08.28.09
Mempertanyakan Relevansi APEC
Di tengah krisis ekonomi serta kekhawatiran akan terjadinya resesi dunia, memang sulit bagi kita untuk memikirkan APEC dan maknanya bagi Indonesia. Pertemuan APEC di Kuala Lumpur baru-baru ini sekali lagi memperlihatkan simbol kerja sama yang khas, dengan masing-masing kepala negara mengenakan kemeja batik Malaysia yang berpadu rancak dengan warna hijau daun kelapa. Namun panorama ceria itu tidak menutup kenyataan bahwa para kepala negara berdiri kaku, bahkan saling membuang muka.
Padahal, relevansi APEC sedang dipertaruhkan, dan pada saat ini ada tiga pertanyaan pokok yang perlu dikaji secara mendalam. Pertama, relevansi APEC bagi komitmen negara-negara anggotanya terhadap “Sasaran Bogor”, yaitu perdagangan dan investasi bebas dengan tenggat waktu tahun 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara sedang berkembang. Komitmen ini dapat berubah karena krisis ekonomi telah menyebabkan proses liberalisasi dan globalisasi dipertanyakan. Ternyata, program peningkatan liberalisasi kolektif di sembilan sektor, yang disebut sebagai Early Voluntary Sector Liberalization (EVSL), tak juga dapat disepakati.
Di samping itu, salah satu negara yang paling mempersoalkan liberalisasi justru adalah tuan rumah APEC, Malaysia, yang telah melakukan kontrol devisa. Hong Kong, yang selama ini dianggap jagoan ekonomi pasar, juga melakukan intervensi di pasar modalnya. Walaupun tidak tercapai kesepakatan untuk program EVSL, tapi yang menggembirakan ialah tidak ada anggota APEC yang menarik diri dari komitmen liberalisasi. Bahkan, ada seruan untuk mempercepat negosiasi secara menyeluruh (broad-based) di forum multilateral WTO. “Good news” lainnya adalah langkah-langkah Malaysia tidak disambut dengan melakukan de-liberalisasi. Sebaliknya, ada kemajuan dalam proses liberalisasi di masing-masing negara, yang merupakan ciri khas kawasan APEC. Cile akan menurunkan rata-rata tarifnya dari 11 persen menjadi 6 persen dalam kurun waktu 5 tahun. Tiga negara di bawah program IMFKorea, Thailand, dan Indonesiajuga memiliki program liberalisasi dan reformasi yang sangat komprehensif.
Negara anggota yang lain juga diperkirakan melakukan penyesuaian sebagai respons terhadap krisis. Maka, proses liberalisasi melalui wadah APEC diharapkan dapat memberi kepercayaan kepada negara anggotanya agar tetap pada komitmen ekonomi terbuka, dan mencegah kecenderungan proteksionisme dari negara maju. Kendati bagi Indonesia liberalisasi tanpa basis kelembagaan dan kapasitas yang menunjang bisa menyebabkan krisis, patut juga disimak bahwa dalam mengatasi krisis ekonomi kini, komitmen pada liberalisasi ekonomi juga perlu dipertahankan. Tentunya, dampak buruk liberalisasi, seperti arus modal jangka pendek, tetap harus diantisipasi.
Kedua, relevansi APEC melakukan respons terhadap krisis ekonomi yang melanda kawasan ini. APEC memang lahir dan besar dalam keadaan negara anggotanya semua tengah mengalami pertumbuhan pesat. Dalam kondisi pertumbuhan tinggi, negara-negara APEC tidak mampu melakukan respons yang tangkas untuk menangkal krisis. Maka, hanya para pemimpin APEC-lah yang diharapkan memberi solusi dengan cepat dan berani. Memang, pertemuan APEC di Vancouver pada 1997 hasilnya sangat tidak memuaskan dan tidak ada tindak lanjutantara lain karena waktu itu bahaya krisis belum sepenuhnya disadari. Bagaimana dengan hasil Kuala Lumpur? Ternyata, para kepala negara APEC juga tidak berhasil memberikan respons yang diharapkan untuk mengatasi krisis.
Penegasan dan prioritas yang ditetapkan para kepala negara memang sudah tepat, yaitu: jaringan sosial; penyempurnaan sistem keuangan internasional; memperkuat sistem perbankan nasional dan global yang memenuhi syarat prudensial internasional; pemantauan dan manajemen arus dana jangka pendek, termasuk penyempurnaan informasi yang harus disampaikan oleh hedge funds dan badan pengelola dana lain; juga pembentukan kelompok kerja dengan pihak swasta untuk menangani masalah utang dan manajemen risiko. Namun, masih sulit untuk menilai arti konkret kata-kata tersebut karena pelaksanaan dan proses realisasinya sangat tidak jelas.
Hasil konkret bukannya tidak ada, yaitu upaya membantu proses restrukturisasi perbankan dan utang swasta. Walaupun paket dan rinciannya belum jelas, AS telah menawarkan US$ 5 miliar dan diperkirakan akan ditambah US$ 5 miliar lagi oleh Jepang, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia. Bantuan ini dikaitkan dengan program restrukturisasi utang swasta dan perbankan, misalnya untuk dana garansi obligasi yang diterbitkan oleh negara-negara tersebutdalam rangka rekapitalisasi sektor perbankan. Hanya saja, jumlahnya kecil dan mekanismenya belum jelas. Ketiga, relevansi APEC di tengah krisis politik yang melanda berbagai anggotanya.
APEC tidak berpegang pada konsep “non-interference” dan bukan forum untuk membahas politik. Namun pertemuan APEC kali ini sangat diwarnai masalah politik, terutama karena penahanan atas diri Anwar Ibrahim, mantan orang nomor dua di negara jiran itu. Memang, pujian yang disampaikan Wakil Presiden AS, Al Gore, kepada kelompok reformis di Malaysia telah menjatuhkan martabat pemerintah yang kini berkuasa di negeri itu. Walaupun pesan Gore dianggap melampaui batas dan tidak diplomatis, tapi pesan itu sangat penting. Lagi pula, reformasi dan kebijakan ekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa komitmen untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bijaksana (good governance). Maka, APEC pun harus mendewasakan diri sehingga dapat lebih bersikap terbuka, bukan saja untuk membahas kebijakan ekonomi masing-masing negara, tetapi juga aspek politiknya. Terlebih dalam era globalisasi ini, ketika kebijakan yang diambil oleh suatu negara dapat mengimbas atau membawa pengaruh bagi negara lain.
Anda Pasti Bisa Bila Anda Berfikir Bahwa Anda Bisa
Kalau ada buku yang bisa membuat saya menjadi sangat percaya diri dan termotivasi untuk bergerak dan meraih impian saya, buku inilah yang saya maksud. Cara bertutur dari buku ini jauh dari kesan menggurui. Cerita tentang pengalaman penulis dan orang-orang yang telah ‘tersentuh’ oleh pandangan dan motivasi yang disampaikan secara persuasif oleh penulis menjadi daya tarik buku ini.Walaupun buku ini ditulis oleh seorang pendeta, namun pesan moral di dalamnya berlaku universal untuk semua manusia, pemeluk agama manapun.
Buku ini mengajarkan kita bahwa di setiap bagian diri kita, ada satu kekuatan yang apabila kita dapat melatihnya, maka segala rintangan yang kita hadapi, akan dapat kita atasi. Disiplin diri untuk selalu berfikir positif dan tidak cepat menyerah adalah suatu hal yang dapat membuat sesuatu yang sebelumnya kita anggap tidak mungkin menjadi hal yang sangat mungkin terjadi.
Seseorang yang selama ini berfikir bahwa ia tidak sanggup melakukan sesuatu yang menurutnya hebat, suatu saat dapat berbalik menjadi seseorang yang dengan mudahnya menciptakan sesuatu yang spektakuler, yang selama ini ia ataupun orang lain tidak pernah membayangkannya. Hal itu dapat terjadi hanya dengan mengubah cara berfikirnya. Seseorang sebenarnya tidak pernah menjadi orang ‘biasa saja’ dengan otak/fikiran kelas dua. Itu hanya karena dia berfikir bahwa dirinya ‘hanya’ seperti itu. Sebenarnya dalam dirinya, terkubur kepribadian sejatinya, yaitu seorang yang luar biasa dengan fikiran kelas satu, dan hanya dengan disiplin diri yang kuat, kepribadian itu dapat dimunculkan.
Saat seseorang sadar akan potensi dirinya, ia akan sadar bahwa ia tidak akan dapat terkalahkan hanya karena ia pernah memiliki perasaan inferior. Buku ini mengajarkan kita agar jangan pernah percaya bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita kerjakan. Banyak hal-hal besar di dunia ini dicapai oleh orang-orang yang tidak tahu apa yang tidak dapat mereka kerjakan. Jadi mereka terus mengerjakannya sampai akhirnya hal tersulitpun dapat mereka atasi. Banyak orang (mungkin sayapun termasuk di dalamnya) yang senang memainkan peran sebagai korban kehidupan, atau korban dari perlakuan orang lain yang menyebabkan dirinya tertimpa kemalangan dan patut dikasihani.
Memang, jika kita menyampaikan kisah kemalangan yang terjadi pada diri kita, kita akan selalu menjadi pusat perhatian dan orang akan cenderung berlaku ‘istimewa’ terhadap kita. Apabila kita terlalu lama memainkan peran ini, mengharap orang lain melihat kita sebagai ‘orang baik’ yang dizhalimi, hal ini akan melumpuhkan diri kita dan kemampuan kita untuk menjadi diri kita yang sebenarnya. Semua orang pernah berbuat kesalahan atau tertimpa musibah.
Tapi bila kita selalu mengungkit kesalahan/musibah itu, mengeluhkan ini, menyesali itu, kita tidak akan bisa belajar dari kesalahan tadi. Tidak akan dapat keluar dari masa lalu. Tidak akan dapat melihat masa depan. Buku ini mengajarkan kita untuk menjalani hidup ini seperti seorang artis/pemain teater atau opera broadway yang melakukan pertunjukan ‘live’, yang ditonton oleh sekian banyak orang. Kerjakanlah yang terbaik yang kita bisa pada saat kita berakting. Tapi setelah selesai, lupakanlah semuanya. Tidak perlu berfikir “kenapa saya tadi tidak melakukan hal begini, atau begitu?” atau “seharusnya tadi saya bisa lebih ini, lebih itu”. Lupakanlah. Mengapa? Karena ribuan penonton itupun melakukan hal yang sama. Mengapa kita tidak? Kita tidak perlu memandang sesuatu hal ‘terlalu penting’ atau ‘terlalu besar’ sehingga dapat menghancurkan hidup kita.
Tantanglah diri kita untuk menjadi yang terbaik yang dapat kita capai. Menjadi manusia yang lebih besar daripada yang kita rasakan selama ini. Tantanglah diri kita untuk berjuang sekuat tenaga untuk mencapai tujuan kita. Kita pasti bisa kalau kita berfikir bahwa kita bisa.