06.13.09

Kepemimpinan Pemuda

Ditulis dalam Management, Motivation and Inspiration, Politic, Pshychology pada 9:28 pm oleh aank1985

Leon Botstein terpilih menjadi Rektor New Hampshire’s Franconia College di tahun 1970 dalam umur 23. Tak pelak, penunjukkannya tercatat sebagai salah satu rektor termuda sepanjang sejarah di Amerika Serikat. Dia mengemban tanggung jawab melakukan turn around terhadap kondisi yang centang perenang di kampus tersebut. Kebijakan pembaharuan yang dilakukannya ternyata dimulai dari langkah pertama yang tidak lazim, “bebaskan kampus dari keliaran anjing!”.

Bulan Agustus tahun 2007 ini, Universitas Indonesia (UI) memiliki pimpinan baru. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dengan sebuah pergantian kepemimpinan di kalangan perguruan tinggi, hanya saja yang berbeda saat ini adalah UI memasuki babak baru perjalananya dibawah nahkoda salah satu putra terbaiknya yang masih dapat dikatakan muda belia. Prof Dr Gumilar menjadi rektor di usia 44 tahun atau rektor termuda dalam sejarah UI. Langkahnya di awal mirip dengan Botstein, hadirkan lingkungan yang bersih dan memiliki jalur sepeda di kampus. Benar adanya, bahwa hal-hal besar dapat dimulai dari langkah kecil yang sederhana.

Bagi UI sendiri, peremajaan kepemimpinan tidak saja menyentuh pucuk tertingginya karena kamu muda mulai mengambil alih estafet kepemimpinan di berbagai institusi dalam ruang lingkup universitas, Di fakultas ekonomi dan hukum sebagai contoh , dekan terbaru mereka bahkan belum berusia 40 tahun ketika dilantik, dibawahnya berbagai direksi dan pimpinan departemen di lingkungan fakultas dipenuhi oleh anak muda usia 30an bahkan akhir 20, sebagian dari mereka baru pulang menggondol Phdnya, mereka-mereka yang dipersiapkan menjadi pimpinan teras unversitas dan bangsa di masa mendatang. Dan hebatnya tidak ada keluh kesah dari para senior,jaman berubah paradigma pun berubah.

Di Universitas Paramadina telah dipilih pengganti sosok guru bangsa yang juga rektor universitas selama ini, Almarhum Nurcholis Madjid , seorang anak muda yang dulu dikenal sebagai sosok aktivis mahasiswa yang setelah itu melanglang buana memenuhi dahaga inteletualismenya. Anis Baswedan baru berumur 38 ketika harus mengambil tongkat estafet yang sedemikian berat dibebankan padanya terlebih lagi sosok Cak Nur sudah sedemikian menyatunya dengan sejarah perkembangan Universitas Paramadina.

Adakah universitas-universitas tersebut kekurangan sumber daya senior yang berpengalaman sehingga harus mempertaruhkan reputasi universitas yang telah puluhan tahun terbina baik di tangan tokoh-tokoh muda yang bagi sebagian orang dianggap “anak kemaren sore” sehingga tidak cukup berpengalaman untuk mengemban tanggung jawab yang besar.

Nampaknya permasalahannya bukan terletak di sana, karena yang menjadi pemicu adalah terdapatnya kesadaran bahwa sudah saatnya kaum muda diberikan kesempatan untuk beraktulisasi dan membuktikan diri, tidak saja “mendobrak pintu” tetapi menjaga dan memimpin manaejemn rumah. Universitas memang menjadi garda terdepan kesadaran akan perlunya bangsa ini mulai mempercayakan kaum mudanya untuk memimpin. Mereka adalah pihak yang paling siap untuk menjawab diskursus pemimpin muda di pucuk pimpinan, bukan sekedar wacana yang dikembangkan banyak pihak tetapi langsung diimplementasikan di lapangan.

Alasannya sederhana,  perubahan mendasar di negara ini selalu dimulai dengan reaksi kaum muda idealis ini terhadap permasalahan besar bangsa,  mengorbankan waktu, tenaga maupun nyawa. Selain itu, kesadaran bahwa kompetisi global memerlukan energi, kesegaran pemikiran dan kreatifitas yang tinggi yang sungguh tidak dapat diakomodir oleh kepemimpinan yang lambat, penuh paradigma lama apalagi mereka yang masih menyepelekan soal governance. Kepemimpinan yang akan cepat absolete dan sekedar menjadi penonton persaingan kompetitif global. Bukan sekedar soal teknis, tuntutan untuk potong generasi sudah lama dimasukkan seabagai wacana ebangsaan untuk memisahkan bangsa ini dari stigma kebobrokan yang dibawa generasi tuanya

Sheila Kinkade dan Christina Macy dalam buku “Our time is now : young people changing the world ” menekankan kembali bahwa abad 21 adalah abad kaum muda, hal ini ditandai dengan  semakin berperannya pemuda dalam perubahan dunia. Dapat dilihat dalam buku mereka yang menarik itu,  bagaimana puluhan anak muda di seluruh penjuru dunia berpendar memperbaiki dan merubah komunitasnya ke arah yang lebih baik, lebih banyak dari apa yang kaum tua bisa lakukan dalam perbaikan komunitas tersebut. Tak sedikit dari mereka yang dapat kita lihat jejaknya : para akademisi muda.

Dengan misi yang kurang lebih sama, World Economic Forum setiap tahunnya mengadakan sesi Young Global leader yang mengundang sosok calon pemimpin bangsa yang saat ini berusia di bawah 40 bahkan sebagian dari mereka masih berusia dibawah 30 tahun untuk duduk bersama mendiskusikan berbagai problema kemasyarakatan global, menyongsong dunia baru yang penuh dengan pemimpin-pemimpin muda.

Kepemimpinan itu menular,.  Bukti nyatanya adalah dengan kiprah kaum akademisi di dunia birokrasi. Mereka mencoba menjalarkan hal-hal yang baik dilakukan oleh dunia kampus ke dalam birokrasi yang bobrok. Sebagai contoh, Menteri Keuangan, Sri Mulyani gencar dengan implementasi reformasi birokrasi hari-hari ini, Ketua BPK,Anwar nasution mengguncang jagat birokrasi dengan gerakannya menelanjangi berbagai institusi yang korup. Ini sebenarnya sekedar  bukti bahwa governance itu memiliki sifat contagious jika dipegang oleh mereka yang tepat. Terbukti kiprah akademisi yang kuat dapat memecah utopia bahwa birokrasi tidak dapat dirubah dari dalam. Hanya saja dalam soal pucuk pimpinan tertinggi negeri ini perlu waktu untuk bisa ke sampai ke sana.

Padahal belajar dari negara lain, Amerika serikat misalnya, Roosevelt (42 tahun menjadi Presiden), JFK (43), Clinton (46) begitu juga Tony Blair (43) di Inggris adalah figur-figur yang tidak saja muda tetapi tersukses dalam menjalankan roda pemerintahan. Saat ini dunia menunggu kandidat muda lainnya untuk muncul,  Barrack Obama adalah salah satunya. Kalau dia bisa menang membuktikan bahwa  kebutuhan atas birokrasi yang masih segar sudah menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Kepemimpinan muda sangat dibutuhkan oleh bangsa ini, seperti banyak pengamat yang sudah memulai wacana Presiden muda untuk pemilu 2009. Negara ini yang oleh sebuah majalah internasional disebut sebagai “Negara paling sulit bagi  seorang Presiden” perlu darah muda dan pemikiran yang segar tidak saja unutuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan besar yang dihadapi bangsa tetapi juga untuk memutus generasi tua yang korup dan telah meninggalkan Indonesia dalam centang perenang.

Leon Botstein akhirnya tercatat tidak saja sebagai yang termuda tetapi juga rektor tersukses dalam melakukan transformasi internal pada lembaga pendidikan yang terancam bangkrut tersebut, merangkak kembali menjadi salah satu institusi pilihan masyarakat. Sehingga semakin kuat premis yang mengatakan bahwa kepemimpinan pemuda hanya soal kesempatan dan kepercayaan bukan soal kemampuan.

