06.23.09

Marketers Politik

Ditulis dalam Politic pada 5:26 pm oleh aank1985

Begitulah judul buku bestseller yang ditulis oleh Seth Godin. Buku yang dipublikasikan pada tahun 2005 tersebut telah mempengaruhi pandangan berjuta orang tentang aktivitas marketing. Sebelumnya, hampir setiap orang mempercayai jika promosi, salah satu aktivitas marketing, selalu berguna untuk meningkatkan brand image sebuah produk. Namun, ternyata tidak semua aktivitas promosi dapat meningkatkan citra sebuah produk. Mengapa ? Karena aktivitas tersebut telah sering ‘dinodai’ oleh pemasar-pemasar penipu.

Barangkali salah satu dari pembaca pernah menerima surat yang berisi panggilan untuk menerima hadiah dari salah satu produk. Penulis pernah mengalaminya beberapa tahun silam. Di dalam surat yang dikirimkan oleh salah satu agen dari beberapa produk dituliskan bahwa saya harus datang ke satu alamat untuk mengambil hadiah. Sebetulnya, hati agak ragu-ragu untuk memenuhi undangan tersebut. Pasalnya, tidak ada angin tidak ada hujan kok tiba-tiba mendapat hadiah. Namun, didorong oleh rasa penasaran, akhirnya datang juga saya ke alamat dimaksud.

Sesampai di alamat tersebut, ternyata sebuah toko elektronik baru. Begitu masuk ke toko itu, saya langsung disambut oleh tiga pelayan. Dua perempuan dan satu laki-laki. Ketiganya masih belia dan penampilannya seolah eksekutif muda. Saya dipersilakan duduk, mereka mulai menjelaskan ini itu untuk menjelaskan maksud undangan tersebut. Intinya, menurut mereka saya adalah salah satu pribadi yang sangat beruntung karena menjadi salah satu orang terpilih menerima hadiah dari sekian ribu orang yang diseleksi. Dan saya tidak bertanya apa parameter dari seleksi mereka. Saya cuma mengamati begitu lincahnya lidah mereka memberi informasi.

Singkat kata sampailah saat saya akan menerima hadiah. Namun, hadiah itu tidak bisa langsung saya terima. Ada beberapa syarat yang harus saya setujui. Pertama, saya harus mengambil undian terlebih dahulu. Macam hadiah yang akan saya terima bergantung dari kupon yang saya pilih. Syarat ini saya setujui. Syarat kedua, saya harus bersedia membayar ½ harga dari hadiah yang saya terima tersebut.

Sebetulnya, dari sini saya sudah mulai mencium bau penipuan. Namun karena harganya juga tidak terlalu mahal, maka syarat kedua pun saya setujui. Setelah kedua syarat tersebut saya setujui, saya dipersilakan mengambil kupon undian. Di kupon tersebut tertulis sebuah produk home-teathre dari salah satu merek china yang tidak pernah saya dengar namanya. Tanpa ba bi bu, saya bayar barang tersebut setengah harga. Saya sadar saya telah ditipu oleh toko tersebut.

Beberapa tahun berselang, produk dari merek tersebut muncul di pasaran. Harganya? Sepertiga dari harga yang telah saya bayarkan ke toko yang telah memberi hadiah saya. Pengalaman tersebut saya ceritakan ke banyak orang supaya tidak tertipu seperti saya alami.

Maka sejak saat itu, saya dan teman-teman tidak pernah mempercayai hadiah-hadiah yang ditawarkan oleh produk-produk yang merknya belum dikenal. Dan yang lebih penting, sejak saat itu saya mulai percaya bahwa sebagian dari pemasar adalah penipu.

Belakangan ini, aktivitas pemasar yang berbau penipuan ini mulai banyak kita jumpai. Namun, kali ini yang dipasarkan bukan barang, tapi ‘citra diri’. Siapa gerangan mereka ? Mereka adalah orang-orang partai yang mencalonkan diri sebagai legislatif maupun presiden. Coba Anda amati berbagai tulisan yang menyertai foto mereka di banner dan spanduk-spanduk yang di pampang di jalan-jalan.

Kata-kata indah bertebar pesona menghiasi sarana promosi mereka. Kata-kata seperti : ‘berjuang untuk rakyat’; ‘mengabdi untuk rakyat’; ‘memberantas kemiskinan’; ‘pendidikan gratis’; ‘memakmurkan rakyat adalah tujuanku’; dan lain sebagainya. Kata-kata indah tanpa makna tersebut tidak hanya dilakukan oleh calon-calon baru. Orang-orang lama yang telah / pernah menjadi legislatif atau presiden pun melakukan hal senada. Mereka ini sepertinya beranggapan bahwa rakyat ini goblok semua, tidak bisa membaca realitas yang sebenarnya. Mereka mungkin mengira bahwa rakyat tidak tahu bahwa sebagian besar aktivitas mereka hanyalah gontok-gontokan, saling ejek dan saling jegal untuk berebut kekuasaan demi memenuhi kepentingan mereka sendiri. Nasib rakyat seakan berada di luar kesadaran mereka. Istilah rakyat baru masuk kembali ke dalam kesadaran menjelang pemilu saja. Di saat seperti ini, mereka berperan bak pahlawan bagi rakyat. Setelah pemilu ? Mereka seolah lupa bahwa ada istilah rakyat di negeri ini.

Bukankah ini juga penipuan. Maka, judul buku Seth Godin, All Marketers are Liars, tidak hanya berlaku di dunia usaha. Di dunia politik ungkapan tersebut semakin mendapatkan pembenarannya. Jika pembohongan yang dilakukan oleh pelaku-pelaku dunia usaha kerugiannya hanya menimpa segelintir orang saja. Tapi kebohongan yang dilakukan oleh para politisi bisa menimpa hampir seluruh warga bangsa ini. Dan lebih parah lagi, akibat yang ditimbulkan olehnya bisa tidak hanya terbatas pada satu generasi saja, tetapi bisa beberapa generasi berikutnya. Generasi anak-cucu kita bisa harus mewarisi kerusakan yang diakibatkan oleh penipuan tersebut.

Efek lain dari perilaku bohong tersebut adalah dampak pembelajaran negatif bagi generasi muda. Barangkali pembaca sudah sama mahfum bila perilaku orang dewasa, terutama yang dipandang sebagai tokoh, seringkali menjadi panutan bagi generasi muda yang sedang membangun karakter pribadinya. Jika tokoh panutannya memiliki karakter terpuji, maka mereka akan mengimitasi karakter dan watak tersebut. Sebaliknya, jika tokoh panutan memberi teladan dengan perilaku-perilaku tercela, seperti pembohongan seperti di atas, otomatis akan menular pada generasi muda.

Tokoh-tokoh partai yang selama ini tidak pernah menunjukkan perilaku membela rakyat keci, tiba-tiba dari mulut mereka keluar kata-kata sok membela kepentingan rakyat. Tokoh-tokoh yang sebelumnya hampir tak mengenal kepentingan rakyat miskin, tanpa malu-malu mengatakan pengabdian mereka hanya untyk rakyat. Sekali lagi, ini dilakukan tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Bukankah perilaku demikian bisa mengakibatkan munculnya persepsi bahwa melakukan pembohongan publik merupakan hal yang wajar ? Apakah salah jika generasi muda beranggapan bahwa sifat munafik tidak perlu mengakibatkan rasa malu ?

