08.28.09

Mempertanyakan Relevansi APEC

Ditulis dalam Uncategorized pada 7:59 pm oleh aank1985

Di tengah krisis ekonomi serta kekhawatiran akan terjadinya resesi dunia, memang sulit bagi kita untuk memikirkan APEC dan maknanya bagi Indonesia. Pertemuan APEC di Kuala Lumpur baru-baru ini sekali lagi memperlihatkan simbol kerja sama yang khas, dengan masing-masing kepala negara mengenakan kemeja batik Malaysia yang berpadu rancak dengan warna hijau daun kelapa. Namun panorama ceria itu tidak menutup kenyataan bahwa para kepala negara berdiri kaku, bahkan saling membuang muka.

Padahal, relevansi APEC sedang dipertaruhkan, dan pada saat ini ada tiga pertanyaan pokok yang perlu dikaji secara mendalam. Pertama, relevansi APEC bagi komitmen negara-negara anggotanya terhadap “Sasaran Bogor”, yaitu perdagangan dan investasi bebas dengan tenggat waktu tahun 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara sedang berkembang. Komitmen ini dapat berubah karena krisis ekonomi telah menyebabkan proses liberalisasi dan globalisasi dipertanyakan. Ternyata, program peningkatan liberalisasi kolektif di sembilan sektor, yang disebut sebagai Early Voluntary Sector Liberalization (EVSL), tak juga dapat disepakati.

Di samping itu, salah satu negara yang paling mempersoalkan liberalisasi justru adalah tuan rumah APEC, Malaysia, yang telah melakukan kontrol devisa. Hong Kong, yang selama ini dianggap jagoan ekonomi pasar, juga melakukan intervensi di pasar modalnya. Walaupun tidak tercapai kesepakatan untuk program EVSL, tapi yang menggembirakan ialah tidak ada anggota APEC yang menarik diri dari komitmen liberalisasi. Bahkan, ada seruan untuk mempercepat negosiasi secara menyeluruh (broad-based) di forum multilateral WTO. “Good news” lainnya adalah langkah-langkah Malaysia tidak disambut dengan melakukan de-liberalisasi. Sebaliknya, ada kemajuan dalam proses liberalisasi di masing-masing negara, yang merupakan ciri khas kawasan APEC. Cile akan menurunkan rata-rata tarifnya dari 11 persen menjadi 6 persen dalam kurun waktu 5 tahun. Tiga negara di bawah program IMFKorea, Thailand, dan Indonesiajuga memiliki program liberalisasi dan reformasi yang sangat komprehensif.

Negara anggota yang lain juga diperkirakan melakukan penyesuaian sebagai respons terhadap krisis. Maka, proses liberalisasi melalui wadah APEC diharapkan dapat memberi kepercayaan kepada negara anggotanya agar tetap pada komitmen ekonomi terbuka, dan mencegah kecenderungan proteksionisme dari negara maju. Kendati bagi Indonesia liberalisasi tanpa basis kelembagaan dan kapasitas yang menunjang bisa menyebabkan krisis, patut juga disimak bahwa dalam mengatasi krisis ekonomi kini, komitmen pada liberalisasi ekonomi juga perlu dipertahankan. Tentunya, dampak buruk liberalisasi, seperti arus modal jangka pendek, tetap harus diantisipasi.

Kedua, relevansi APEC melakukan respons terhadap krisis ekonomi yang melanda kawasan ini. APEC memang lahir dan besar dalam keadaan negara anggotanya semua tengah mengalami pertumbuhan pesat. Dalam kondisi pertumbuhan tinggi, negara-negara APEC tidak mampu melakukan respons yang tangkas untuk menangkal krisis. Maka, hanya para pemimpin APEC-lah yang diharapkan memberi solusi dengan cepat dan berani. Memang, pertemuan APEC di Vancouver pada 1997 hasilnya sangat tidak memuaskan dan tidak ada tindak lanjutantara lain karena waktu itu bahaya krisis belum sepenuhnya disadari. Bagaimana dengan hasil Kuala Lumpur? Ternyata, para kepala negara APEC juga tidak berhasil memberikan respons yang diharapkan untuk mengatasi krisis.

Penegasan dan prioritas yang ditetapkan para kepala negara memang sudah tepat, yaitu: jaringan sosial; penyempurnaan sistem keuangan internasional; memperkuat sistem perbankan nasional dan global yang memenuhi syarat prudensial internasional; pemantauan dan manajemen arus dana jangka pendek, termasuk penyempurnaan informasi yang harus disampaikan oleh hedge funds dan badan pengelola dana lain; juga pembentukan kelompok kerja dengan pihak swasta untuk menangani masalah utang dan manajemen risiko. Namun, masih sulit untuk menilai arti konkret kata-kata tersebut karena pelaksanaan dan proses realisasinya sangat tidak jelas.