Suramadu dan Konflik Kekerasan

Ditulis dalam Social pada 10:02 am oleh aank1985

Ide pembangunan Jembatan Surabaya-Madura dicetuskan Prof Dr Ir Sedyatmo tahun 1960 sebagai bagian dari proyek ”menyatukan” Jawa, Bali, dan Sumatera (Kompas, 20/8/2003). Namun, gagasan awal dari RP Mohammad Noer, sesepuh orang Madura sekaligus mantan Gubernur Jawa Timur. Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) mungkin merupakan satu-satunya proyek yang paling lama dibicarakan dalam diskusi dan seminar. Diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (10/6), jembatan sepanjang 5.438 meter di atas Selat Madura itu menyatukan Pulau Jawa dan Madura, pembangunannya menelan biaya Rp 4,5 triliun. Kaki jembatannya dari pantai Kenjeran-Surabaya hingga Kecamatan Labang, Kamal, Kabupaten Bangkalan (Madura). Perubahan sosial Dalam konteks pembangunan nasional, keberadaan Jembatan Suramadu merupakan bagian dari infrastruktur vital yang akan menunjang ”proyek” besar di baliknya. Namun, hingga kini banyak orang Madura belum tahu proyek apa saja yang hendak dibangun. Meski demikian, janji- janji pemerintah selalu melambungkan harapan orang Madura. Jargon-jargon ekonomis sering terdengar, seperti Madura akan menjadi zona industri (modern) dengan investasi amat besar dan kelak akan menyejahterakan masyarakatnya. Mereka yang selama ini cenderung dimarjinalkan secara ekonomi berharap nasibnya berubah menjadi orang yang mungkin (paling) sejahtera—setidaknya—di Jawa Timur. Berbagai harapan ini tidak bisa ditolak karena kita paham, begitulah hukum ekonomi. Perlu diingat, berbagai perhitungan ekonomis tidak berdiri sendiri. Beragam kondisi nonekonomis juga patut dipertimbangkan. Berfungsinya Jembatan Suramadu, cepat atau lambat, akan menimbulkan perubahan sosial warga Madura yang selama ini agraris. Pola kehidupan mereka akan diwarnai masyarakat industri. Para investor seyogianya merespons positif karakteristik sosial budaya warga Madura yang terbuka dan adaptif terhadap suasana dan lingkungan baru. Karakteristik sosial budaya ini amat kondusif bagi bertumbuh kembangnya aneka industri besar. Bagaimanapun, masuknya pemilik modal besar yang disertai beroperasinya mesin-mesin industri merupakan kondisi-kondisi terbentuknya suasana dan lingkungan baru kehidupan masyarakat Madura kelak. Meski demikian, beroperasinya mesin-mesin industri besar di Madura tidak akan mengubah karakteristik sosial budaya masyarakat Madura yang menonjol yakni spontan, responsif, terus terang, apa adanya, dan tidak suka basa-basi. Karakteristik sosial budaya ini patut diperhitungkan para pemilik modal yang akan masuk Madura. Pengoperasian mesin-mesin industri besar secara ekonomi tentu lebih bersifat padat modal (capital intensive) daripada padat karya (labor intensive). Dengan kata lain, keberadaan Jembatan Suramadu akan lebih berorientasi pada kepentingan pemilik modal besar daripada kepentingan orang Madura sendiri. Bila demikian, proporsi terbesar orang Madura yang kemungkinan dapat menikmati berbagai keuntungan ekonomis dari beroperasinya mesin-mesin industri besar tentu hanya berkisar pada tataran pekerja menengah dan pekerja kasar. Kecemburuan sosial amat mudah tersulut bila pengelolaannya tidak memerhatikan prinsip-prinsip profesionalisme dan sarat aroma KKN. Konflik kekerasan Meski demikian, orang Madura akan menerima semua itu selama pengelolaannya diyakini profesional dan transparan—dalam arti tidak menipu—dan memegang prinsip-prinsip keadilan. Lebih penting lagi, jangan sampai karakteristik sosial budaya orang Madura yang dikenal sebagai pekerja ulet, tangguh, dan pantang menyerah dimanfaatkan dan dimanipulasi sebagai tenaga kerja murah demi keuntungan investor. Segala bentuk ketidaktransparanan, ketidakadilan, dan manipulasi mudah mereka cium. Hal itu mudah dipahami karena faktor geografis dan antropologis. Berbeda dengan pulau- pulau lain yang lebih dulu mengalami industrialisasi dalam skala besar, dari segi geografis, luas Pulau Madura sekitar 5.250 km, lebih kecil dari Pulau Bali. Adapun faktor antropologis menyangkut penduduk Pulau Madura yang amat homogen, baik dari segi etnisitas, bahasa, maupun nilai-nilai sosial budaya. Faktor-faktor ini merupakan media kohesif yang amat erat mengikat mereka sehingga berpengaruh kuat terhadap kepekaan sosial terhadap berbagai perlakuan tidak adil dan semacamnya. Itu sebabnya secara dini harus disadari sekaligus diantisipasi oleh para pemilik modal besar untuk bersikap dan berperilaku sportif dan profesional dengan penuh kearifan dan bijaksana dalam mengoperasikan mesin-mesin industrinya di Pulau Madura. Bila tidak, terkait sikap dan perilaku sosial budaya orang Madura yang amat spontan, responsif, terus terang, apa adanya, dan tidak suka basa-basi, segala bentuk ketidaktransparanan dan ketidakadilan akhirnya mudah akan menjelma menjadi sikap dan tindakan resisten. Bila ini terjadi, tidak mustahil akan amat mudah tersulut menjadi benih-benih konflik kekerasan. Beberapa contoh yang sudah dikenal luas antara lain peristiwa Waduk Nipah di Sampang (1993) dan masalah agraria di Pasuruan (2007). Andaikan beberapa dari banyak karakteristik sosial budaya Madura itu diperhatikan oleh semua pihak yang berkepentingan, niscaya ke depan segalanya akan berlangsung dengan baik tanpa harus diwarnai munculnya aneka resistensi dan konflik (kekerasan) sebagai wujud dari rasa tidak puas orang Madura.

06.05.09

Kemana Lagi Kita Akan Berdemokrasi?

Ditulis dalam Politic pada 2:34 pm oleh aank1985


Demokrasi, kata sacral yang selalu diucapkan manusia sebagai human beingnya untuk mendapatkan hak berpendapat dan berbicara sesuai dengan apa yang dirasakannya. Hampir di setiap Negara selalu menjunjung tinggi kata ini sebagai azaz berdirinya sebuah Negara yang konon katanya demokrasi adalah perwujudan pemerintahan dari rakyat untuk rakyat, bahkan ada yang bilang pula demokrasi sebagai vox populi vox dei, suara rakyat suara Tuhan.

Dalam sejarahnya demokrasi kerap sekali mendapat ujian bahkan batu sandungan, terutama dari para tangan – tangan besi yang selalu ingin melanggengkan kekuasaannya, entah itu pemerintah yang berkuasa ataupun korporasi yang memiliki kepentingan di dalamnya. Aspirasi dan pendapat rakyat dianggap sebagai pengganggu stabilitas dan pencapian tujuan oleh para penguasa maupun pihak yang berkepentingan, karena itulah pendapat-pendapat tersebut seringkali di kebiri, entah dengan intervensi kekuasaan, kekerasan, maupun manipulasi politik, atau lebih ironinya dilegalisasikan melalui  hukum perdata dan pidana. Semua itu akan dilakukan oleh sang penguasa agar hati nurani manusia tetap diam.

Kebangkitan media sebagai wadah informasi bagi rakyat, merupakan sebuah pertanda positif bagi tumbuhnya demokratisasi di dunia, Demokrasi yang merupakan sebuah azaz dan system dalam kehidupan manusia merupakan sebuah alat bagi kehidupan berbangsa maupun global agar setiap manusia mendapatkan hak – haknya secara wajar, keadilan didepan hukum, kesempatan yang sama dalam berusaha, bahkan sebagai wujud perlindungan kepada rakyat untuk menyampaikan kritik dan keluhannya. Dan media lahir sebagai bentuk akan aspirasi – aspirasi tersebut, sehingga tak mengherankan bila media massa seringkali disebut sebagai pilar demokrasi yang keempat.

Namun seiring dengan berjalan waktu, media massa yang awalnya berfilosofi sebagai penyalur informasi dan pendapat rakyat, mendapat godaan yang tak lagi dapat dihindarinya, sehingga media massa saat ini telah kehilangan idealismenya untuk menyalurkan informasi kepada masyarakat secara netral dan benar. Bila dalam pemerintah otoriter kematian idealism media ini seringkali disebabkan cengkraman sang penguasa, sehingga media massa hanya dijadikan sebuah propaganda politik dari rezim berkuasa. Dan kini idealism media massa kembali terbunuh tapi bukan oleh pemerintah yang berkuasa namun oleh kepentingan bisnis. Bagaimana tidak, media massa saat ini merupakan corong paling efektif untuk promosi,  menjaga image corporasi bahkan tempat untuk mendiplomasikan dan negoisasi kepentingan korporasi. Dan rakyatpun kembali masuk dalam jebakan utopia demokrasi.

Saat rakyat tidak dapat lagi menyalurkan aspirasi dan pendapatnya sesuai dengan kata hati nuraninya, serta tidak lagi dapat memperoleh informasi yang objektif. Disinilah peradaban manusia kembali pada zaman kegelapan ditengah gemerlap cahaya yang menyesatkan.

Akan tetapi kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi memberikan secercah harapan dan setitik cahaya bagi demokrasi, lahirnya internet yang dapat di akses siapa saja dan dapat digunakan oleh siapa saja, tanpa ada aturan-atuaran yang melarang setiap manusia untuk menyampaikan pendapatnya didalamnya, merupakan sebuah ladang bagi lahirnya kembali demokrasi di dunia maya, setidaknya disinilah manusia kembali mendapatkan hakikatnya.

Internet menyediakan layanan-layanan gratis bagi siapa saja untuk mencurahkan segala isi hati dan pendapatnya, seperti mesin pencarian google yang dapat memberikan segala informasi mulai dari A – Z, yahoo yang dapat memberikan layanan surat – menyurat lebih cepat daripada via pos dan lebih murah dari telpon, atau facebook yang dapat setiap orang untuk saling berkenalan dan berbagi cerita dari seluruh penjuru dunia, serta masih banyak lagi web-web dalam internet yang telah dapat membentuk komunitas social di dalamnya. Bahkan komunitas – komunitas social dalam internet tersebut juga telah dapat membentuk tatanan kehidupan baru yang lebih terbuka, adil dan sesuai dengan setiap keinginan hati nurani para pengikutnya, jadi jangan heran bila tercipta suatu tribes-tribes atau pola kepemimpinan global dalam internet. Bahkan pemimpin-pemimpin dari tribes-tribes tersebut mendapat loyalitas dan dukungan penuh dari anggotanya, hal ini terjadi tentu saja karena internet menyediakan wadah bagi siapa saja untuk bisa ikut berdomkratisasi didalamnya.

Namun, ternyata demokrasi yang telah terusir ke dunia maya ini kembali memperoleh cobaan dari mereka yang mengatakan dirinya sebagai penjaga dan pengawal demokrasi tapi justru ingin membunuh demokratisasi itu sendiri. Cyber crime law, yang awal rancangannya adalah untuk mengendalikan para penjahat didalam dunia maya, saat ini telah disalah gunakan oleh mereka yang kepentingannya dalam dunia material mulai terganggu oleh besarnya pengaruh internet terhadap kekuasaan maupun kepentingannya.

Internet yang memberikan akses bagi siapa saja untuk bercerita, dapat menginformasikan setiap keburukan ataupun kebaikan mulai dari orang secara personal maupun korporasi yang bersekala global. Dan dalam internet inilah dimana demokratisasi tumbuh subur, telah dapat memberikan informasi mengenai setiap keburukan dari mereka yang telah menyalahi hak – hak dasar manusia lainnya, merupakan ancaman nyata bagi sang zalim Karena suara hati dan kejujuran yang terdapat dalam internet ini bisa jadi pedang yang akan membunuh semua kepentingan para elit.

Pengejawantahan Cyber criminal law di Indonesia melalui UU informasi dan teknologi menjadi senjata ampuh bagi siapa saja yang merasa kepentingannya telah terusik. Kini para pengguna internet dan para bloger merasa was-was terhadap tulisan ataupun pendapat yang inign mereka sharingkan. Karena bisa jadi pendapat – pendapat mereka tersebut bakal membawa mereka ke tahanan seperti yang dialami ibu Frita karena mengkritik pelanyanan sebuah rumah sakit.

UU ITE inilah yang digunakan oleh para pihak berkepentingan untuk membungkam suara hati rakyat. Dengan dalih pencemaran nama baik, para pihak berkepentingan tersebut berbondong-bondong ke kantor polisi melaporkan setiap keluh kesah yang disampaikan oleh rakyat. Rakyat seringkali tidak berdaya menghadapi ketidakadilan, kebohongan public ataupun penipuan yang dialaminya  dari para elit, oleh karena itu rakyat sering kali berkeluh kesah dan menyampaikan pendapat ataupun kritiknya di dalam blog-blog ataupun situs-situs yang terdapat dalam internet. Akan tetapi saat ini demokrasi mayapun telah sekarat oleh UU ITE yang telah miss intepretasikan oleh para pejabat hukum, dan akhirnya dijadikan senjata mematikan oleh para elit untuk membungkam opini public.

06.03.09

THANK’S MY FRIENDS, THAT’S A GREAT MOMEN I EVER HAD

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:10 pm oleh aank1985

April 2009, untuk pertama kalinya aku harus menelan pahitnya pil kekalahan. Getir memang rasanya, hingga membutaku hampir tidak mau meneruskan jalan ini. Walaupun sebelum ini sempat juga ku merasakan sesaknya tersisihkan, tapi kala itu adalah sebuah kekalahan yang terhormat. Setelah satu tahun lebih aku meninggalkan bangku kuliah dan menghadapi pertarungan hidup, berbagai kisah hidup anak manusia aku temui dan berbagai rumah aku masuki. Dari merekalah aku banyak belajar tentang Dunia dan Indonesia, walaupun semua tidak dapat sesumpurna seperti yang aku impikan, paling tidak sejumlah kebanggan dan kehormatan pernah aku dapatkan.
Sekali lagi, kini aku harus menerima kekalahan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ingatanku pun melayang jauh di saat – saat bahagia ketika berada di bangku kuliah dan persahabatan di masa remaja, ketika semangat untuk membawa perubahan terus di kobarkan oleh para imam – imam Universitas. Dan juga canda tawa dalam diskusi kusir yang tak pernah garing. Semua kenangan itu membuatku semakin merindukannya.
Di saat Indonesia tengah sibuk dengan pesta demokrasi, kuputuskan untuk kembali pulang ke tanah ku dilahirkan. Ku jumpai semuanya masih sama seperti dulu, angin segar pegunungan Ungaran, membawa pikiranku sedikit rileks akan penantnya kekalahan yang masih mengglayuti jiwaku. Bertemu dengan keluarga, meilhat wajah saudara – saudaraku semakin mendamaikan hati ini, bercerita dengan Ibuku walaupun hanya lewat batu nisannya membuatku semakin lega.
Sudahlah aku tidak mau memikirkan apa – apa lagi yang ada di Jakarta, termasuk kekalahan yang baru aku dapatkan. Ku temui sahabat – sahabat lama, segala romansa akan masa lalu mengalirkan darah kebahagiaan di antara kami. Terbuka lagi lembaran – lembaran lama yang pernah mengharu – biru dalam hidupku, kuratapi lagi kisahku akan sebuah kekalahan yang baru saja aku terima. Kenapa aku bisa terkalahkan? Kenapa aku tidak dapat sekuat dulu lagi? Pertanyaan – pertanyaan akan kesalahanku di masa kini terus menghujam deras dalam otakku, dan benar – benar hampir mebuat berantakan isinya.
Melihat teman – teman dan mendengar cerita mereka membuatku semakin terpuruk. Ku lihat kalian telah tumbuh semakin kuat seperti pohon akasia di depan rumahku.
Dalam senyum dan tawa kalian kulihat semangat yang berapi – api.
Dalam keluh kalian aku rasakan ambisi yang tak pernah padam.
Dan dalam diri kalian kulihat sebuah iman yang semakin tumbuh tinggi.
Semua yang kalian tunjukkan padaku, membuatku bertanya kembali pada diriku sendiri. Kemana aku yang dahulu, di mana kita bisa berdiri sama tegak dalam semangat meraih cita dan cinta??? Malam demi malam pertanyaan itu terus menghantui tidurku di rumah yang paling nyaman ini.
Aku benar sudah merasa kehilangan diriku, dan entah kemana lagi aku harus mencarinya. Hingga akhirnya aku bertemu dengan sahabat – sahabat lama yang membawakan cermin kejujuran. Sepertinya mereka merasa nyaman dengan kegelisahan yang aku sembunyikan Selama dua hari ini. 12 april ini merupakan Ultahku, jangankan merencanakan target yang akan kukejar dalam satu tahun kedepan, akan visi yang pernah aku bagun saja, aku sudah lupa. Karena itulah mereka mengajakku keluar untuk menikmati udara malam di semarang sambil merayakan Ultahku. Sungguh aku merasa terharu atas perhatian yang mereka berikan. Café tanjakan yang dulu sering aku jadikan tempat diskusi bersama teman – teman kuliah, kembali kami jadikan sebagai pilihan. Seperti anak SMA saja, malam itu kami benar – benar melakukan hal gila, kebut – kebutan di jalan dan bikin gaduh di sepanjang jalan Ungaran – Semarang. Lepas dan terbang semua kepenatanku saat bersama mereka, segala canda – tawa menghiasi café yang sudah sepi pengunjung ini. Dan aku pun mendapat kado Istimewa dari mereka. Walaupun kembali kalian menunjukkan kelicikan kalian untuk mengelabuhi aku, tapi itulah momen terindah dalam hidupku sepanjang tahun 2009 ini. Muka penuh dengan tepung dicampur bau amis telor serta wanginya molto, membuatku jadi seperti adonan kue saja. Thank’s that’s a great momen I ever had.
Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, di bulan april ini pula aku akan kehilangan seseorang yang pernah menghiasi hidupku selama berada di Universitas, selsainya masa belajarnya di kampus Undip Semarang tercinta ini akan membawanya kembali ke tanah kelahirannya, mungkin bisa jadi pertemuan dengannya kemarin adalah pertemuan terakhir, kamu akan selalu jadi dewi yang pernah merubah hidupku. Selamat jalan sayang…
Siang ini ku coba kembali merenungkan semua yang telah kulewati beberapa hari ini, sambil ku baca wall yang ada di facebook dan juga sms yang tak pernah berhenti berbunyi dari dini hari tadi. beragam doa dan harapan tertuju padaku, sungguh aku merasa terharu membaca semua itu, aku pun teringat kembali oleh kekalahanku kemarin. Dan pertanyaan ini muncul, pantaskah bila aku menerima kekalahan ini, saat aku kehilangan diriku??? Entahlah, yang jelas aku ingin mengembalikan lagi semangat dan visi yang pernah aku bangun, dan berjanji lagi untuk menjadi yang terbaik sebagai anak bangsa Indonesia…

Tuhan mendustai kita demi kenyataan

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:09 pm oleh aank1985

Terima kasih banyak atas suratmu yang sangat menarik sahabatku! Sekarang saya dapat mengerti dengan lebih baik gambaran perempuannya Aristoteles. Jika engkau nanti pergi ke café zu den toten aber immer jungen Philoshophen itu, pernyataannya bahwa hidup dia hidup di suatu masa lebih dahulu adalah benar. Namun seandainya dia dahulu meneladani Plato, tentu dia akan memilik gambaran positif tentang perempuan. Oh ya, apakah Aristoteles mengenal Diotima? Dia telah membantu Socrates menjadi salah satu filosof terpenting. Seorang Perempuan!
Sayang, Plato tidak terlihat saat kamu berada di café itu. Tentu kamu akan senang bila dapat berbicara dengannya juga, bukan? Dia pasti memiliki raut wajah yang lebih lembut di banding Aristoteles. Oh ya, jangan lupa katakana pada Renee, saya tahu sedikit mengenal perbedaan antara mimpi dan kenyataan seperti berikut ini:
Mimpi dan kenyataan adalah dua dunia yang berbeda. Mimpi adalah dunia fantasi dan pikiran. Kedua dunia ini kemudian bertemu dengan sesuatu yang muncul dari dalam jiwa. Bagi kita, kenyataan adalah dunia material, akan tetapi demikian pula dengan ilmu pengetahuan, sejarah, ataupun bahasa. Lalu apakah kita benar – benar dapat memahami seluruh kenyataan? Kita nyaris tidak tahu apa – apa tentang Tuhan. Meskipun begitu, Dia ada. Jadi kenyataan kita adalah tidak sempurna, persis seperti mimpi.
Mimpi juga memberikan sesuatu yang besifat kira – kira. Dari mimpi kadang kala orang dapat belajar sesuatu, begitu pula dari kenyataan. Dengan kedua dunia ini mungkin kita dipersiapkan untuk menuju dunia – dunia yang akan datang dan belum kita kenal.
Hanya saya tida mengerti secara utuh apa yang Rene maksudkan ketika dia berkata, “Terkadang Tuhan mendustai kita demi kenyataan”.