Penulis pernah menjumpai seseorang yang dianggap tokoh oleh lingkungannya. Orang ini di dalam kesehariannya selalu mengatakan bahwa kita harus selalu hidup sederhana, selalu mendahulukan kepentingan orang lain, hidup selalu berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan dan seribu kalimat senada yang lain. Namun, tingkah lakunya selalu berbeda dengan apa yang dikatakan. Dia selalu berperilaku mementingkan diri sendiri, jika ia membantu orang lain, selalu ada pamrih di baliknya, selalu hidup berfoya-foya dan perilaku-perilaku lain yang sangat tidak terpuji. Apa yang dikatakan selalu berbeda dengan apa yang dikerjakannya. Dampak dari perilaku tersebut, anak-anak orang ini mulai menampilkan perilaku-perilaku munafik seperti dilakukan bapaknya. Bahkan, anak-anak muda yang dekat dengan tokoh kita ini juga mulai meniru-niru perilaku tak terpuji tersebut. Sekarang, bayangkan ! jika cukup banyak pembohong-pembohong seperti ini dengan telanjang mempertontonkan sikap the big pretender seperti itu, kira-kira akan jadi apa ya generasi muda kita nanti ?

06.21.09

How an economic crisis may improve your management skills: Strategies for making it through uncertain times

Ditulis dalam Management pada 7:01 pm oleh aank1985

Leadership is generally defined as influencing others to work willingly toward achieving objectives. The current economic climate that we find our colleagues, staff, and selves working in is unfamiliar and stressful to many of us. Many organizations are cutting budgets, including workforce, in order to remain viable. Now more than ever, managers need to be actively involved in creating a positive work environment and motivating staff to continue giving their best despite a highly tense situation. Employees look to management for leadership, guidance, and for the tools and resources necessary to make it through this crisis.

Successful management involves managing people in a way that motivates and enables them to work at their highest levels of productivity and in harmony with one another so that the organization is thriving in terms of efficiency, service, effectiveness, quality, and value. Good management is always vital to an organization. During times of uncertainty and stress, it is essential. Many of the strategies employed during a crisis are the same as those used in everyday management.

The principal management tool is also the most broad and encompassing—communication. Communication with staff is always central to an organization’s success, but it is especially critical during periods of pressure. Keeping staff informed will alleviate anxiety and keep them focused on organizational goals. Connecting with staff and showing compassion and concern for their well-being helps reinforce trust and support. Key points to remember regarding communication

• Address the rumor mill. Gossip and speculation tend to skyrocket during economic crises. Ignoring it only allows it to fester and preoccupy staff.Open communication about what is actually happening, and immediately dispelling rumors or half-truths, will keep staff focused on their work and create an environment of trust. Remember, in the absence of information the worst-case scenario is often assumed.

• Communicate in person.E-mail should not replace face time with staff. Regular staff meetings and/or one-on-one conversations work best when critical or complex information must be communicated. Anticipate the kind of information employees want to know and what types of questions are likely to ask.

• Be participatory. Share the vision. Employees are more willing to make changes and take on more responsibility or tasks when they understand how it supports the larger objectives of the organization. Often the people who know a process or service best are those who perform them on a daily basis. If services or workflow need to be revised or replaced, involve staff in the discussion. Brainstorming the solution to organizational challenges together gives staff a voice in the outcome and motivates them to put forth their best effort. Being a manager requires caring for employees. People who are shown care work more effectively with and for the people who show that care. These people feel better and are more positive to be around. Being a caring and compassionate manager does not have to be a counseling activity. It simply means showing concern for staff in ways that help them improve performance and grow. During tough times managers may feel the need to become more hard-edged and demanding in an effort to get more out of less people or resources. This sudden desire for better performance may manifest itself as criticism or nitpicking and may place additional stress upon employees resulting in poor performance. Caring for staff happens in many ways

• Practice active and attentive listening. Listening means knowing what others have said, or meant to say, and leaving people with the feeling that they have had their opinions or concerns heard. Do not interrupt. Be able to paraphrase. Listen for underlying meaning. Maintain eye contact. Take notes. Do not frown or make any other derogative facial expressions. Good listeners ask questions to get a better understanding of what is being communicated. Once the conversation has ended, repeat the key points or issues. If necessary, schedule a follow-up discussion. • Share and disclose. Share your thinking on a work issue and ask employees for their input or advice. Pass on pieces of information that may help people do their jobs better or broaden their perspective. When announcing changes or any other important decision, share how you arrived at the decision; explain intentions or reasons. This can help employees understand why things are happening and feel less put upon.

• Be available and personal. Offer opportunities for individuals or small groups to voice their worries or concerns even if there is no further information or answers that can be given at that time. Know several personal things about staff. By asking a few personal questions you may make it easier to grow trust and cultivate relationships. During hard times organizations are asked to do more with less, requiring a reassessment of work and services and providing the opportunity to reallocate staff resources and revise or eliminate processes. Developing a comprehensible plan, setting goals, and communicating clear expectations are the necessary steps towards identifying and eliminating work, which may result in organizational improvement. Nothing assists in moving workflow along better than a clear plan. It helps the staff that has to follow it and leads to better use of resources. Planning in advance anticipates and identifies problems before they occur. What a good planning process involves • Laying out tasks and work. Break the work down into process steps. Ask employees to contribute to this process to ensure that no tasks or details are overlooked and omitted.

• Setting goals. Employees who are given specific goals usually perform better than those who are not. Goals should be challenging, but not so difficult that they appear impossible or unrealistic. Whenever possible, goals should include target dates or deadlines for accomplishments and be set in collaboration with both management and staff. Since ability is an important determinant of performance, giving staff input and the opportunity to ask for assistance, clarification, or further training helps guarantee that goals will be met.

• Keeping expectations clear and concise. Often employees are not entirely clear on what is expected of them in their jobs. Ensuring that staff know what they should be doing is critical during an economic crisis when there could be fewer people performing the work. Clear, concise expectations that transition with the changes in the larger organizational goals and workflow are key to earning staff support and buy-in. Staff recognition The biggest mistake a manager can make is forgetting to recognize individual and group successes. It is easier to identify weaknesses than to recognize people when they are performing well.

Traditionally organizations recognize outstanding performance with salary increases, but with tight economic times the opportunities to provide financial rewards are limited. In hard times staff will regularly hear bad news, so the simple recognition of a job well done can go very far in bringing up morale and self-esteem. Staff recognition is not solely about improving and maintaining staff morale and esteem, it also highlights the kind of performance that is desired and expected in the workplace. It is an important communication tool that reinforces the behaviors and actions that managers want to see repeated. Recognizing staff is inexpensive and does not require great effort. It can be as simple as writing an e-mail or handwritten thank you note for putting in some extra effort to meet a deadline, or it can be done in a public setting, such as a staff meeting, where an employee is recognized for providing exemplary service.

Praising a staff member after they finish dealing with a difficult situation or customer is another way of letting them know that as a manager you value their work. The most effortless form of respect and appreciation a manager can give is to say thank you. Above all, managing during uncertain times or crisis requires the leader to remain positive and upbeat about what is being accomplished or changed without dwelling on the cause of the situation, laying blame, or indulging complainers.

Creating an engaging and positive work environment helps staff become resilient. Management is a demanding job that requires maximum effort without a guaranteed positive return. Any type of stress exponentially increases the difficulty of the work; however, these are the very situations where your skills and talents are put to the test, and often you and your staff come out a stronger, more collaborative, more open, and more productive unit.

06.15.09

MELIHAT LEBIH JAUH

Ditulis dalam Uncategorized pada 6:16 pm oleh aank1985

Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh. Setelah bertanya ke sana-kemari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi. Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman. Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz. Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.

Kisah lain. Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja ”hanya” sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh- sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya. Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu. Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu.

Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekadar door checker. Beberapa pelajaran Christopher L Jr dan Mr Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis ”manusia besar atau manusia berlebih” (great people) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian ”rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.

Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak. Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman good. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great. Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk ”melihat lebih”! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door checker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job! Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu ”memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim. Rindu pemimpin besar Betapa bangsa ini rindu seorang pemimpin hasil pemilu yang layak disebut pemimpin besar, great leader. Mereka yang kini sedang giat berkompetisi dan perang iklan dengan saling sorot KPI masing-masing. Perhatikan dengan saksama, maka segenap janji kampanye, termasuk realisasinya, konteksnya masih sebatas pemenuhan KPI. Ini berlaku baik bagi yang masih berkuasa maupun mantan dan juga calon yang baru. Semua bicara tentang KPI kepemimpinan, belum menyentuh KVI kepemimpinan. Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi ”KPI kehidupan” kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materiil, dan mudah diukur. Padahal, untuk menjadi great people, great leader, great father, great manager, dan seterusnya, lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan ”KVI kehidupan” kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christoper L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya tak kalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita ”mau” melihat lebih jauh, kita akan ”mampu” melangkah lebih jauh.

06.13.09

Kepemimpinan Pemuda

Ditulis dalam Management, Motivation and Inspiration, Politic, Pshychology pada 9:28 pm oleh aank1985

Leon Botstein terpilih menjadi Rektor New Hampshire’s Franconia College di tahun 1970 dalam umur 23. Tak pelak, penunjukkannya tercatat sebagai salah satu rektor termuda sepanjang sejarah di Amerika Serikat. Dia mengemban tanggung jawab melakukan turn around terhadap kondisi yang centang perenang di kampus tersebut. Kebijakan pembaharuan yang dilakukannya ternyata dimulai dari langkah pertama yang tidak lazim, “bebaskan kampus dari keliaran anjing!”.

Bulan Agustus tahun 2007 ini, Universitas Indonesia (UI) memiliki pimpinan baru. Sebetulnya tidak ada yang istimewa dengan sebuah pergantian kepemimpinan di kalangan perguruan tinggi, hanya saja yang berbeda saat ini adalah UI memasuki babak baru perjalananya dibawah nahkoda salah satu putra terbaiknya yang masih dapat dikatakan muda belia. Prof Dr Gumilar menjadi rektor di usia 44 tahun atau rektor termuda dalam sejarah UI. Langkahnya di awal mirip dengan Botstein, hadirkan lingkungan yang bersih dan memiliki jalur sepeda di kampus. Benar adanya, bahwa hal-hal besar dapat dimulai dari langkah kecil yang sederhana.

Bagi UI sendiri, peremajaan kepemimpinan tidak saja menyentuh pucuk tertingginya karena kamu muda mulai mengambil alih estafet kepemimpinan di berbagai institusi dalam ruang lingkup universitas, Di fakultas ekonomi dan hukum sebagai contoh , dekan terbaru mereka bahkan belum berusia 40 tahun ketika dilantik, dibawahnya berbagai direksi dan pimpinan departemen di lingkungan fakultas dipenuhi oleh anak muda usia 30an bahkan akhir 20, sebagian dari mereka baru pulang menggondol Phdnya, mereka-mereka yang dipersiapkan menjadi pimpinan teras unversitas dan bangsa di masa mendatang. Dan hebatnya tidak ada keluh kesah dari para senior,jaman berubah paradigma pun berubah.

Di Universitas Paramadina telah dipilih pengganti sosok guru bangsa yang juga rektor universitas selama ini, Almarhum Nurcholis Madjid , seorang anak muda yang dulu dikenal sebagai sosok aktivis mahasiswa yang setelah itu melanglang buana memenuhi dahaga inteletualismenya. Anis Baswedan baru berumur 38 ketika harus mengambil tongkat estafet yang sedemikian berat dibebankan padanya terlebih lagi sosok Cak Nur sudah sedemikian menyatunya dengan sejarah perkembangan Universitas Paramadina.

Adakah universitas-universitas tersebut kekurangan sumber daya senior yang berpengalaman sehingga harus mempertaruhkan reputasi universitas yang telah puluhan tahun terbina baik di tangan tokoh-tokoh muda yang bagi sebagian orang dianggap “anak kemaren sore” sehingga tidak cukup berpengalaman untuk mengemban tanggung jawab yang besar.

Nampaknya permasalahannya bukan terletak di sana, karena yang menjadi pemicu adalah terdapatnya kesadaran bahwa sudah saatnya kaum muda diberikan kesempatan untuk beraktulisasi dan membuktikan diri, tidak saja “mendobrak pintu” tetapi menjaga dan memimpin manaejemn rumah. Universitas memang menjadi garda terdepan kesadaran akan perlunya bangsa ini mulai mempercayakan kaum mudanya untuk memimpin. Mereka adalah pihak yang paling siap untuk menjawab diskursus pemimpin muda di pucuk pimpinan, bukan sekedar wacana yang dikembangkan banyak pihak tetapi langsung diimplementasikan di lapangan.

Alasannya sederhana,  perubahan mendasar di negara ini selalu dimulai dengan reaksi kaum muda idealis ini terhadap permasalahan besar bangsa,  mengorbankan waktu, tenaga maupun nyawa. Selain itu, kesadaran bahwa kompetisi global memerlukan energi, kesegaran pemikiran dan kreatifitas yang tinggi yang sungguh tidak dapat diakomodir oleh kepemimpinan yang lambat, penuh paradigma lama apalagi mereka yang masih menyepelekan soal governance. Kepemimpinan yang akan cepat absolete dan sekedar menjadi penonton persaingan kompetitif global. Bukan sekedar soal teknis, tuntutan untuk potong generasi sudah lama dimasukkan seabagai wacana ebangsaan untuk memisahkan bangsa ini dari stigma kebobrokan yang dibawa generasi tuanya

Sheila Kinkade dan Christina Macy dalam buku “Our time is now : young people changing the world ” menekankan kembali bahwa abad 21 adalah abad kaum muda, hal ini ditandai dengan  semakin berperannya pemuda dalam perubahan dunia. Dapat dilihat dalam buku mereka yang menarik itu,  bagaimana puluhan anak muda di seluruh penjuru dunia berpendar memperbaiki dan merubah komunitasnya ke arah yang lebih baik, lebih banyak dari apa yang kaum tua bisa lakukan dalam perbaikan komunitas tersebut. Tak sedikit dari mereka yang dapat kita lihat jejaknya : para akademisi muda.

Dengan misi yang kurang lebih sama, World Economic Forum setiap tahunnya mengadakan sesi Young Global leader yang mengundang sosok calon pemimpin bangsa yang saat ini berusia di bawah 40 bahkan sebagian dari mereka masih berusia dibawah 30 tahun untuk duduk bersama mendiskusikan berbagai problema kemasyarakatan global, menyongsong dunia baru yang penuh dengan pemimpin-pemimpin muda.

Kepemimpinan itu menular,.  Bukti nyatanya adalah dengan kiprah kaum akademisi di dunia birokrasi. Mereka mencoba menjalarkan hal-hal yang baik dilakukan oleh dunia kampus ke dalam birokrasi yang bobrok. Sebagai contoh, Menteri Keuangan, Sri Mulyani gencar dengan implementasi reformasi birokrasi hari-hari ini, Ketua BPK,Anwar nasution mengguncang jagat birokrasi dengan gerakannya menelanjangi berbagai institusi yang korup. Ini sebenarnya sekedar  bukti bahwa governance itu memiliki sifat contagious jika dipegang oleh mereka yang tepat. Terbukti kiprah akademisi yang kuat dapat memecah utopia bahwa birokrasi tidak dapat dirubah dari dalam. Hanya saja dalam soal pucuk pimpinan tertinggi negeri ini perlu waktu untuk bisa ke sampai ke sana.

Padahal belajar dari negara lain, Amerika serikat misalnya, Roosevelt (42 tahun menjadi Presiden), JFK (43), Clinton (46) begitu juga Tony Blair (43) di Inggris adalah figur-figur yang tidak saja muda tetapi tersukses dalam menjalankan roda pemerintahan. Saat ini dunia menunggu kandidat muda lainnya untuk muncul,  Barrack Obama adalah salah satunya. Kalau dia bisa menang membuktikan bahwa  kebutuhan atas birokrasi yang masih segar sudah menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Kepemimpinan muda sangat dibutuhkan oleh bangsa ini, seperti banyak pengamat yang sudah memulai wacana Presiden muda untuk pemilu 2009. Negara ini yang oleh sebuah majalah internasional disebut sebagai “Negara paling sulit bagi  seorang Presiden” perlu darah muda dan pemikiran yang segar tidak saja unutuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan besar yang dihadapi bangsa tetapi juga untuk memutus generasi tua yang korup dan telah meninggalkan Indonesia dalam centang perenang.

Leon Botstein akhirnya tercatat tidak saja sebagai yang termuda tetapi juga rektor tersukses dalam melakukan transformasi internal pada lembaga pendidikan yang terancam bangkrut tersebut, merangkak kembali menjadi salah satu institusi pilihan masyarakat. Sehingga semakin kuat premis yang mengatakan bahwa kepemimpinan pemuda hanya soal kesempatan dan kepercayaan bukan soal kemampuan.

Suramadu dan Konflik Kekerasan

Ditulis dalam Social pada 10:02 am oleh aank1985

Ide pembangunan Jembatan Surabaya-Madura dicetuskan Prof Dr Ir Sedyatmo tahun 1960 sebagai bagian dari proyek ”menyatukan” Jawa, Bali, dan Sumatera (Kompas, 20/8/2003). Namun, gagasan awal dari RP Mohammad Noer, sesepuh orang Madura sekaligus mantan Gubernur Jawa Timur. Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) mungkin merupakan satu-satunya proyek yang paling lama dibicarakan dalam diskusi dan seminar. Diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (10/6), jembatan sepanjang 5.438 meter di atas Selat Madura itu menyatukan Pulau Jawa dan Madura, pembangunannya menelan biaya Rp 4,5 triliun. Kaki jembatannya dari pantai Kenjeran-Surabaya hingga Kecamatan Labang, Kamal, Kabupaten Bangkalan (Madura). Perubahan sosial Dalam konteks pembangunan nasional, keberadaan Jembatan Suramadu merupakan bagian dari infrastruktur vital yang akan menunjang ”proyek” besar di baliknya. Namun, hingga kini banyak orang Madura belum tahu proyek apa saja yang hendak dibangun. Meski demikian, janji- janji pemerintah selalu melambungkan harapan orang Madura. Jargon-jargon ekonomis sering terdengar, seperti Madura akan menjadi zona industri (modern) dengan investasi amat besar dan kelak akan menyejahterakan masyarakatnya. Mereka yang selama ini cenderung dimarjinalkan secara ekonomi berharap nasibnya berubah menjadi orang yang mungkin (paling) sejahtera—setidaknya—di Jawa Timur. Berbagai harapan ini tidak bisa ditolak karena kita paham, begitulah hukum ekonomi. Perlu diingat, berbagai perhitungan ekonomis tidak berdiri sendiri. Beragam kondisi nonekonomis juga patut dipertimbangkan. Berfungsinya Jembatan Suramadu, cepat atau lambat, akan menimbulkan perubahan sosial warga Madura yang selama ini agraris. Pola kehidupan mereka akan diwarnai masyarakat industri. Para investor seyogianya merespons positif karakteristik sosial budaya warga Madura yang terbuka dan adaptif terhadap suasana dan lingkungan baru. Karakteristik sosial budaya ini amat kondusif bagi bertumbuh kembangnya aneka industri besar. Bagaimanapun, masuknya pemilik modal besar yang disertai beroperasinya mesin-mesin industri merupakan kondisi-kondisi terbentuknya suasana dan lingkungan baru kehidupan masyarakat Madura kelak. Meski demikian, beroperasinya mesin-mesin industri besar di Madura tidak akan mengubah karakteristik sosial budaya masyarakat Madura yang menonjol yakni spontan, responsif, terus terang, apa adanya, dan tidak suka basa-basi. Karakteristik sosial budaya ini patut diperhitungkan para pemilik modal yang akan masuk Madura. Pengoperasian mesin-mesin industri besar secara ekonomi tentu lebih bersifat padat modal (capital intensive) daripada padat karya (labor intensive). Dengan kata lain, keberadaan Jembatan Suramadu akan lebih berorientasi pada kepentingan pemilik modal besar daripada kepentingan orang Madura sendiri. Bila demikian, proporsi terbesar orang Madura yang kemungkinan dapat menikmati berbagai keuntungan ekonomis dari beroperasinya mesin-mesin industri besar tentu hanya berkisar pada tataran pekerja menengah dan pekerja kasar. Kecemburuan sosial amat mudah tersulut bila pengelolaannya tidak memerhatikan prinsip-prinsip profesionalisme dan sarat aroma KKN. Konflik kekerasan Meski demikian, orang Madura akan menerima semua itu selama pengelolaannya diyakini profesional dan transparan—dalam arti tidak menipu—dan memegang prinsip-prinsip keadilan. Lebih penting lagi, jangan sampai karakteristik sosial budaya orang Madura yang dikenal sebagai pekerja ulet, tangguh, dan pantang menyerah dimanfaatkan dan dimanipulasi sebagai tenaga kerja murah demi keuntungan investor. Segala bentuk ketidaktransparanan, ketidakadilan, dan manipulasi mudah mereka cium. Hal itu mudah dipahami karena faktor geografis dan antropologis. Berbeda dengan pulau- pulau lain yang lebih dulu mengalami industrialisasi dalam skala besar, dari segi geografis, luas Pulau Madura sekitar 5.250 km, lebih kecil dari Pulau Bali. Adapun faktor antropologis menyangkut penduduk Pulau Madura yang amat homogen, baik dari segi etnisitas, bahasa, maupun nilai-nilai sosial budaya. Faktor-faktor ini merupakan media kohesif yang amat erat mengikat mereka sehingga berpengaruh kuat terhadap kepekaan sosial terhadap berbagai perlakuan tidak adil dan semacamnya. Itu sebabnya secara dini harus disadari sekaligus diantisipasi oleh para pemilik modal besar untuk bersikap dan berperilaku sportif dan profesional dengan penuh kearifan dan bijaksana dalam mengoperasikan mesin-mesin industrinya di Pulau Madura. Bila tidak, terkait sikap dan perilaku sosial budaya orang Madura yang amat spontan, responsif, terus terang, apa adanya, dan tidak suka basa-basi, segala bentuk ketidaktransparanan dan ketidakadilan akhirnya mudah akan menjelma menjadi sikap dan tindakan resisten. Bila ini terjadi, tidak mustahil akan amat mudah tersulut menjadi benih-benih konflik kekerasan. Beberapa contoh yang sudah dikenal luas antara lain peristiwa Waduk Nipah di Sampang (1993) dan masalah agraria di Pasuruan (2007). Andaikan beberapa dari banyak karakteristik sosial budaya Madura itu diperhatikan oleh semua pihak yang berkepentingan, niscaya ke depan segalanya akan berlangsung dengan baik tanpa harus diwarnai munculnya aneka resistensi dan konflik (kekerasan) sebagai wujud dari rasa tidak puas orang Madura.

06.05.09

Kemana Lagi Kita Akan Berdemokrasi?

Ditulis dalam Politic pada 2:34 pm oleh aank1985


Demokrasi, kata sacral yang selalu diucapkan manusia sebagai human beingnya untuk mendapatkan hak berpendapat dan berbicara sesuai dengan apa yang dirasakannya. Hampir di setiap Negara selalu menjunjung tinggi kata ini sebagai azaz berdirinya sebuah Negara yang konon katanya demokrasi adalah perwujudan pemerintahan dari rakyat untuk rakyat, bahkan ada yang bilang pula demokrasi sebagai vox populi vox dei, suara rakyat suara Tuhan.

Dalam sejarahnya demokrasi kerap sekali mendapat ujian bahkan batu sandungan, terutama dari para tangan – tangan besi yang selalu ingin melanggengkan kekuasaannya, entah itu pemerintah yang berkuasa ataupun korporasi yang memiliki kepentingan di dalamnya. Aspirasi dan pendapat rakyat dianggap sebagai pengganggu stabilitas dan pencapian tujuan oleh para penguasa maupun pihak yang berkepentingan, karena itulah pendapat-pendapat tersebut seringkali di kebiri, entah dengan intervensi kekuasaan, kekerasan, maupun manipulasi politik, atau lebih ironinya dilegalisasikan melalui  hukum perdata dan pidana. Semua itu akan dilakukan oleh sang penguasa agar hati nurani manusia tetap diam.

Kebangkitan media sebagai wadah informasi bagi rakyat, merupakan sebuah pertanda positif bagi tumbuhnya demokratisasi di dunia, Demokrasi yang merupakan sebuah azaz dan system dalam kehidupan manusia merupakan sebuah alat bagi kehidupan berbangsa maupun global agar setiap manusia mendapatkan hak – haknya secara wajar, keadilan didepan hukum, kesempatan yang sama dalam berusaha, bahkan sebagai wujud perlindungan kepada rakyat untuk menyampaikan kritik dan keluhannya. Dan media lahir sebagai bentuk akan aspirasi – aspirasi tersebut, sehingga tak mengherankan bila media massa seringkali disebut sebagai pilar demokrasi yang keempat.

Namun seiring dengan berjalan waktu, media massa yang awalnya berfilosofi sebagai penyalur informasi dan pendapat rakyat, mendapat godaan yang tak lagi dapat dihindarinya, sehingga media massa saat ini telah kehilangan idealismenya untuk menyalurkan informasi kepada masyarakat secara netral dan benar. Bila dalam pemerintah otoriter kematian idealism media ini seringkali disebabkan cengkraman sang penguasa, sehingga media massa hanya dijadikan sebuah propaganda politik dari rezim berkuasa. Dan kini idealism media massa kembali terbunuh tapi bukan oleh pemerintah yang berkuasa namun oleh kepentingan bisnis. Bagaimana tidak, media massa saat ini merupakan corong paling efektif untuk promosi,  menjaga image corporasi bahkan tempat untuk mendiplomasikan dan negoisasi kepentingan korporasi. Dan rakyatpun kembali masuk dalam jebakan utopia demokrasi.

Saat rakyat tidak dapat lagi menyalurkan aspirasi dan pendapatnya sesuai dengan kata hati nuraninya, serta tidak lagi dapat memperoleh informasi yang objektif. Disinilah peradaban manusia kembali pada zaman kegelapan ditengah gemerlap cahaya yang menyesatkan.

Akan tetapi kemajuan dalam bidang teknologi dan informasi memberikan secercah harapan dan setitik cahaya bagi demokrasi, lahirnya internet yang dapat di akses siapa saja dan dapat digunakan oleh siapa saja, tanpa ada aturan-atuaran yang melarang setiap manusia untuk menyampaikan pendapatnya didalamnya, merupakan sebuah ladang bagi lahirnya kembali demokrasi di dunia maya, setidaknya disinilah manusia kembali mendapatkan hakikatnya.

Internet menyediakan layanan-layanan gratis bagi siapa saja untuk mencurahkan segala isi hati dan pendapatnya, seperti mesin pencarian google yang dapat memberikan segala informasi mulai dari A – Z, yahoo yang dapat memberikan layanan surat – menyurat lebih cepat daripada via pos dan lebih murah dari telpon, atau facebook yang dapat setiap orang untuk saling berkenalan dan berbagi cerita dari seluruh penjuru dunia, serta masih banyak lagi web-web dalam internet yang telah dapat membentuk komunitas social di dalamnya. Bahkan komunitas – komunitas social dalam internet tersebut juga telah dapat membentuk tatanan kehidupan baru yang lebih terbuka, adil dan sesuai dengan setiap keinginan hati nurani para pengikutnya, jadi jangan heran bila tercipta suatu tribes-tribes atau pola kepemimpinan global dalam internet. Bahkan pemimpin-pemimpin dari tribes-tribes tersebut mendapat loyalitas dan dukungan penuh dari anggotanya, hal ini terjadi tentu saja karena internet menyediakan wadah bagi siapa saja untuk bisa ikut berdomkratisasi didalamnya.

Namun, ternyata demokrasi yang telah terusir ke dunia maya ini kembali memperoleh cobaan dari mereka yang mengatakan dirinya sebagai penjaga dan pengawal demokrasi tapi justru ingin membunuh demokratisasi itu sendiri. Cyber crime law, yang awal rancangannya adalah untuk mengendalikan para penjahat didalam dunia maya, saat ini telah disalah gunakan oleh mereka yang kepentingannya dalam dunia material mulai terganggu oleh besarnya pengaruh internet terhadap kekuasaan maupun kepentingannya.

Internet yang memberikan akses bagi siapa saja untuk bercerita, dapat menginformasikan setiap keburukan ataupun kebaikan mulai dari orang secara personal maupun korporasi yang bersekala global. Dan dalam internet inilah dimana demokratisasi tumbuh subur, telah dapat memberikan informasi mengenai setiap keburukan dari mereka yang telah menyalahi hak – hak dasar manusia lainnya, merupakan ancaman nyata bagi sang zalim Karena suara hati dan kejujuran yang terdapat dalam internet ini bisa jadi pedang yang akan membunuh semua kepentingan para elit.

Pengejawantahan Cyber criminal law di Indonesia melalui UU informasi dan teknologi menjadi senjata ampuh bagi siapa saja yang merasa kepentingannya telah terusik. Kini para pengguna internet dan para bloger merasa was-was terhadap tulisan ataupun pendapat yang inign mereka sharingkan. Karena bisa jadi pendapat – pendapat mereka tersebut bakal membawa mereka ke tahanan seperti yang dialami ibu Frita karena mengkritik pelanyanan sebuah rumah sakit.

UU ITE inilah yang digunakan oleh para pihak berkepentingan untuk membungkam suara hati rakyat. Dengan dalih pencemaran nama baik, para pihak berkepentingan tersebut berbondong-bondong ke kantor polisi melaporkan setiap keluh kesah yang disampaikan oleh rakyat. Rakyat seringkali tidak berdaya menghadapi ketidakadilan, kebohongan public ataupun penipuan yang dialaminya  dari para elit, oleh karena itu rakyat sering kali berkeluh kesah dan menyampaikan pendapat ataupun kritiknya di dalam blog-blog ataupun situs-situs yang terdapat dalam internet. Akan tetapi saat ini demokrasi mayapun telah sekarat oleh UU ITE yang telah miss intepretasikan oleh para pejabat hukum, dan akhirnya dijadikan senjata mematikan oleh para elit untuk membungkam opini public.

