Pancasila Sebagai Ideologi

Weltanschauung ist nicht ein Wissen, sonder sie offen sich in Wertungen, Lebengstaltung, Schiksal, in der erlebten Rangerdnung der Werte. (Karl Jaspers, Pshychologie der Weltanschauungen)

Jika kita hendak memandang pancasila sebagai ideology atau Weltanschauungen, maka pertanyaan – pertanyaan yang kita hadapi adalah sebagai berikut: bagaimana kedudukannya dalam kehidupan manusia, apa sebabnya pancasila menjadi ideology Negara Indonesia, dimana letak haknya, apa konsekuensi2 dari pancasila sebagai ideology Negara? Deretan pertanyaan2 ini belum habis. Tetapi biarlah rentetan itu saja yang kita pasang. Istilah ideology berasal dari kata Yunani (Greek) eidos dan logos. Edos yang berasal dari kata kerja mempunyai arti melihat, memandang, berarti gambaran pandangan. Karena memikir itu juga mirip dengan memandang, maka eidos juga berarti pikiran (Idea). Logos disini berubah menjadi logia, berarti kata, pengertian, ucapan,. Kita mengerti kata biologi, fiologi, dan sebagainya; dalam hal ini logi berarti pengertian atau ilmu pengetahuan. Dalam istilah ideology, kata logi tidak menunjuk ilmu pengetahuan. Ideology adalah kesatuan idea2, kesatuan itu dimiliki dengan dan dalam logos atau pengertian. Dalam komposisi istilah itu termuat suatu renungan atau refleksi: istilah itu menyatakan bahwa ada idea –idea dan ada pengertian tentangnya, bahkan bahwa manusia telah berpikir tentang idea2 itu tidak hanya ada secara banyak, melainkan secara kesatuan. Idea2 itu bukanlah sembarangan idea, tetapi idea2 yang mendalam, yang fundamental.

Jika ilmu2 kebudayaan memandang pengertian tentang pertanian yang ada pada bangsa2 primitif, maka pengertian itu tidak akan disebut ideology. Namun disitu terdapat juga idea2 dan kesatuannya. Sebaliknya, jika kita melihat upacara2 pesta pertanian, maka kita akan berkata pesta itu berdasarkan pada suatu ideology atau pandangan hidup. Sebab, yang menjadi dasar upacara2 itu adalah pikiran tentang hidup, tentang asal – usul rezeki, tentang kedudukan manusia dalam kosmos. Benarlah kata Jaspers bahwa dengan istilah ideology atau pandangan dunia (Weltanschauungen) kita menunjuk das Letzte und das Totale des Menschen. Dengan ini tampaklah bahwa ideology kita pandang sebagai sesuatu yang baik, bahwa ideology, seperti nanti masih akan tampak, ialah pengertian yang fundamental tentang realitas, bahwa ideology adalah dari realitas ke realitas.

Tetapi, dalam sejarah kita mengerti juga bahwa ideology dianggap sebagai khayalan yang tak berguna. Maka itu kita akan melihat lawan kita dulu, yaitu, pendapat yang menyatakan bahwa ideology itu tidak objektif, bahwa ideology itu suatu kebohongan. Demikianlah pendapat dari kalangan Marxisme. Bagi mereka filsafat mereka sendiri bukanlah ideology karena (demikianlah pikiran Marxisme) pandangan mereka itu benar. Lain – lain pandangan adalah salah, tidak menerjemahkan realitas. Tetapi, mengapakah ideologi2 itu toh dianut? Demikianlah pendapat dari kalangan Marxisme tadi – ideologi2 itu dianut karena menguntungkan. Misalnya, karena Vested Interest. Ingatlah saja, misalnya mitos – mitos yang dikarang untuk mempertahankan kaum bangsawan. Sampai – sampai orang berani mangatakan bahwa asal – usul rajanya adalah dari kedewaan. Menurut pandangan dari kalangan Marxist tersebut banyak ideology berasal dari kaum kapitalis dan untuk kepentingan kapitalisme. Dengan ini nyatalah bahwa dalam kalangan Marxist ideology digunakan dalam arti peyoratif (jelek). Tetapi, tidak ada alasan sedikitpun yang member arti demikian. Sebaliknya, tidak tepat juga jika istilah ideology hanya dianggap mempunyai arti baik. Sejarah member penyaksian adanya ideology yang jahat, seperti Fascisme, Nazisme, …., dan komunisme sendiri. Hematnya, ideology memiliki arti yang netral. Baik buruknya tergantung dari isinya. Yang perlu mendapat perhatian adalah munculnya pandangan bahwa ideology dianut karena kepentingan.