Hasil konkret bukannya tidak ada, yaitu upaya membantu proses restrukturisasi perbankan dan utang swasta. Walaupun paket dan rinciannya belum jelas, AS telah menawarkan US$ 5 miliar dan diperkirakan akan ditambah US$ 5 miliar lagi oleh Jepang, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia. Bantuan ini dikaitkan dengan program restrukturisasi utang swasta dan perbankan, misalnya untuk dana garansi obligasi yang diterbitkan oleh negara-negara tersebutdalam rangka rekapitalisasi sektor perbankan. Hanya saja, jumlahnya kecil dan mekanismenya belum jelas. Ketiga, relevansi APEC di tengah krisis politik yang melanda berbagai anggotanya.

APEC tidak berpegang pada konsep “non-interference” dan bukan forum untuk membahas politik. Namun pertemuan APEC kali ini sangat diwarnai masalah politik, terutama karena penahanan atas diri Anwar Ibrahim, mantan orang nomor dua di negara jiran itu. Memang, pujian yang disampaikan Wakil Presiden AS, Al Gore, kepada kelompok reformis di Malaysia telah menjatuhkan martabat pemerintah yang kini berkuasa di negeri itu. Walaupun pesan Gore dianggap melampaui batas dan tidak diplomatis, tapi pesan itu sangat penting. Lagi pula, reformasi dan kebijakan ekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa komitmen untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bijaksana (good governance). Maka, APEC pun harus mendewasakan diri sehingga dapat lebih bersikap terbuka, bukan saja untuk membahas kebijakan ekonomi masing-masing negara, tetapi juga aspek politiknya. Terlebih dalam era globalisasi ini, ketika kebijakan yang diambil oleh suatu negara dapat mengimbas atau membawa pengaruh bagi negara lain.

Anda Pasti Bisa Bila Anda Berfikir Bahwa Anda Bisa

Ditulis dalam Motivation and Inspiration pada 7:54 pm oleh aank1985

Kalau ada buku yang bisa membuat saya menjadi sangat percaya diri dan termotivasi untuk bergerak dan meraih impian saya, buku inilah yang saya maksud. Cara bertutur dari buku ini jauh dari kesan menggurui. Cerita tentang pengalaman penulis dan orang-orang yang telah ‘tersentuh’ oleh pandangan dan motivasi yang disampaikan secara persuasif oleh penulis menjadi daya tarik buku ini.Walaupun buku ini ditulis oleh seorang pendeta, namun pesan moral di dalamnya berlaku universal untuk semua manusia, pemeluk agama manapun.

Buku ini mengajarkan kita bahwa di setiap bagian diri kita, ada satu kekuatan yang apabila kita dapat melatihnya, maka segala rintangan yang kita hadapi, akan dapat kita atasi. Disiplin diri untuk selalu berfikir positif dan tidak cepat menyerah adalah suatu hal yang dapat membuat sesuatu yang sebelumnya kita anggap tidak mungkin menjadi hal yang sangat mungkin terjadi.

Seseorang yang selama ini berfikir bahwa ia tidak sanggup melakukan sesuatu yang menurutnya hebat, suatu saat dapat berbalik menjadi seseorang yang dengan mudahnya menciptakan sesuatu yang spektakuler, yang selama ini ia ataupun orang lain tidak pernah membayangkannya. Hal itu dapat terjadi hanya dengan mengubah cara berfikirnya. Seseorang sebenarnya tidak pernah menjadi orang ‘biasa saja’ dengan otak/fikiran kelas dua. Itu hanya karena dia berfikir bahwa dirinya ‘hanya’ seperti itu. Sebenarnya dalam dirinya, terkubur kepribadian sejatinya, yaitu seorang yang luar biasa dengan fikiran kelas satu, dan hanya dengan disiplin diri yang kuat, kepribadian itu dapat dimunculkan.

Saat seseorang sadar akan potensi dirinya, ia akan sadar bahwa ia tidak akan dapat terkalahkan hanya karena ia pernah memiliki perasaan inferior. Buku ini mengajarkan kita agar jangan pernah percaya bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita kerjakan. Banyak hal-hal besar di dunia ini dicapai oleh orang-orang yang tidak tahu apa yang tidak dapat mereka kerjakan. Jadi mereka terus mengerjakannya sampai akhirnya hal tersulitpun dapat mereka atasi. Banyak orang (mungkin sayapun termasuk di dalamnya) yang senang memainkan peran sebagai korban kehidupan, atau korban dari perlakuan orang lain yang menyebabkan dirinya tertimpa kemalangan dan patut dikasihani.

Memang, jika kita menyampaikan kisah kemalangan yang terjadi pada diri kita, kita akan selalu menjadi pusat perhatian dan orang akan cenderung berlaku ‘istimewa’ terhadap kita. Apabila kita terlalu lama memainkan peran ini, mengharap orang lain melihat kita sebagai ‘orang baik’ yang dizhalimi, hal ini akan melumpuhkan diri kita dan kemampuan kita untuk menjadi diri kita yang sebenarnya. Semua orang pernah berbuat kesalahan atau tertimpa musibah.

Tapi bila kita selalu mengungkit kesalahan/musibah itu, mengeluhkan ini, menyesali itu, kita tidak akan bisa belajar dari kesalahan tadi. Tidak akan dapat keluar dari masa lalu. Tidak akan dapat melihat masa depan. Buku ini mengajarkan kita untuk menjalani hidup ini seperti seorang artis/pemain teater atau opera broadway yang melakukan pertunjukan ‘live’, yang ditonton oleh sekian banyak orang. Kerjakanlah yang terbaik yang kita bisa pada saat kita berakting. Tapi setelah selesai, lupakanlah semuanya. Tidak perlu berfikir “kenapa saya tadi tidak melakukan hal begini, atau begitu?” atau “seharusnya tadi saya bisa lebih ini, lebih itu”. Lupakanlah. Mengapa? Karena ribuan penonton itupun melakukan hal yang sama. Mengapa kita tidak? Kita tidak perlu memandang sesuatu hal ‘terlalu penting’ atau ‘terlalu besar’ sehingga dapat menghancurkan hidup kita.

Tantanglah diri kita untuk menjadi yang terbaik yang dapat kita capai. Menjadi manusia yang lebih besar daripada yang kita rasakan selama ini. Tantanglah diri kita untuk berjuang sekuat tenaga untuk mencapai tujuan kita. Kita pasti bisa kalau kita berfikir bahwa kita bisa.

08.01.09

Privatisasi Birokrasi Pemerintah

Ditulis dalam Politic, Social pada 1:57 pm oleh aank1985

Tahun ini aku berencana untuk kembali mencoba keberuntunganku dengan mendaftarkan diri sebagai CPNS di Departemen Luar Negeri, sebagai seorang sarjana ilmu politik bisa bekerja di Departemen Luar Negeri memang merupakan sebuah impian yang di dambakan bagiku ataupun bagi orang-orang lain yang pernah duduk di bangku jurusan ilmu-ilmu yang mempelajari hubungan internasional.

Tahap pertama di mulai melalui pendaftaran online melalui web deplu. Pada tahap pertama ini prosesnya sedikit dapat berjalan mulus, ya walaupun kita harus mencobanya sampai beberapa kali di karanekan bandwith deplu.go.id yang sudah pasti  sangat terbatas bila harus melayani pendaftaran sekitar delapan ribu orang lebih. Proses pertama selsai, setalah itu kita di wajibkan untuk mengirimkan lamaran via pos yang sudah dilengkapi administrasinya.

Kelengkapan administrasi tersebut antara lain adalah; kelengkapan ijazah yang sudah di legalisir pajabat terkait, form pendaftaran yang telah di bubuhi materai enam ribu rupiah, CV, FC KTP, FC akta lahir, surat keterangan sehat dari dokter pemerintah, Surat Keterangan Catatan Kepolisian terbaru, Kartu Pencari Kerja terbaru, dan beberapa persyaratan lainnya. Kurang lebih itulah persyaratan administrasi yang harus di lengkapi sebelum kita melamar sebagai CPNS.

Karena saat ini aku sudah bekerja, sehingga waktu yang aku milikipun juga sangat terbatas, dan hari sabtu adalah  satu-satunya hari yang aku miliki untuk mencari dan memperoleh segala tiket masa depan untuk mengabdikan diri pada Negara ini. Dan Sabtu ini pun ku berharap semuanya dapat terselsaikan, kucoba bangun lebih pagi, dan berangkat menuju polsek untuk mengurus skck terlebih dahulu. Ternyata disana aku tidak sendirian, ada ratusan orang seperti aku yang ingin mengabdikan dirinya pada Negara atau untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baek dengan menjadi pegawai negeri, entahlah apa saja yang ada di benak mereka, yang jelas kita sama-sama mencari skck dari kepolisian.

Ketika mulai memasuki polsek kulihat beberapa orang dengan berseragam polisi mondar-mandir di depan gerbang, dan saat ku mulai langkahku untuk memasuki polsek, beberapa orang berseragam tersebut menghampiriku dan bertanya padakau, “mau mengurus SIM atau STNK, mari kami bantu?” pandanganku pun jelas mengarah pada papan tulisan yang berbunyikan “dilarang menggunakan calo”. Aku abaikan tawaran mereka dan terus berjalan menuju ruang tempat mengurus SKCK. Ketika berada di dalam lingkungan polsek, terpampang sebuah tulisan dan semboyan yang sangat menggetarkan hati ini, “TIADA HARI TANPA TEMAN BARU” yang disusul dengan  tulisan “BAGIMU NEGERI JIWA DAN RAGA KAMI MENGABDI”, semangatku untuk ikut serta mengabdikan diri kepada Negarapun semakin berapi.

Namun saat aku mulai masuk ke ruangan dan menghampiri petugas administrasi yang berada di depan, tulisan-tulisan tadi sepertinya hanya omong kosong belaka, karena yang aku terima adalah pelayanan yang sangat mengenakkan dari sang petugas, seakan-akan kami ini adalah pelaku criminal atau apalah yang mereka anggap pada kami. Tapi karena aku sangat membutuhkan surat dan jasa dari mereka, aku pun tidak mau cari masalah dengan memprotes sikap pelayanan dari mereka. Yah karena aku memang yang butuh, sehingga inilah yang membuat mereka berfikiran “Kamu yang butuh aku kok” dan mereka pun lupa bahwa mereka ini adalah public service yang bertugas melayani masyarakat. Mungkin mereka betul juga, karena tugas mereka adalah untuk melayanai dan mengabdi pada Negara bukan pada masyarakat yang ber KTP kan WNI?

Segala persyaratan yang dibutuhkan untuk membuat skck sudah aku penuhi, dan ini masih jam Sembilan pagi, dimana jam pelayanan akan selsai pada pukul dua siang. Tapi apa kata mereka setelah aku mengajukan syarat-syarat administrasi tersebut, “Selesai hari senin siang ya”. Aku pun bertanya, “ga bisa selesai hari ini ya pak? Dan jawaban yang aku terima, “ga bisa, soalnya pekerjaan kami banyak jadi tidak bisa selesai hari ini”. Mungkin bila seorang  Konsumen dari jasa pemerintah bisa ga seh kita menerima alasan itu, mungkin bila itu adalah sebuah pelayanan dari sebuah perusahaan, sudah pasti perusahaan tersebut tidak akan seramai ini, dan pastinya tidak aka nada orang yang mau membutuhkan pelayanan dari mereka. Tapi apa mau dikata, kita yang butuh mereka dan tugas mereka adalah untuk mengabdi dan melayani Negara bukan pada masyarakat. Dan lihat saja pelayanan public yang selalu digembor-gemborkan oleh pejabatnya adalah gratis untuk masyarakat ini, ternyata tetap ada juga biaya administrasinya kok, untuk pembuatan skck baru dikenai biaya 25 ribu dan memperpanjang skck cukup 10ribu saja, jadi gratis dari mana?

Aku-pun masih ingat benar ketika pertama kali aku mendapatkan tugas jurnalistik, ketika itu aku mendapatkan tugas untuk meliput sidak Menteri Pendayaan Aparatur Negaya bersama Kaplori ke polsek-polsek yang berada di Jakarta. Ada suatu hal sangat-sangat menggelikan yang aku lihat waktu itu, di salah satu polsek Jakarta Utara ada sebuah spanduk besar yang bertuliskan “Selamat Datang Menteri Pendayaan Aparatur Negara dan Kapolri dalam acara Sidak…. “. Ternyata ada juga ya sidak yang dikoordinasikan terlebih dahulu? Dan ternyata selain melayani pada Negara tugas mereka tambah satu lagi, yaitu membuat Bapak-bapaknya senang.

Sudahlah, aku tidak mau menambah luka batin disitu, aku-pun beranjak pergi dari polsek untuk menuju ke Depatemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Sesaat sebelum aku pergi dari polsek ada satu kejadian yang setidaknya membuatku sedikit tersenyum, setidaknya masih ada seorang tukang parkir yang memberikan pelayanannya dengan sangat baik, dia menjalankan tugasnya dengan sangat baik walaupun hanya mendapatkan imbalan seribu rupiah, dia menuntun motorku keluar dari tempat parkir yang berjubal ratusan motor, sembari tersenyum dia menyerahkan motor dan menanyaiku, “ngurus apa pak, sudah selsai?” ku jawab “belum pak, ga tau ney saya hanya mengurus perpanjangan skck saja masa ga bias selsai hari ini?”, dan dia pun menjawabnya dengan positif, “lagi banyak kerjaan mungkin mereka mas, karena dari kemarin memang banyak sekali orang yang mengurus skck untuk cpns”. Kalau saja ya orang-orang yang berada di dalam sana memiliki sikap dan nilai melayani seperti sang abang parkir ini?

Dengan membawa kekecawaan dari kantor polisi, aku berhapar di Depnaker ini aku dapat pulang membawa hasil. Yah ternyata Depnaker hari sabtu tutup. Dan yang aku temui disana hanya ada beberapa penjaga dan sebuah tulisan “biaya administrasi pembuatan kartu kuning atau kartu pencari kerja Rp. 10000”. Sepertinya memang ga ada yang gratis ya di negeri ini? Aku pun bertanya pada beberapa petugas di sana yang sedang bermain game di computer, “hari sabtu tutup ya pak, kalau hari biasa bukanya dari jam berapa sampai jam berapa?” dan jawabnya, “iya mas, sampeyan saja liburkan masa kita juga ga boleh libur, kalau hari biasa dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore”. Karena penasaran akupun bertanya, “memang jam kerjanya dari jam berapa samapai jam berapa pak?” dan aku pun mendapatkan jawaban ekspresi kekesalan mereka pada pertanyaanku. “sudah dikasih tau masa harus diperjelas seh mas!” Aku pun hanya dapat terheran,kok bisa ya Departemen – departemen yang memberikan pelayanan kepada masyarakat sipil di hari libur juga ikut libur, padahal masyarakat kebanyakan di hari – hari biasa bukannya juga harus bekerja untuk menafkahi keluarganya.  Dan waktu yang mereka miliki adalah pada hari sabtu dan minggu, sehingga kalau ada masyarakat yang sedang membutuhkan pelayanan jasa dari pemerintah karena ada keperluan-keperluan surat-surat yang telah ditentukan oleh pemerintah sendiri, masyarakatpun harus kembali mengorbankan dirinya lagi untuk keperluan pemerintah. Mungkin hal ini wajar ya bila kita hidup di suatu Negara yang tugas birokrasinya  adalah untuk melayani dan mengabdi pada Negara bukan pada masyarakat.

Huh…. Masih ada satu tempat lagi yang harus aku tuju, sesuai dengan rencanaku hari ini (Puskesmas). Ya, dan akupun segera meluncur ke puskesmas untuk mendapatkan surat keterangan sehat, disanapun kembali aku temui kejadian yang semakin menyesakkan dada ini. Dalam UUD 45 telah teramanatkan dengan jelas bahwa anggaran belanja negara untuk kesehatan adalah 20% dan rakyat miskin berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Tapi apa yang aku temui disana adalah biaya pendaftaran berobat di puskesmas sebesar lima ribu rupiah, mungkin ini memang nilai yang tidak terlalu besar bagi kita, tapi bila uang itu bagi rakyat miskin tentu hasil yang tidak mudah mereka peroleh, paling tidak untuk uang senilai itu mereka dapat menambah lauk atau sayur pada meja makanan mereka yang selalu kosong. Mungkin ini peringatan saja bagi masyarakat miskin di negeri ini, “orang miskin di larang sakit”. Karena tugas birokrasi di negeri ini adalah untuk melayani Negara bukan masyarakat.

Kejadian hari ini mengingatkanku akan segala hal yang telah aku pelajari di bangku kuliah tentang bagaimana membangun good government dan good governance, public service, reformasi birokrasi, atau teori-teori lainnya mengenai birokrasi dan juga pelayanan public. Sepertinya kata-kata webber dan teman-temannya memang hanya akan menjadi utopia di negeri ini, entah sampai kapan masyarakat di negeri ini akan terus terluka untuk mendapatkan kepuasan public yang optimal. Mungkin bila birokrasi pelayanan public di negeri ini perlu di privatisasikan dahulu agar dapat tercipta pelayanan public yang prima sehingga para petugasnya dapat berorientasi pada pelanggan (masyarakat) adalah yang utama.