06.03.09

THANK’S MY FRIENDS, THAT’S A GREAT MOMEN I EVER HAD

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:10 pm oleh aank1985

April 2009, untuk pertama kalinya aku harus menelan pahitnya pil kekalahan. Getir memang rasanya, hingga membutaku hampir tidak mau meneruskan jalan ini. Walaupun sebelum ini sempat juga ku merasakan sesaknya tersisihkan, tapi kala itu adalah sebuah kekalahan yang terhormat. Setelah satu tahun lebih aku meninggalkan bangku kuliah dan menghadapi pertarungan hidup, berbagai kisah hidup anak manusia aku temui dan berbagai rumah aku masuki. Dari merekalah aku banyak belajar tentang Dunia dan Indonesia, walaupun semua tidak dapat sesumpurna seperti yang aku impikan, paling tidak sejumlah kebanggan dan kehormatan pernah aku dapatkan.
Sekali lagi, kini aku harus menerima kekalahan yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya. Ingatanku pun melayang jauh di saat – saat bahagia ketika berada di bangku kuliah dan persahabatan di masa remaja, ketika semangat untuk membawa perubahan terus di kobarkan oleh para imam – imam Universitas. Dan juga canda tawa dalam diskusi kusir yang tak pernah garing. Semua kenangan itu membuatku semakin merindukannya.
Di saat Indonesia tengah sibuk dengan pesta demokrasi, kuputuskan untuk kembali pulang ke tanah ku dilahirkan. Ku jumpai semuanya masih sama seperti dulu, angin segar pegunungan Ungaran, membawa pikiranku sedikit rileks akan penantnya kekalahan yang masih mengglayuti jiwaku. Bertemu dengan keluarga, meilhat wajah saudara – saudaraku semakin mendamaikan hati ini, bercerita dengan Ibuku walaupun hanya lewat batu nisannya membuatku semakin lega.
Sudahlah aku tidak mau memikirkan apa – apa lagi yang ada di Jakarta, termasuk kekalahan yang baru aku dapatkan. Ku temui sahabat – sahabat lama, segala romansa akan masa lalu mengalirkan darah kebahagiaan di antara kami. Terbuka lagi lembaran – lembaran lama yang pernah mengharu – biru dalam hidupku, kuratapi lagi kisahku akan sebuah kekalahan yang baru saja aku terima. Kenapa aku bisa terkalahkan? Kenapa aku tidak dapat sekuat dulu lagi? Pertanyaan – pertanyaan akan kesalahanku di masa kini terus menghujam deras dalam otakku, dan benar – benar hampir mebuat berantakan isinya.
Melihat teman – teman dan mendengar cerita mereka membuatku semakin terpuruk. Ku lihat kalian telah tumbuh semakin kuat seperti pohon akasia di depan rumahku.
Dalam senyum dan tawa kalian kulihat semangat yang berapi – api.
Dalam keluh kalian aku rasakan ambisi yang tak pernah padam.
Dan dalam diri kalian kulihat sebuah iman yang semakin tumbuh tinggi.
Semua yang kalian tunjukkan padaku, membuatku bertanya kembali pada diriku sendiri. Kemana aku yang dahulu, di mana kita bisa berdiri sama tegak dalam semangat meraih cita dan cinta??? Malam demi malam pertanyaan itu terus menghantui tidurku di rumah yang paling nyaman ini.
Aku benar sudah merasa kehilangan diriku, dan entah kemana lagi aku harus mencarinya. Hingga akhirnya aku bertemu dengan sahabat – sahabat lama yang membawakan cermin kejujuran. Sepertinya mereka merasa nyaman dengan kegelisahan yang aku sembunyikan Selama dua hari ini. 12 april ini merupakan Ultahku, jangankan merencanakan target yang akan kukejar dalam satu tahun kedepan, akan visi yang pernah aku bagun saja, aku sudah lupa. Karena itulah mereka mengajakku keluar untuk menikmati udara malam di semarang sambil merayakan Ultahku. Sungguh aku merasa terharu atas perhatian yang mereka berikan. Café tanjakan yang dulu sering aku jadikan tempat diskusi bersama teman – teman kuliah, kembali kami jadikan sebagai pilihan. Seperti anak SMA saja, malam itu kami benar – benar melakukan hal gila, kebut – kebutan di jalan dan bikin gaduh di sepanjang jalan Ungaran – Semarang. Lepas dan terbang semua kepenatanku saat bersama mereka, segala canda – tawa menghiasi café yang sudah sepi pengunjung ini. Dan aku pun mendapat kado Istimewa dari mereka. Walaupun kembali kalian menunjukkan kelicikan kalian untuk mengelabuhi aku, tapi itulah momen terindah dalam hidupku sepanjang tahun 2009 ini. Muka penuh dengan tepung dicampur bau amis telor serta wanginya molto, membuatku jadi seperti adonan kue saja. Thank’s that’s a great momen I ever had.
Setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, di bulan april ini pula aku akan kehilangan seseorang yang pernah menghiasi hidupku selama berada di Universitas, selsainya masa belajarnya di kampus Undip Semarang tercinta ini akan membawanya kembali ke tanah kelahirannya, mungkin bisa jadi pertemuan dengannya kemarin adalah pertemuan terakhir, kamu akan selalu jadi dewi yang pernah merubah hidupku. Selamat jalan sayang…
Siang ini ku coba kembali merenungkan semua yang telah kulewati beberapa hari ini, sambil ku baca wall yang ada di facebook dan juga sms yang tak pernah berhenti berbunyi dari dini hari tadi. beragam doa dan harapan tertuju padaku, sungguh aku merasa terharu membaca semua itu, aku pun teringat kembali oleh kekalahanku kemarin. Dan pertanyaan ini muncul, pantaskah bila aku menerima kekalahan ini, saat aku kehilangan diriku??? Entahlah, yang jelas aku ingin mengembalikan lagi semangat dan visi yang pernah aku bangun, dan berjanji lagi untuk menjadi yang terbaik sebagai anak bangsa Indonesia…

Tuhan mendustai kita demi kenyataan

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:09 pm oleh aank1985

Terima kasih banyak atas suratmu yang sangat menarik sahabatku! Sekarang saya dapat mengerti dengan lebih baik gambaran perempuannya Aristoteles. Jika engkau nanti pergi ke café zu den toten aber immer jungen Philoshophen itu, pernyataannya bahwa hidup dia hidup di suatu masa lebih dahulu adalah benar. Namun seandainya dia dahulu meneladani Plato, tentu dia akan memilik gambaran positif tentang perempuan. Oh ya, apakah Aristoteles mengenal Diotima? Dia telah membantu Socrates menjadi salah satu filosof terpenting. Seorang Perempuan!
Sayang, Plato tidak terlihat saat kamu berada di café itu. Tentu kamu akan senang bila dapat berbicara dengannya juga, bukan? Dia pasti memiliki raut wajah yang lebih lembut di banding Aristoteles. Oh ya, jangan lupa katakana pada Renee, saya tahu sedikit mengenal perbedaan antara mimpi dan kenyataan seperti berikut ini:
Mimpi dan kenyataan adalah dua dunia yang berbeda. Mimpi adalah dunia fantasi dan pikiran. Kedua dunia ini kemudian bertemu dengan sesuatu yang muncul dari dalam jiwa. Bagi kita, kenyataan adalah dunia material, akan tetapi demikian pula dengan ilmu pengetahuan, sejarah, ataupun bahasa. Lalu apakah kita benar – benar dapat memahami seluruh kenyataan? Kita nyaris tidak tahu apa – apa tentang Tuhan. Meskipun begitu, Dia ada. Jadi kenyataan kita adalah tidak sempurna, persis seperti mimpi.
Mimpi juga memberikan sesuatu yang besifat kira – kira. Dari mimpi kadang kala orang dapat belajar sesuatu, begitu pula dari kenyataan. Dengan kedua dunia ini mungkin kita dipersiapkan untuk menuju dunia – dunia yang akan datang dan belum kita kenal.
Hanya saya tida mengerti secara utuh apa yang Rene maksudkan ketika dia berkata, “Terkadang Tuhan mendustai kita demi kenyataan”.

MARKETING GETHUK TULAR

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:08 pm oleh aank1985

Ketika strategi – strategi marketing modern mulai kehilangan kepercayaannya dari masyarakat, karena di nilai terlalu provokatif dan penuh kebohongan. Maka masyarakat kembali lagi pada kebiasaan lama untuk mendapatkan merek terbaik dari produk yang hendak di beli.
Di akui atau tidak, kredibilitas iklan dari waktu ke waktu memang terus menurun. Terlebih lagi saat ini jumlah iklan yang muncul sudah sedemikian banyak dan hampir semuanya tampil dengan tema yang sama, sehingga konsumen menjadi bingung menentukan produk mana yang akan di pilihnya.
Kala bingung dalam menentukan pilihan, konsumen akan mencari opini tambahan dari lingkungan sekitar, entah itu keluarga, teman atau kerabat, karena mereka di anggap lebih tulus di banding iklan.
Metode classic ini oleh Mark Hughes, dia sebut sebagai worth of mouth marketing (WOMM), “saat ini WOMM menjadi lebih penting di banding sebelumnya. Dan hampir semua pakar serta praktisi pemasaran sepakat bahwa inilah jurus paling sakti dalam memasarkan produk dan jasa.
Rasanya tak adil bila kita membicarakan akan kebaikan umum bila hanya melihatnya dari sisi marketing saja, karena seperti yang di ketahui bersama, marketing merupakan ajang kebohongan yang menarik. Namun dalam metode WOMM ini fenomena yang terjadi adalah, “kepercayaan yang di bangun oleh opini public merupakan sebuah kebaikan umum yang di terima dan di harapkan oleh masyarakat”, kata Jurgen Habermass.
Khusus bagi masyarakat Indonesia metode WOMM ini mendapatkan tempat paling istimewa dalam benak konsumen, hal ini di karenakan latar belakang budaya mayarakat Indonesia yang gemar melakukan komunikasi, hingga – hingga metode WOMM ini mendapat julukan flamboyant oleh masyarakat sebagai gethuk tular (dari mulut ke mulut). Bahkan budaya gethuk tular ini sendiri oleh masyarakat Indonesia sudah di jadikan strategy marketing, seperti halnya bila melihat slogan – slogan yang ada di warung padang, “Jika anda puas, beritahu pada teman dan kerabat anda. Jika anda tidak puas, beritahu kami.”
Beberapa waktu lalu, majalah ekonomi dan bisnis SWA bekerja sama dengan onbee marketing research (Octovate Consulting Group) melakukan penelitian tentang fenomena gethuk tular terhadap pemasaran produk dagang di Indonesia.
Ada banyak temuan menarik yang di dapat dari hasil penelitian tersebut. Diantaranya, rata – rata orang Indonesia membicarakan hal yang baik ke 7 orang lainnya, namun untuk hal yang negative, mereka membicarakannya ke 11 orang lainnya. “Orang lebih suka berbicara yang negative disbanding yang positif”, kata Soemardy (Pakar pemasaran dari octovate consulting group). Akan tetapi ketika orang membicarakan WOMM negative, mereka hanya membutuhkan 6 hal positive yang baru untuk menetralkannya. Sedangkan untuk sumber yang paling kredibel bagi konsumen Indonesia adalah teman dan keluarga. “Sumber informasi yang paling tidak di percaya konsumen adalah salesman dan iklan, mereka meragukan kredibilitasnya.
Temuan menarik lainnya, betapa besar pengaruh WOMM terhadap keputusan membeli. Dalam survey tersebut, terungkap bahwa 67,78% responden akhirnya memutuskan membeli produk yang direkomendasikan lewat jalur WOMM.
Faktor utama yang membuat WOMM lebih “dipercaya” adalah karena komunikasi via WOMM di anggap lebih jujur dan tulus. Pasalnya pihak yang merekomendasikan merek tersebut merupakan orang yang sudah dikenal.
Riset tersebut mengambil hampir seluruh sample produk – produk industry yang di pasarkan di Indonesia, sehingga dari hasil riset tersebut dapat terlihat mana saja produk – produk di Indonesia yang paling di percaya masyarakat.
Dalam kasus tingkat kepercayaan konsumen terhadap produk, brand yang paling krusial dan paling sering di jadikan bahan pembicaraan masyarakat, sehingga berakibat terhadap produk tersebut layak atau tidaknya untuk di konsumsi oleh konsumen adalah produk – produk jenis obat – obatan serta makanan dan minuman, hal ini tentu dikarenakan oleh produk – produk tersebut akan berpengaruh langsung terhadap kesehatan dan juga keselamatan sang konsumen. Sehingga boleh di bilang apabila ada produk jenis tersebut yang di sering di bicarakan positive atau negative oleh masyarakat, sama juga halnya dengan menunjukkan pada mutu dan kualitas dari produk yang bersangkutan.
Untuk produk – produk tersebut yang mendapat rangking paling atas dalam mendapatkan rekomendasi masyarakat adalah seperti, KFC (restoran fast food), promag (obat magg), dan teh botol Sosro, (minuman siap saji). Produk – produk tersebut merupakan produk paling di percaya oleh masyarakat Indonesia diantara merek – merek lainnya dalam bidang bisnisnya.
Dan yang paling menarik dari hasil temuan riset mengenai peringkat produk paling dipercaya masyarakat tersebut adalah dari teh botol sosro, dimana PT Sinar Sosro sebagai perusahaan yang memproduksi teh botol tersebut juga memproduksi minuman teh siap saji lainnya degan merek yang berbeda – beda, berhasil menempatkan produk-produknya di urutan 5 besar produk paling sering di rekomendasikan oleh masyarakat, dengan urutan teh botol sosro di paling atas lalu disusul oleh fruit-tea dan stee di tempat ke tiga dan keempat, serta joy tea pada peringkat ke tiga dalam golongan teh hijau minuman siap saji.
Keberhasilan PT Sinar Sosro dalam menempatkan seluruh produknya di produk – produk paling di rekomendasikan oleh masyarakat ini ternyata sesuai dengan falsafahnya “niat baik”, serta mottonya sebagai “ahlinya teh”. Kedua hal tersebutlah yang membawa perusahaan pengolahan teh terbesar di Indonesia ini untuk selalu menjaga mutu dan kualitas produknya, serta komitmennya untuk memberikan kepuasan kepada konsumen dalam melepaskan dahaga dimana saja dan kapan saja, dengan mendistribusikan produknya di setap tempat, mulai dari PKL hingga restoran kelas atas, teh botol selalu tersedia.
Apa yang jadi falsafah “niat baik” PT Sinar Sosro dan juga mottonya untuk menjadi “ahlinya teh”, kiranya terbukti sudah dengan apa yang di temukan dalam hasil riset mengenai pemasaran WOMM. karena menurut Amalia E, Maulana, konsultan merek dan etnografer kepada SWA, “di era konsumen yang sudah mulai skeptic terhadap obral janji iklan merek/perusahaan, peranan WOMM memang menjadi semakin penting. WOMM menempatkan konsumen sebagai subjek, bukan Objek. Kegiatan yang di lakukan non-perusahaan dinilai lebih netral dan dipercaya konsumen lainnya karena bebas kepentingan.”

