuk menjadi “ahlinya teh”, kiranya terbukti sudah dengan apa yang di temukan dalam hasil riset mengenai pemasaran WOMM. karena menurut Amalia E, Maulana, konsultan merek dan etnografer kepada SWA, “di era konsumen yang sudah mulai skeptic terhadap obral janji iklan merek/perusahaan, peranan WOMM memang menjadi semakin penting. WOMM menempatkan konsumen sebagai subjek, bukan Objek. Kegiatan yang di lakukan non-perusahaan dinilai lebih netral dan dipercaya konsumen lainnya karena bebas kepentingan.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: