PARODI ZAMAN INI
17 Apr 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in Economic, Philoshopy, Politic
Banyak orang tak risi memamerkan kekayaan, ditonton jutaan orang mengais sisa rezeki untuk bertahan hidup. Iklan-iklan yang menawarkan gaya hidup mewah bertebaran, ditonton orang-orang dengan perut lapar dan mata kosong.
Tuntutan masyarakat yang kehilangan hak hidup akibat kerusakan social-ekologis dan perampasan sumber daya menjadi parodi. Para pelaku, penguasa sumber daya (ekonomi dan politik), tak sulit mematut dalih untuk membalikkan posisi korban sebagai pelaku kekerasan.
Kemanusiaan menampakkan wajahnya saat terjadi bencana. Namun, tak sulit juga mengenarai solidaritas itu semu dan tersekat, bersifat karikatatif dan sangat sementara. Bahkan tak sedikit yang memanfaatkan untuk kepentingan politik, melalui umbul-umbul bernuansa keagamaan atau bendera berlambang partai.
Selama berabad-abad warga tak dididik belajar menghormati hidup, sebaliknya terus-menerus dipaksa belajar berlutut di hadapan kekerasan sekalipun dengan softpower untuk kemudian ikut memproduksi dan mereproduksi kekerasan.
Sejarah negeri ini mengenal kekerasan dalam spectrum luas, mulai dari amuk massa dan kekalapan tak terkendali (amok), sampai kekerasan pasif, seperti pepe, tindakan protes dengan menyakiti diri sendiri. Warga tidak pernah dididik secara sistematis untuk belajar bernegoisasi dengan kedudukan setara sehingga membuat wajah kekuasaan tampak rakus dan keji. Juga tak terlihat jejak pembelajaran tentang dampak kekerasa, seberapapun kejam dan luas sekalanya.
SocialVibe