MARKETING GETHUK TULAR

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:08 pm oleh aank1985

Ketika strategi – strategi marketing modern mulai kehilangan kepercayaannya dari masyarakat, karena di nilai terlalu provokatif dan penuh kebohongan. Maka masyarakat kembali lagi pada kebiasaan lama untuk mendapatkan merek terbaik dari produk yang hendak di beli.
Di akui atau tidak, kredibilitas iklan dari waktu ke waktu memang terus menurun. Terlebih lagi saat ini jumlah iklan yang muncul sudah sedemikian banyak dan hampir semuanya tampil dengan tema yang sama, sehingga konsumen menjadi bingung menentukan produk mana yang akan di pilihnya.
Kala bingung dalam menentukan pilihan, konsumen akan mencari opini tambahan dari lingkungan sekitar, entah itu keluarga, teman atau kerabat, karena mereka di anggap lebih tulus di banding iklan.
Metode classic ini oleh Mark Hughes, dia sebut sebagai worth of mouth marketing (WOMM), “saat ini WOMM menjadi lebih penting di banding sebelumnya. Dan hampir semua pakar serta praktisi pemasaran sepakat bahwa inilah jurus paling sakti dalam memasarkan produk dan jasa.
Rasanya tak adil bila kita membicarakan akan kebaikan umum bila hanya melihatnya dari sisi marketing saja, karena seperti yang di ketahui bersama, marketing merupakan ajang kebohongan yang menarik. Namun dalam metode WOMM ini fenomena yang terjadi adalah, “kepercayaan yang di bangun oleh opini public merupakan sebuah kebaikan umum yang di terima dan di harapkan oleh masyarakat”, kata Jurgen Habermass.
Khusus bagi masyarakat Indonesia metode WOMM ini mendapatkan tempat paling istimewa dalam benak konsumen, hal ini di karenakan latar belakang budaya mayarakat Indonesia yang gemar melakukan komunikasi, hingga – hingga metode WOMM ini mendapat julukan flamboyant oleh masyarakat sebagai gethuk tular (dari mulut ke mulut). Bahkan budaya gethuk tular ini sendiri oleh masyarakat Indonesia sudah di jadikan strategy marketing, seperti halnya bila melihat slogan – slogan yang ada di warung padang, “Jika anda puas, beritahu pada teman dan kerabat anda. Jika anda tidak puas, beritahu kami.”
Beberapa waktu lalu, majalah ekonomi dan bisnis SWA bekerja sama dengan onbee marketing research (Octovate Consulting Group) melakukan penelitian tentang fenomena gethuk tular terhadap pemasaran produk dagang di Indonesia.
Ada banyak temuan menarik yang di dapat dari hasil penelitian tersebut. Diantaranya, rata – rata orang Indonesia membicarakan hal yang baik ke 7 orang lainnya, namun untuk hal yang negative, mereka membicarakannya ke 11 orang lainnya. “Orang lebih suka berbicara yang negative disbanding yang positif”, kata Soemardy (Pakar pemasaran dari octovate consulting group). Akan tetapi ketika orang membicarakan WOMM negative, mereka hanya membutuhkan 6 hal positive yang baru untuk menetralkannya. Sedangkan untuk sumber yang paling kredibel bagi konsumen Indonesia adalah teman dan keluarga. “Sumber informasi yang paling tidak di percaya konsumen adalah salesman dan iklan, mereka meragukan kredibilitasnya.
Temuan menarik lainnya, betapa besar pengaruh WOMM terhadap keputusan membeli. Dalam survey tersebut, terungkap bahwa 67,78% responden akhirnya memutuskan membeli produk yang direkomendasikan lewat jalur WOMM.
Faktor utama yang membuat WOMM lebih “dipercaya” adalah karena komunikasi via WOMM di anggap lebih jujur dan tulus. Pasalnya pihak yang merekomendasikan merek tersebut merupakan orang yang sudah dikenal.
Riset tersebut mengambil hampir seluruh sample produk – produk industry yang di pasarkan di Indonesia, sehingga dari hasil riset tersebut dapat terlihat mana saja produk – produk di Indonesia yang paling di percaya masyarakat.
Dalam kasus tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk, brand yang paling krusial dan paling sering di jadikan bahan pembicaraan masyarakat, sehingga berakibat terhadap produk tersebut layak atau tidaknya untuk di konsumsi oleh konsumen adalah produk – produk jenis obat – obatan serta makanan dan minuman, hal ini tentu dikarenakan oleh produk – produk tersebut akan berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan juga keselamatan sang konsumen. Sehingga boleh di bilang apabila ada produk jenis tersebut yang di sering di bicarakan positive atau negative oleh masyarakat, sama juga halnya dengan menunjukkan pada mutu dan kualitas dari produk yang bersangkutan.
Untuk produk – produk tersebut yang mendapat rangking paling atas dalam mendapatkan rekomendasi masyarakat adalah seperti, KFC (restoran fast food), promag (obat magg), dan teh botol Sosro, (minuman siap saji). Produk – produk tersebut merupakan produk paling di percaya oleh masyarakat Indonesia diantara merek – merek lainnya dalam bidang bisnisnya.
Dan yang paling menarik dari hasil temuan riset mengenai peringkat produk paling dipercaya masyarakat tersebut adalah dari teh botol sosro, dimana PT Sinar Sosro sebagai perusahaan yang memproduksi teh botol tersebut juga memproduksi minuman teh siap saji lainnya degan merek yang berbeda – beda, berhasil menempatkan produk-produknya di urutan 5 besar produk paling sering di rekomendasikan oleh masyarakat, dengan urutan teh botol sosro di paling atas lalu disusul oleh fruit-tea dan stee di tempat ke tiga dan keempat, serta joy tea pada peringkat ke tiga dalam golongan teh hijau minuman siap saji.
Keberhasilan PT Sinar Sosro dalam menempatkan seluruh produknya di produk – produk paling di rekomendasikan oleh masyarakat ini ternyata sesuai dengan falsafahnya “niat baik”, serta mottonya sebagai “ahlinya teh”. Kedua hal tersebutlah yang membawa perusahaan pengolahan teh terbesar di Indonesia ini untuk selalu menjaga mutu dan kualitas produknya, serta komitmennya untuk memberikan kepuasan kepada konsumen dalam melepaskan dahaga dimana saja dan kapan saja, dengan mendistribusikan produknya di setap tempat, mulai dari PKL hingga restoran kelas atas, teh botol selalu tersedia.
Apa yang jadi falsafah “niat baik” PT Sinar Sosro dan juga mottonya untuk menjadi “ahlinya teh”, kiranya terbukti sudah dengan apa yang di temukan dalam hasil riset mengenai pemasaran WOMM. karena menurut Amalia E, Maulana, konsultan merek dan etnografer kepada SWA, “di era konsumen yang sudah mulai skeptic terhadap obral janji iklan merek/perusahaan, peranan WOMM memang menjadi semakin penting. WOMM menempatkan konsumen sebagai subjek, bukan Objek. Kegiatan yang di lakukan non-perusahaan dinilai lebih netral dan dipercaya konsumen lainnya karena bebas kepentingan.”

KAPITALISME TIDAK DAPAT MEMBERIKAN ALASAN UNTUK HIDUP

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:08 pm oleh aank1985

Kapitalisme menciptakan peluang bagi hidup yang makmur dan terbentuknya perusahaan yang makmur, tetapi ini masih belum cukup. Menurut Charles Handy, personil dan perusahaan perlu mencari suatu maksud yang lebih besar bagi keberadaan mereka.
Hidup ini lebih dari sekedar mencari uang dan membeli sesuatu. Untuk menjadi kaya, guru tidak perlu menjadi guru. Para sukarelawan mencati imbalan yang tidak ada hubungannya dengan uang.
Namun, karena system kapitalis menggunakan uang untuk mengukur keberhasilan dan nilai, maka mencari uang telah menjadi sasaran puncak bagi kebanyakan orang, lembaga, dan bahkan masyarakat. Mereka akan segera menyadari bahwa itu saja tidak cukup.
Janji utama dari seluruh pemerintah yang baru adalah menjadikan warganya lebih kaya dari keadaan mereka saat ini. Yang menjadi asumsi, yang di anut oleh para pemilih adalah bahwa kekayaan yang lebih besar dengan sendirinya akan menjadikan hidup lebih bahagia.
Negara – Negara menetapkan peringkat untuk diri mereka sesuai dengan Product Nasional (GNP) yang di dasarkan atas harga aktivitas dan produk. Produk yang tidak mencakup upaya mencari uang di abaikan, seperti membesarkan anak.
Organisasi apapun, bukan hanya perusahaan tetapi juga sekolah. Organisasi relawan, dan rumah sakit. Hanya mencari “bottom line” (keuntungan akhir).
Yang menjadi mantera baru adalah menjalani segala sesuatu, bahkan hidup kita. “sama seperti bisnis” yang artinya mencari laba. Biarkan pasar yang mengatur segala sesuatunya. Disiplin pasar yang mendorong organisasi dan lembaga untuk mencari laba lenyap sama sekali, menciptakan masyarakat yang efisien.
Namun, apakah efisiensi selalu lebih baik? Rumah sakit yang mengeluarkan pasiennya yang sudah tua dan masih dalam keadaan sakit tentu dapat meningkatkan bottom line-nya tetapi hampir tidak dapat di anggap “efisien” atau “berhasil”. Sekolah dan lembaga kesejahteraan social juga memiliki mandate yang tidak terkait dengan permintaan pasar.
Pasar seringkali mendorong kreativitas dan inovasi. Namun, disiplinnya tidak sesuai. Mencari uang tidak selalu menunjukkan kepada kita hal benar yang harus di lakukan.
Efisiensi juga menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berarti uang yang lebih banyak bagi siapa saja. Namun untuk apa uang tambahan itu harus di belanjakan?
Seringkali, pertumbuhan mendorong pertumbuhan yang tidak ada manfaatnya dan sia – sia. Konsumen saat ini membayar lebih untuk mesin cuci dengan dua belas setelan – tetapi yang di gunakan tetap hanya tiga saja.
Semakin lama konsumen membeli hanya untuk membeli. Pembelian seperti ini mungkin tidak menambah nilai pada kehidupan mereka atau bagi masyarakat, tapi siapa yang peduli? Yang penting angka – angka ekonominya kelihatan hebat.
Kapitalisme menciptakan kekayaan dan meningkatkan lehidupan lebih efektif ketimbang system ekonomi apapun lainnya.
Tetapi kapitalisme haruslah sarana, bukan tujuan. System ekonomi dari dirinya sendiri tidak dapat menetapkan maksud serta pedoman kehidupan atau masyarakat secara umum. Efisiensi ekonomi atau keuntungan ekonomi bukan merupakan alasan bagi keberadaan lembaga atau individu. Untuk itulah mereka harus memandang melampui ekonomi.
Fase – fase hidup yang lazim mulai dari perjuangan untuk bertahan hidup, hingga keakuan yang benar – dapat menyesatkan. Ralph Woldo Emerson mungkin yang terbaik yang pernah mengungkapkan impian keakuan yang benar sewaktu ia mendefinisikan keberhasilan sebagai.
“….Mendapat respek dari orang – orang yang cerdas dan mendapat kasih sayang dari anak – anak….; menghargai kecantikan, menemukan yang terbaik dalam diri orang lain, meninggalkan dunia dalam keadaan sedikit lebih baik, baik anak yang sehat, sepetak kebun, atau kondisi social yang dapat di pulihkan…”
Keakuan yang benar berlaku juga untuk perusahaan di samping bagi individu. Perusahaan membutuhkan suatu tujuan atau maksud di luar keuntungan agar dapat bertahan hidup untuk jangka panjang.
Karena jika perusahaan hanya ada untuk menghasilkan laba. Berarti perusahaan tidak lebih dari alat penghasil uang bagi pemiliknya. Perusahaan berarti tidak memiliki kepribadian yang menerap sifatnya atau tidak memiliki tujuan.
Hal ini jelas keliru. Perusahaan memiliki tujuan, menambah nilai. Perusahaan menambah nilai dengan menghasilkan sesuatu yang tidak ada di sana sebelumnya atau, jika sudah ada di sana, membuatnya lebih murah lebih baik, atau tersedia bagi lebih banyak orang.
Microsoft menjadikan Bill Gates sebagai salah seorang terkaya di dunia. Namun tujuan Microsoft bukan untuk memenuhi pundi – pundi Gates. Microsoft berhasil karena perusahaan tersebut membantu menjadikan hidup manusia lebih baik melalui piranti lunaknya. Milyaran dollar yang di dapat Gates hanyalah akibat – samping dari keberhasilan tersebut. Walaupun memang saat ini contoh Microsoft dalam memberikan manfaat kepada masyarakat di rasa telah tidak sesuai lagi dengan kehadiran Open Source (Linux) yang lebih murah,dan bermanfaat. Namun contoh keberhasilan microsoft di masa lalu masih tetap di anggap relevan.
Keberhasilan Microsoft bukan hanya di karenakan oleh tujuannya. Hal itu juga di karenakan oleh semangat kerja yang luar biasa serta kreativitas para karyawannya. Banyak dari mereka yang telah menjadi jutawan, namun tetap bekerja di Microsoft. Alasannya karena senang kepada pekerjaan mereka.
Perusahaan perlu mencapai keabadian agar tetap eksis untuk selama – lamanya. Namun perusahaan hanya bisa abadi apabila perusahaan tersebut tetap eksis, layak mendapat tempat dalam masyarakat modern.
Untuk itu, perusahaan harus mementingkan diri sendiri secara benar. Perusahaan harus memandang jauh melampui laba sebagai sasaran dan menemukan maksud atau tujuan yang lebih besar. Tujuan social ini, yang bukan tujuan ekonomi, harus di definisikan melalui orang lain – bukan hanya pelanggan, tetapi juga karyawan di dalam perusahaan dan dunia di luarnya.
MASYARAKAT YANG LEBIH BAIK; Pemerintah Harus Mengilhami Tanggung Jawab
Dalam suatu masyarakat yang layak, semua lembaga, termasuk lembaga pemerintah dan pendidikan, akan membantu orang menjalani hidup keakuan yang benar.
Pemerintah yang demokratis sudah lama menyadari peran mereka dalam membantu masyarakat yang dirugikan menjalani hidup yang lebih baik. Namun, pemerintah gagal membantu masyarakat memikul tanggung jawab atas hidup mereka sendiri.
Keakuan yang benar didasarkan atas gagasan bahwa kita memikul tanggung jawab untuk berbuat yang terbaik dari hidup kita melalui orang lain. Menunggu “uluran” tangan pemerintah sama sekali bukan keakuan yang benar.
Pemerintah harus membantu masyarakat memenuhi tanggung jawab mereka, bukan meniadakan tanggung jawab tersebut!
Peran pemerintah adalah menyediakan infrastruktur kehidupan dalam masyarakat. Infrastruktur ini terdiri dari:
Informasi – hak untuk mengetahui apa yang sedang berlangsung.
Keterlibatan – hak untuk ambil bagian dalam keputusan.
Individualitas – hak atas kebebasan dan perlindungan terntentu sebagai individu.
Di bidang perawat kesehatan misalnya, pemerintah harus menjamin masyarakat memiliki informasi dan pilihan dalam perawatan kesehatan dan bahwa hak perawatan kesehatan mereka terlindungi.
Pilihan menjadi kata kunci disini. Orang harus bertanggung jawab atas pilihan perawatan kesehatan yang mereka ambil, termasuk memilih rumah sakit dan dokter yang berbeda.
Di Negara – Negara yang memiliki perawatan kesehatan nasional, pemerintah dapat memberikan voucher kapada masyarakat – cek yang ditandatangani oleh pejabat wilayah – dan membiarkan mereka memilih penyedia mereka. System ini juga akan meningkatkan layanan karena pihak penyedia di paksa bersaing bagi pasien.
Sistem yang sama dapat diterapkan di bidang pendidikan, dimana voucher memungkinkan orang memilih sekolah atau universitas.

“Terbunuhnya” Kultur Tatap Muka.

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:07 pm oleh aank1985

Setidaknya sejak era 1980-an, tanpa sadar kita menyelenggarakan “perkabungan” kebudayaan atas “terbunuhnya” kultur tatap muka. “Kita” makin kesulitan untuk bertemu, berdialog secara intens, saling menyelami batin, mencium bau keringat, dan mengenali kemanusiaan dalam sebuah ruangan social yang kondusif. “Kita” mengalami keterasingan: kesendirianpun telah mengkristal menjadi kesunyian.
Dulu, kita bisa bareng – bareng nonton ketoprak, ludruk kelilingan, atau jenis kesenian tradisional lainnya yang manggung di desa atau di kota kita. Tap dimanakah mereka sekarang? Di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta kesenian yang mobil tinggal satu – dua atau bahkan telah punah. Sementara panggung – panggung Ramayana atau wayang orang semakin jauh dari tepuk sorak dan ingar – bingar penonton. Para pemain menggigil dibalut kemiskinan yang mencemaskan.
Begitu juga bioskop – bioskop di kota kecil maupun pinggiran. Sejak era sinepleks menguasai pasar, mereka makin ditinggalkan penontonnya dan akhirnya bernasib teragis: gulung tikar. Ada satu dua bioskop yang masih bertahan, tatapi merekapun hanya tinggal menghitung waktu hingga maut menjuputnya. Nasib yang sama juga banyak dialami banyak sineplex, kecuali yang ada di kota – kota besar, seperti Jakarta, Medan, dan Surabaya,
Dulu, diberbagai kota muncul banyak lingkaran studi (diskusi) yang mampu melahirkan kesadaran kritis atau wacana – wacana yang membuat benak kita penuh sesak pengetahuan. Dari lingkar disukusi kecil ini banyak lahir tokoh muda, yang kini eksis di berbagai bidang. Kini, mungkin lingkaran diskusi ini masih ada meskipun jumlahnya menyusut tajam.
Paparan contoh di atas hanyalah sebagian (kecil) dari “matinya” seni pertunjukan, yang tentu juga terjadi di kota – kota lain di negeri ini. Kita melihat kenyataan, bukan hanya kesenian yang sepi, tapi juga forum – forum diskusi dan kegiatan sosiokultural lainnya yang di anggap tidak memiliki “nilai – guna”.
Semula kita menyangka: kematian mereka hanya karena dibunuh kapitalisme yang menghadirkan siaran televise di ruang tamu atau hal – hal lain yang member kenyamanan dan mudah dijangkau. Hal itu benar. Kapitalisme memang punya tabiat rakus dalam melipatgandakan modal untuk meraih keuntungan yang sebesar- besarnya. Ia tidak mau peduli dan berbagi dengan nasib pihak – pihak lain yang juga punya hak hidup. Prinsipnya: survival of the fittest. Hanya yang kuat dan berkuasa yang mampu bertahan.
Matinya jenis kesenian atau tontonan yang live ternyata bukan hanya disebabkan perang modal daro “kapitalis” (juragan) kecil melawan kapitlais raksasa. Begitu juga dengan “matinya” forum – forum sosiokultural. Ada hal yang lebih mendasar: “Terbunuhnya” kultur tatap muka dalam masyarakat.
Pragmatisme
Kultur tatap muka tentu tidak sesederhana “pertemuan saling menatap wajah”, melainkan sebuah budaya bercorak komunal yang menganggap penting kebersamaan untuk menciptakan solidaritas social dan merawat nilai – nilai kemanusiaan. Didalam nilai kebersamaan itu, pada hakikatnya, setiap individu memperkuat ikatan sosialnya sekaligus meneguhkan bahwa masing – masing orang merupakan bagian integral dari masyarakat atau komunitas. Di sini setiap individu melakukan pemaknaan social, baik yang terkait dengan diri sendiri maupun terkait dengan orang lain. Selain itu, setiap individu juga melakukan pemaknaan cultural: mereka melakukan dan konfirmasi dan peneguhan (istilah Umar Kayam) atas nilai – nilai ideal yang disepakati bersama.
Siapakah pembunuh kultur tatap muka? Kita bisa mengajukan pragmatimse, sebagai terdakwa. Menurut budayawan Kuntowijoyo, pragmatism berasal dari bahasa latin pragmaticus: praktis, aktif, sibuk; bahasa Yunani pragma berarti bisnis. Filsafat Pragmatisme tumbuh di Amerika Serikat; ditumbuhkan oleh William James (1842 – 1910) melalui buku pragmatism. Pokok ajaran (pragmatism) ini adalah sebuah kepercayaan itu dinilai benar jika berguna. Ukuran dari kebenaran ialah apakah suatu kepercayaan dapat mengantarkan orang kepada tujuan. Pragmatism menolak pandangan tentang kebenaran kaum rasionalis dan idealis, yang tidak berguna dalam kehidupan praktis (Kuntowijaya : 2005).
Pragmatisme menemukan ruang aktualisasi yang luas bersama dengan semakin menguatnya kapitalisme. Kata – kata kunci dalam kapitalisme adalah: praktis, pragmatis, efektif, dan efeisien. Ketika semua orang tanpa reserve mengimanai materialism, maka “nilai – guna” (yang disodorkan pragmatisme) menjadi pilihan paripurna. Kepentingan – kepentingan jangka pendek menjadi pilihan yang harus diambil untuk survive. Apapun, apapun dilakukan demi pereolehan yang dicapai secara instan itu. Segala hal yang tidak “cepat saji” atau “cepat raup” ditolak tanpa permisi dan basa – basi.
Di mata pragmatism, kultur tatap muka dianggap bukan sebagai “kebenaran” karena tidak memiliki guna (mendatangkan hasil secara langsung). Prinsip orang, kudu mikolehi (harus mendapat keuntungan secara konkret atau keuntungan secara cepat raup). Bertabrakan dengan prinsip – prinsip cultural dalam budaya tatap muka; perawatan atau pengukuhan nilai, solidaritas social dan lainnya, bagi orang pragmatis, nilai – nilai itu terlalu abstrak dan “tidak bisa dimasak menjadi nasi” (orang jawa bilang ora biso diliwet).
Kapitalis bergandengan tangan dengan pragmatism telah sukses “mengubur” idealism secara hidup – hidup. Ini terbukti, pragmatism laku dimana – mana: ya bidang politik, ya bidang agama, ya hokum, ya ekonomi, ya pendidikan, komplet. Akibatnya, terjadi humanisasi karena kekuatan modal beroperasi tanpa control, termasuk control dari Negara. Behkan Negara cenderung berposisi sebagai “panitia pasar bebas” yang diciptakan dan dibangun kapitalisme.
Kultur tatap muka, yang salah satu tujuannya, adalah merawat kemanusiaan dari bahaya robotisasi manusia yang diciptakan industrialism juga makin tenggelam ke dalam dasar degradasi manusia. Dalam setiap pertemuan yang cenderung muncul bukan manusia, melainkan actor – actor yang bernama fungsi atau guna. Manusia cenderung tereduksi menjadi sekedar fungsi di berbagai bidang kehidupan. Siapapun yang berupaya merebut kemanusiaannya, mereka akan di cap sok idealis, keras kepala, tidak realistis, jadul ( zaman dulu, kuno ) dan olok – olok lain. Mungkin masyarakat sekarang tidak lagi butuh budaya tatap muka, melainkan tatap fungsi, tatap guna, tatap hasil, tatap upah.

Tamatnya Ideologi dan Latar Belakang

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:06 pm oleh aank1985

ADA kecenderungan yang sangat kuat bahwa ideologi sudah tamat riwayatnya. Itulah kecenderungan yang terjadi dalam konteks mencari wakil presiden yang sedang giat-giatnya dilakukan elite partai. Proses masih terus berjalan, tetapi kecenderungan itu sudah dapat dilihat.

Pencalonan SBY menjadi presiden dari Partai Demokrat kiranya akan didukung empat partai yang berbasiskan Islam, yaitu PKB, PKS, PAN, dan PBB, serta partai berbasiskan Kristen PDS.
Sementara itu, calon presiden Megawati Soekarnoputri yang diusung PDI Perjuangan akan berkoalisi dengan Gerindra dan Hanura serta banyak disebut dengan PPP yang berlambang Kabah. Bila itu yang terjadi, itulah perkawinan paham kebangsaan dengan Islam.

Bagaimana dengan calon presiden Jusuf Kalla yang dijagokan Partai Golkar? Sampai kemarin belum jelas Golkar akan berkoalisi dengan partai apa.

JK telah bertemu dengan Megawati dan Prabowo, tetapi belum ada tanda-tanda terjadi koalisi.
Yang jelas, sulitnya mendapatkan 25% suara rakyat atau 20% kursi DPR menyebabkan koalisi untuk mencari cawapres menjadi cair dan longgar.

Gejala umum yang muncul ke permukaan adalah pengelompokan parpol-parpol dalam koalisi tidak lagi terikat kepada kesamaan ideologi. Partai-partai atau tokoh-tokoh yang berbeda secara ideologis ternyata tidak memiliki hambatan berkoalisi untuk mengusung kepentingan yang sama.
Bahkan, latar belakang sejarah yang berlawanan pun tidak menjadi perkara. Itulah yang mengundang banyak pertanyaan.

Dalam gerbong yang mengusung incumbent SBY sebagai capres misalnya, ada Partai Demokrat, PKS, dan PDS yang dalam konteks ideologis sesungguhnya terpaut jarak cukup jauh. Namun, perbedaan itu tidak menghalangi partai-partai tersebut untuk berkoalisi.

Koalisi Megawati dan Prabowo adalah koalisi dua latar belakang yang saling berseberangan. Soemitro Djojohadikusumo adalah ayah Prabowo yang merupakan ‘musuh politik’ Bung Karno yang adalah ayah Megawati.

Ayah keduanya berseberangan secara politik, tetapi kini pada generasi anak, ternyata dapat bertemu dan bersatu untuk mengusung kepentingan bersama. Pertanyaannya adalah mengapa partai-partai atau tokoh-tokoh yang secara ideologis dan latar belakang sejatinya ibarat air dan minyak itu dapat berkumpul dalam sebuah koalisi? Tidakkah yang sepenuhnya bekerja semata pragmatisme? Demi kepentingan sesaat, ideologi partai dapat disingkirkan.

Demi memperoleh kursi kabinet, perbedaan dapat dilupakan. Pertanyaannya adalah berapa lama kekompakan itu bisa bertahan? Kabinet Indonesia Bersatu tentu saja dapat menjadi bukti bahwa koalisi rapuh karena terlalu banyak yang diakomodasi tanpa mempersoalkan platform.

Koalisi yang sehat adalah koalisi yang didasarkan pada kesamaan platform. Bisakah kesamaan platform itu dibentuk secara mendadak? Singkatnya, pemilu presiden kali ini jelas sebuah medan persaingan yang unik. Yaitu tidak soal siapa berkoalisi dengan apa dan siapa, yang penting bisa menang menjadi presiden.

Gelombang Fundamentalisme

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:06 pm oleh aank1985

Sebuah kekhawatiran yang muncul di tengah-tengah meluasnya arus-arus demokratisasi di dalam komunitas agama-agama, baik di negara berkembang maupun di negara maju sekalipun yaitu gelombang fundamentalisme. Indonesia dan Malaysia harus diakui bahwa keduanya sedang menghadapi tumbuhnya fundamentalisme.
Setidaknya fenomena tersebut dibuktikan oleh dua hal penting: Pertama, menguatnya sayap Islam Politik, yaitu partai atau gerakan keagamaan yang ingin memasukkan Islam dalam kurikulum politik kebangsaan dan kenegaraan. Fakta tersebut sebenarnya bukanlah hal baru, karena partai-partai Islam sudah ada sejak lama. PAS di Malaysia dan Masyumi, PPP, belakangan PKS mengusung “islamisasi negara” dengan mengatasnamakan Piagam Madinah.
Kedua, menguatnya kecenderungan kelompok-kelompok radikal yang mengusung kekerasan sebagai salah satu inti gerakannya. Khususnya kekerasan dalam menyikapi perbedaan dan keragaman. Kabar tentang penutupan gereja oleh kelompok yang mengatasnamakan doktrin keagamaan tertentu merupakan fakta yang tidak bisa dihindarkan begitu saja. Cara pandang terhadap “yang lain” masih terlihat hitam dan putih, sehingga yang dikedepankan hanya perlawanan dengan menggunakan kekerasan. Bahkan tak tanggung-tanggung, ada gerakan keagamaan yang memurtadkan kelompok yang lain.
Lalu pertanyaannya, kenapa fenomena tersebut terus berkembang, padahal konstitusi kedua negara tersebut sejak awal mengakui sebagai secular democratic constitution? Apa yang mesti dilakukan kalangan muda untuk membangun demokrasi di kedua negara tersebut?
Alasan utama yang tidak bisa dimungkiri, bahwa agama dan negara dua hal yang sulit dipisahkan. Di samping, lemahnya pendidikan demokrasi atau kewarganegaraan di komunitas agama-agama. Artinya, demokrasi bisa masuk dalam ranah negara, tapi dalam ranah agama, seperti tempat-tempat ibadah, demokrasi kadangkala masih dianggap tabu, bahkan belakangan dianggap “barang haram”.
Oleh karena itu, gelombang fundamentalisme di kedua negara ini sulit dihindarkan. Karen Armstrong (2000), pakar sejarah agama-agama secara tegas mengabarkan bahwa fundamentalisme adalah warisan yang inheren dan absah dalam tradisi agama-agama, khususnya agama semitik. Yahudi, Kristen dan Islam sama-sama mempunyai pengalaman dan tradisi fundamentalisme. Karena itu, menguatnya arus fundamentalisme agama-agama di belahan dunia meruntuhkan pelbagai macam tesis dan pandangan. Kemodernan yang dianggap akan dapat menggeser posisi fundamentalisme, tapi pada akhirnya harus menerima fundamentalisme sebagai fakta sosial. Bahkan boleh dibilang, bahwa posisi fundamentalisme dan kemodernan bersifat sejajar.
Mahmood Mamdani, dalam wawancaranya dengan Asia Source, bahwa fundamentalisme adalah fenomena kultural yang melanda agama-agama. Fundamentalisme dalam tradisi Kristen di Amerika, misalnya merupakan sebuah perlawanan atas mereka yang ingin “menyimpang” dari doktrin dan teks keagamaan. Begitu pula Fundamentalisme dalam tradisi Islam juga merupakan upaya untuk mempertahankan sejarah, doktrin dan teks keagamaan. Oleh karena itu, fundamentalisme adalah fenomena historis.
Namun, satu hal yang perlu mendapat perhatian bersama, bahwa fundamentalisme sebagai fenomena historis mengalami perkembangan yang menurut Mahmood harus mendapatkan sebuah apresiasi dan sikap kritis. Dr. Muhammad Imarah (1999) melakukan kritik yang mendasar, terutama bagi mereka yang mencoba mencampuradukkan antara Fundamentalisme Islam dan Fundamentalisme Kristen. Pada mulanya, fundamentalisme dalam tradisi Islam adalah upaya untuk menggali dan bahkan mengembangkan dasar-dasar keagamaan, sebagaimana terdapat dalam khazanah Ushul Fikih. Bagi mereka yang memahami khazanah Ushul Fikih dengan baik, maka Islam akan berwajah progresif. Tapi sebaliknya, bagi mereka yang mendekati teks dan doktrin keagamaan tanpa melalui media Ushul Fikih, maka kemungkinan akan menjadi fundamentalis yang radikal, bahkan teroristik.
Kenyataan ini sesungguhnya menunjukkan adanya keragaman fundamentalisme. Penulis sendiri membagi fundamentalisme dalam dua hal: Pertama, fundamentalisme positif, yaitu fundamentalisme yang menjadikan teks dan tradisi keagamaan sebagai sumber moral dan etika kemaslahatan publik. Kedua, fundamentalisme negatif, yaitu fundamentalisme yang menjadikan teks dan tradisi sebagai sumber dan justifikasi atas kekerasan.
Oleh karena itu, fundamentalisme dalam tradisi Islam sekalipun tidaklah statis dan tidaklah monolitik. Untuk melihat keragaman corak fundamentalisme dalam tradisi Islam bisa dilihat dari keragaman aliran, mazhab, institusi dan tradisinya. Dengan demikian, pandangan Muhammad Imarah dengan mudah dapat dipatahkan, karena melihat fundamentalisme Islam secara doktrinal saja tidak cukup dan cenderung menyederhanakan masalah. Apalagi hanya melihat fundamentalisme dari sisi positifnya dan tanpa melihat sisi-sisi negatif (madharrat) di balik fundamentalisme. Pandangan Muhammad Imarah bahkan bisa dianggap terlalu apologetik.
Sisi negatif yang mulai kentara dari fundamentalisme adalah pergeseran ranah fundamentalisme dari ranah privat menuju ranah publik. Artinya, bila selama ini fundamentalisme agama-agama hanya berkutat dalam kaitan umat dengan teks, maka fundamentalisme mutakhir bergulat dengan politik praktis. Fundamentalisme digunakan sebagai kendaraan untuk merengkuh panggung politik dan mengamini kekuasaan. Mahmood Mamdani (2005) menegaskan, bahwa salah satu fenomena fundamentalisme di era modern adalah kecenderungan politik. Bahkan dengan tegas, Mahmood tidak mau menggunakan istilah “fundamentalisme”. Menurut dia, mereka bukanlah fundamentalis, melainkan gerakan radikal-politis.
Jim Wallis dalam bukunya God’s Politics: A New Vision for Faith and Politics in Amerika menunjukkan wajah baru perselingkuhan antara agama dan politik di negara yang super-demokratis sekalipun. Kalangan kanan-konservatif ditengarai telah menyokong salah satu kepentingan politik tertentu.
Nah, fundamentalisme dan radikalisme merupakan fenomena yang tidak terhindarkan, apalagi di Malaysia dan Indonesia. Dalam hal ini perlu pembacaan kritis atas hal ini. Pembacaan kritis tersebut harus dilakukan dalam dua level sekaligus; Pertama pada level kalangan progresif dan kedua pada level kalangan fundamentalis. Kritik pada kalangan progresif harus dilakukan, karena tumbuhnya fundamentalisme di kedua negara ini disebabkan kurang maksimalnya gerakan progresif. Gerakan progresif di Turki dan Pakistan barangkali lebih mempunyai keberanian dan target sasaran yang jelas. Sedangkan di Malaysia dan Indonesia, menurut Farish A. Noor, tidak memiliki agenda terhadap demokratisasi. Gerakan progresif tidak lebih dari sekadar justifikasi ideologi politik dan pembangunan (2004:2)
Pada level kalangan fundamentalis setidaknya dilakukan dua hal penting: Pertama, kalangan agamawan dari pelbagai agama harus memahami betul fungsi dan posisi agama di tengah-tengah masyarakat. Artinya, kalangan agamawan harus mengembalikan agama kepada khitahnya, yaitu sebagai pembawa obor bagi keadilan dan kesejahteraan sosial. Hal-hal yang hanya menimbulkan kontroversi yang tidak efektif sebaiknya dihindarkan.
Kedua, kalangan agamawan dari pelbagai agama harus mendorong lahirnya gerakan bersama untuk kemanusiaan. Pluralitas adalah sunnatullah yang sejatinya dibingkai dalam kerangka kemaslahatan publik, tanpa harus membatasi pada kepentingan yang bersifat sektarian. Puncaknya, pluralitas harus mampu mendelegitimasi kekerasan yang mengatasnamakan agama apapun.
Kedua hal inilah setidaknya yang akan mampu menetralisir fundamentalisme agama-agama dan mengambilalih peran agama untuk tujuan kemanusiaan dan keadilan sosial. Tapi, harus diakui bahwa untuk mewujudkan hal tersebut tidak semudah membalikkan kedua belah tangan, karena fundamentalisme makin lama makin memperlihatkan kekuatannya. Munculnya sejumlah fatwa yang kontraproduktif dengan kebersamaan dan kemanusiaan setidaknya juga menjadi tanda menguatnya fundamentalisme negatif tadi. Oleh karena itu, wajah keberagamaan yang humanis perlu dikedepankan dalam rangka membangun demokratisasi yang mulai mekar dan tumbuh dengan baik.

Halaman sebelumnya · Halaman berikutnya