KAPITALISME TIDAK DAPAT MEMBERIKAN ALASAN UNTUK HIDUP

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:08 pm oleh aank1985

Kapitalisme menciptakan peluang bagi hidup yang makmur dan terbentuknya perusahaan yang makmur, tetapi ini masih belum cukup. Menurut Charles Handy, personil dan perusahaan perlu mencari suatu maksud yang lebih besar bagi keberadaan mereka.
Hidup ini lebih dari sekedar mencari uang dan membeli sesuatu. Untuk menjadi kaya, guru tidak perlu menjadi guru. Para sukarelawan mencati imbalan yang tidak ada hubungannya dengan uang.
Namun, karena system kapitalis menggunakan uang untuk mengukur keberhasilan dan nilai, maka mencari uang telah menjadi sasaran puncak bagi kebanyakan orang, lembaga, dan bahkan masyarakat. Mereka akan segera menyadari bahwa itu saja tidak cukup.
Janji utama dari seluruh pemerintah yang baru adalah menjadikan warganya lebih kaya dari keadaan mereka saat ini. Yang menjadi asumsi, yang di anut oleh para pemilih adalah bahwa kekayaan yang lebih besar dengan sendirinya akan menjadikan hidup lebih bahagia.
Negara – Negara menetapkan peringkat untuk diri mereka sesuai dengan Product Nasional (GNP) yang di dasarkan atas harga aktivitas dan produk. Produk yang tidak mencakup upaya mencari uang di abaikan, seperti membesarkan anak.
Organisasi apapun, bukan hanya perusahaan tetapi juga sekolah. Organisasi relawan, dan rumah sakit. Hanya mencari “bottom line” (keuntungan akhir).
Yang menjadi mantera baru adalah menjalani segala sesuatu, bahkan hidup kita. “sama seperti bisnis” yang artinya mencari laba. Biarkan pasar yang mengatur segala sesuatunya. Disiplin pasar yang mendorong organisasi dan lembaga untuk mencari laba lenyap sama sekali, menciptakan masyarakat yang efisien.
Namun, apakah efisiensi selalu lebih baik? Rumah sakit yang mengeluarkan pasiennya yang sudah tua dan masih dalam keadaan sakit tentu dapat meningkatkan bottom line-nya tetapi hampir tidak dapat di anggap “efisien” atau “berhasil”. Sekolah dan lembaga kesejahteraan social juga memiliki mandate yang tidak terkait dengan permintaan pasar.
Pasar seringkali mendorong kreativitas dan inovasi. Namun, disiplinnya tidak sesuai. Mencari uang tidak selalu menunjukkan kepada kita hal benar yang harus di lakukan.
Efisiensi juga menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berarti uang yang lebih banyak bagi siapa saja. Namun untuk apa uang tambahan itu harus di belanjakan?
Seringkali, pertumbuhan mendorong pertumbuhan yang tidak ada manfaatnya dan sia – sia. Konsumen saat ini membayar lebih untuk mesin cuci dengan dua belas setelan – tetapi yang di gunakan tetap hanya tiga saja.
Semakin lama konsumen membeli hanya untuk membeli. Pembelian seperti ini mungkin tidak menambah nilai pada kehidupan mereka atau bagi masyarakat, tapi siapa yang peduli? Yang penting angka – angka ekonominya kelihatan hebat.
Kapitalisme menciptakan kekayaan dan meningkatkan lehidupan lebih efektif ketimbang system ekonomi apapun lainnya.
Tetapi kapitalisme haruslah sarana, bukan tujuan. System ekonomi dari dirinya sendiri tidak dapat menetapkan maksud serta pedoman kehidupan atau masyarakat secara umum. Efisiensi ekonomi atau keuntungan ekonomi bukan merupakan alasan bagi keberadaan lembaga atau individu. Untuk itulah mereka harus memandang melampui ekonomi.
Fase – fase hidup yang lazim mulai dari perjuangan untuk bertahan hidup, hingga keakuan yang benar – dapat menyesatkan. Ralph Woldo Emerson mungkin yang terbaik yang pernah mengungkapkan impian keakuan yang benar sewaktu ia mendefinisikan keberhasilan sebagai.
“….Mendapat respek dari orang – orang yang cerdas dan mendapat kasih sayang dari anak – anak….; menghargai kecantikan, menemukan yang terbaik dalam diri orang lain, meninggalkan dunia dalam keadaan sedikit lebih baik, baik anak yang sehat, sepetak kebun, atau kondisi social yang dapat di pulihkan…”
Keakuan yang benar berlaku juga untuk perusahaan di samping bagi individu. Perusahaan membutuhkan suatu tujuan atau maksud di luar keuntungan agar dapat bertahan hidup untuk jangka panjang.
Karena jika perusahaan hanya ada untuk menghasilkan laba. Berarti perusahaan tidak lebih dari alat penghasil uang bagi pemiliknya. Perusahaan berarti tidak memiliki kepribadian yang menerap sifatnya atau tidak memiliki tujuan.
Hal ini jelas keliru. Perusahaan memiliki tujuan, menambah nilai. Perusahaan menambah nilai dengan menghasilkan sesuatu yang tidak ada di sana sebelumnya atau, jika sudah ada di sana, membuatnya lebih murah lebih baik, atau tersedia bagi lebih banyak orang.
Microsoft menjadikan Bill Gates sebagai salah seorang terkaya di dunia. Namun tujuan Microsoft bukan untuk memenuhi pundi – pundi Gates. Microsoft berhasil karena perusahaan tersebut membantu menjadikan hidup manusia lebih baik melalui piranti lunaknya. Milyaran dollar yang di dapat Gates hanyalah akibat – samping dari keberhasilan tersebut. Walaupun memang saat ini contoh Microsoft dalam memberikan manfaat kepada masyarakat di rasa telah tidak sesuai lagi dengan kehadiran Open Source (Linux) yang lebih murah,dan bermanfaat. Namun contoh keberhasilan microsoft di masa lalu masih tetap di anggap relevan.
Keberhasilan Microsoft bukan hanya di karenakan oleh tujuannya. Hal itu juga di karenakan oleh semangat kerja yang luar biasa serta kreativitas para karyawannya. Banyak dari mereka yang telah menjadi jutawan, namun tetap bekerja di Microsoft. Alasannya karena senang kepada pekerjaan mereka.
Perusahaan perlu mencapai keabadian agar tetap eksis untuk selama – lamanya. Namun perusahaan hanya bisa abadi apabila perusahaan tersebut tetap eksis, layak mendapat tempat dalam masyarakat modern.
Untuk itu, perusahaan harus mementingkan diri sendiri secara benar. Perusahaan harus memandang jauh melampui laba sebagai sasaran dan menemukan maksud atau tujuan yang lebih besar. Tujuan social ini, yang bukan tujuan ekonomi, harus di definisikan melalui orang lain – bukan hanya pelanggan, tetapi juga karyawan di dalam perusahaan dan dunia di luarnya.
MASYARAKAT YANG LEBIH BAIK; Pemerintah Harus Mengilhami Tanggung Jawab
Dalam suatu masyarakat yang layak, semua lembaga, termasuk lembaga pemerintah dan pendidikan, akan membantu orang menjalani hidup keakuan yang benar.
Pemerintah yang demokratis sudah lama menyadari peran mereka dalam membantu masyarakat yang dirugikan menjalani hidup yang lebih baik. Namun, pemerintah gagal membantu masyarakat memikul tanggung jawab atas hidup mereka sendiri.
Keakuan yang benar didasarkan atas gagasan bahwa kita memikul tanggung jawab untuk berbuat yang terbaik dari hidup kita melalui orang lain. Menunggu “uluran” tangan pemerintah sama sekali bukan keakuan yang benar.
Pemerintah harus membantu masyarakat memenuhi tanggung jawab mereka, bukan meniadakan tanggung jawab tersebut!
Peran pemerintah adalah menyediakan infrastruktur kehidupan dalam masyarakat. Infrastruktur ini terdiri dari:
Informasi – hak untuk mengetahui apa yang sedang berlangsung.
Keterlibatan – hak untuk ambil bagian dalam keputusan.
Individualitas – hak atas kebebasan dan perlindungan terntentu sebagai individu.
Di bidang perawat kesehatan misalnya, pemerintah harus menjamin masyarakat memiliki informasi dan pilihan dalam perawatan kesehatan dan bahwa hak perawatan kesehatan mereka terlindungi.
Pilihan menjadi kata kunci disini. Orang harus bertanggung jawab atas pilihan perawatan kesehatan yang mereka ambil, termasuk memilih rumah sakit dan dokter yang berbeda.
Di Negara – Negara yang memiliki perawatan kesehatan nasional, pemerintah dapat memberikan voucher kapada masyarakat – cek yang ditandatangani oleh pejabat wilayah – dan membiarkan mereka memilih penyedia mereka. System ini juga akan meningkatkan layanan karena pihak penyedia di paksa bersaing bagi pasien.
Sistem yang sama dapat diterapkan di bidang pendidikan, dimana voucher memungkinkan orang memilih sekolah atau universitas.

Halaman berikutnya