Menurut pendapat Marxist di atas ideology dianut justru karena hanya kepentingan. Pendapat ini salah, tidaklah benar bahwa tiap2 ideologi dianut karena kepentingan. Pancasila kita, tidak kita anut hanya karena kepentingan, tetapi juga yakin bahwa Pancaila itu benar. Aspek kebenaran dalam soal ideology tidak bisa dimungkiri. Tetapi, memang nyata bahwa dalam prakteknya aspek kebenaran itu tidak begitu disadari. Dalam prakteknya orang menganut ideology karena melihat ideology sebagai cita – cita: ideology merumuskan ideal. Ketika sebagian dari bangsa Jerman mengorbankan ideology Nazisme, mereka bercita – cita tentang kebenaran ras. Tiap – tiap ideology sosialistis mencita – citakan kesamaan hak, kesamaan kemakmuran dan bahagaia berdasarkan penikmatan yang sama dan bersama – sama dari kekayaan material di dunia ini.

Catatan diatas kiranya cukup untuk memperlihatkan adanya aspek ideal atau cita2 dalam ideology. Sekarang harus ditambahkan bahwa cita2 itu didasarkan atas pandangan yang asasi. Baiklah kita catat sebentar bahwa asasi disini hanya kita pandang secara relative, artinya menurut penganut ideology yang bersangkutan. Jadi, belum tentu apa yang disebut asasi itu juga betul2 asasi. Dengan ini juga masih kita kesampingan soal benar atau tidaknya pandangan dari suatu ideology. Dalam tingkat uraian ini hanya dikemukan bahwa ideology memuat pandangan yang dianggap asasi.

Menurut ideology Marx misalnya, Manusia seharusnya tidak bernegara. Negara bertentangan dengan hakikat manusia (menurut Marx). Disini pandangan asasi karena mengenal hakikat manusia. Bahwa pandangan ini salah tidak akan kita rembug sekarang. Contoh lain, kita ajukan ideology Nazisme. Menurut ideology ini suatu ras harus menjadi bangsa yang menjadi tuan besar. Lain – lainnya harus menjadi budaknya. Pandangan ini oleh para penganut dianggap asasi. Mereka tidak memandang lebih lanjut. Pandangan itu menjadi landasan politik mereka, tetapi boleh disangsikan anthropo-biologis politis dan sosiologisnya sehingga sukar dikatakan asasi secara objektif., meskipun bagi para penganutnya, yang tidak berfikir tentang hakikat manusia, pandangan itu sudah dianggap fundamental. Jika kita melepaskan soal tentang benar atau tidanya, betul2 asasi atau tidaknya suatu pandangan (atau kompleks pandangan) yang dijadikan ideology, maka dapat kita rumuskan sebagai berikut; yang disebut ideology adalah suatu kompleks idea2 asasi tentang manusia dan dunia yang dijadikan pedoman dan cita2 hidup. Rumusan ini berdasarkan fakta sejarah.

Dalam sejarah kita menyaksikan bahwa ideology dianut karena manfaatnya, karena efisiensinya. Tetapi, penganutan itu pada prinsipnya juga berdasarkan keyakinan bahwa ideology yang dianut itu benar. Idea2 yang sebagai kompleks sistematis menjadi ideology itu kita katakana: tentang manusia dan dunia. Dalam keterangan ini termuat juga pandangan tentang Tuhan, tentang manusia sesama, tentang hidup dan mati, tentang masyarakat dan Negara, dan sebagainya. Sesuai dengan tabiat hubungan2 yang diakui itu, suatu ideology bisa bersifat bisa bersifat hanya diesseitig atau diesseitig serta jenseitig.

Komunisme adalah suatu ideology yang hanya diesseitig sebab tidak mengakui Tuhan. Pancasila adalah ideology yang diesseitig serta jenseitig. Diesseitig karena hanya merembug hidup di dunia ini (Demokrasi, Keadilan Sosial); serta jenseitig karena mengakui Tuhan Yang Maha Esa. Dalam rumusan diatas kita akui bahwa ideology itu bukanlah hanya pengertian. Ideology adalah prinsip dinamika karena merupakan pedoman atau cita2 (ideal).

Ideology berupa pedoman, artinya menajadi pola dan norma hidup, tetapi juga berupa ideal dalam cita2, artinya realisasi dari idea2 yang menjadi ideology itu dipandang sebagai kebesaran, kemuliaan manusia. Dengan melaksanakan ideology manusia juga mengejar keluhuran. Itulah sebabnya manusia juga sanggup mengorbankan hidupnya demi ideology. Karena ideology itu menjadi pola dan norma hidup dan dikejar pelaksanaannya yang tinggi sebagai ideal, maka tak mengherankan jika ideology bisa menjadi Lebengestaltung, seperti dinyatakan oleh filsuf Jerman yang terkenal Karl Jaspers. Kita tidak perlu berpendapat bahwa dengan mudah saja ideology menjadi Lebengestaltung (bentuk hidup, levensvorm). Semoga dan Semoga Pancasila tetap menjadi Lebengestaltung, sehingga tidak akan pernah terjebak oleh segala paradoksnya.

1 Komentar (+add yours?)

  1. sakainget
    Jun 01, 2009 @ 17:47:52

    nyimak dulu ah – komen bisa belakangan kan?😀
    kunjungan dinas – sakainget

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: