09.17.09
KRISIS MONETER DILIHAT DARI TEORI HUKUM EKONOMI
Pendahuluan
Situasi moneter dan perekonomian saat ini dalam kondisi memprihatinkan, karena sebagian besar masyarakat dunia menghadapi kesulitan. Keprihatinan tersebut ditandai oleh besarnya jumlah pengangguran sebagai akibat dari lesunya kegiatan ekonomi sehingga PHK terhadap tenaga kerja terjadi dimana-mana. Keadaan ini menyebabkan tingkat pendapatan penduduk semakin menurun atau kemelaratan semakin meluas. Hal ini berakibat daya beli masyarakat semakin lemah dan secara kumulatif melumpuhkan sebagian besar kegiatan ekonomi. Rendahnya daya beli masyarakat, juga terjadi karena masih tingginya tingkat inflasi.
Lesunya kegiatan ekonomi tidak hanya dialami oleh penguasa kecil dan menengah tetapi juga dialami oleh pengusaha besar. Penguasa kecil dan menengah menghadapi kesulitan, selain lesunya pasar juga karena kenaikan harga yang cepat sehingga sulit melakukan kalkulasi ongkos produksi. Lesunya kegiatan ekonomi yang dialami oleh pengusaha besar disebabkan karena jeratan utang luar negeri.
Keadaan tersebut diatas menimbulkan gejolak yang menyebabkan suatu distress dan melalui dampak penularan yang sistemik (kontagion effects) menjadi krisis. Krisis ini semula terjadi di sektor keuangan perbankan (moneter) kemudian melebar menjadi krisis ekonomi, yang secara sistemik melebar menjadi krisis sosial, politik, dan akhirnya krisis kepemimpinan.
Pertanyaannya adalah mengapa terjadi krisis moneter?, faktor-faktor apa saja yang menjadi penyebabnya?, adakah hubungan antara krisis moneter dengan teori hukum ekonomi?, serta bagaimanakah upaya penyembuhann terhadap adanya krisis moneter tersebut. Untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas, pada makalah ini secara berturut-turut akan dibahas : Krisis moneter dan faktor penyebabnya, teori hukum ekonomi, keterkaitan krisis moneter dengan teori hukum ekonomi serta upaya penyembuhan terhadap krisis moneter.
Krisis Moneter dan Faktor Penyebabnya
Pada dasarnya krisis adalah merupakan akibat dari gejolak finansial atau ekonomi dalam perekonomian yang mengidap rawanan. Kerawanan perekonomian dapat terjadi karena unsur-unsur yang pada dasarnya bersifat internal, seperti kebijaksanaan makro yang tidak suistainable, lemahnya atau hilangnya kepercayaan terhadap mata uang dan lembaga keuangan dan ketidakstabilan politik, atau yang berasal dari faktor eksternal, seperti kondisi keuangan global yang berubah, misalignment dari nilai tukar mata uang dunia (Dollar dengan Yen) atau perubahan cepat dari sentimen pasar yang meluas karena herd instinet dari pelaku dunia usaha.
Paul Krunger menggambarkan model pembangunan sebagai kapitalisme perkoncoan dimana Indonesia termasuk didalamnya. Jadi penyebab utama krisis bersumber dari dalam negeri (internal). Model pembangunan kepitalisme perkoncoan ini, akan mudah tejadi kolusi, korupsi, koncoisme dan nepotisme, atau dikenal dengan istilah KKN. Pelaksanaan model ini, di Indonesia menyebabkan presiden Soeharto pada waktu itu dikelilingi oleh unsur-unsur cycophant, yes-men, family, and cronies (penjilat, bapak senang, keluarga, dan konco-konco).
Jeffry Sach menyatakan bahwa krisis moneter disebabkan oleh adanya sikap panik dari para pelaku usaha. Sikap panik ini dapat dilihat dari cepatnya reaksi para pengusaha, terlebih lagi investor asing yang bremain di pasar modal, ketika terjadi gejolak peso, baht, ringgit, dan terdepresiasinya rupiah terhadap US Dollar. Mereka segera menjual sahamya di pasar modal untuk kemudian menukarnya dengan Dollar dan memindahkanya ke negara lain. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Yasraf Amir Piliang, juga menyatakan bahwa gejolak moneter yang melanda Amerika Serikat saat ini, juga disebabkan oleh adanya sikap panik dari para pelaku usaha.
Kepanikan ini tercermin pada kekacauan bursa saham, harga saham bertumbangan, para pialang mengalami shock, nasabah menyerbu bank, nilai tukar mata uang anjlok, kucuran dana pembangunan tersendat, transaksi perdagangan dihentikan, otoritas pemerintah kehilangan akal, dan urat nadi perekonomian global terancam bangkrut.
Krisis moneter yang melanda di Indonesia pada tahun 1998, sebenarnya merupakan imbas dari apa yang terjadi di Thailand. Mata uang Thailand atau Baht terpukul oleh serangan sepekulan. Perdana Menteri Thailand Chavalit Yon Chaiyudin (waktu itu menyatakan tidak kan mendefaluasi Baht). Nilai mata uang Baht diimbangkan terhadap Dollar, akibatnya nilai tukar Baht jatuh tajam terhadap Dollar, yakni dari 25 menjadi 56 Baht per 1 Dollar AS. Pasar saham Thailand, jatuh 75% pada tahun 1997. Finance one, perusahaan keuangan terbesar di Thailand bangkrut pada 20 Agustus 1997 Internasional Monetery Fund (IMF) menyetujui memberikan paket dana talangan sebesar 3,9 Milyar Dollar AS.
Krisis moneter di Thailand, yang ditandai dengan anjloknya nilai Baht terhadap Dollar berimbas ke rupiah. Nilai rupiah juga anjlok terhadap Dollar. Kepanikan semakin menjadi, ketika perusahaan yang tadinya banyak meminjam Dollar (ketika nilai tukar rupiah kuat) kini sibuk membeli Dollar untuk membayar bunga pinjaman mereka yang telah jatuh tempo dan harus dibayar dengan Dollar. Selanjutnya IMF datang dengan paket bantuan 23 Milyar Dollar. Bantuan ini tampaknya tidak mampu memperbaiki keadaan. Malahan berakhir menambah beban hutang yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia, karena penggunaanya banyak terjadi penyelewengan. Akibatnya inflansi dalam negeri Indonesia meningkat tajam. Sehingga sembakao maupun kebutuhan lain juga semakin melonjak naik berlipat ganda. Krisis ini memuncak ketika pada Mei 1998 Presiden Soeharto dipaksa mundur, setelah sebelumnya terjadi berbagai kerusuhan. Mundurnya Soeharto ini diperkirakan dapat meredakan krisis akan tetapi juga tidak dapat berhasil. Rupiah tetap bertahan sekitar Rp. 11.000/Dollar. Kecenderungan melemahnya rupiah semakin menjadi ketika terjadi penembakan mahasiswa Trisakti pada tanggal 12 Mei 1998 dan aksi penjarahan 14 Mei 1998. Kurs Rupiah terjun bebas mencapai Rp. 17.000/Dollar AS paling rendah dalam sejarah.
Krisis moneter yang terjadi di Amerika Serikat sejak pemerintahan George Bush, memuncak ketika bank-bank di Amerika Serikat harus menerima kenyataan tejadinya kredit macet dalam bidang perumahan, sekitar 5 Triliyun Dollar, yang mengguncang perekonomian Amerika Serikat. Bursa saham di Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya terguncang terjadi penurunan drastis, Indonesia terkena imbasnya. Bursa saham di Indonesia juga mengalami penurunan nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS. Kekawatiran banyak banyak pihak, krisisi ini akan menyebabkan terulangnya kembali krisis pada tahun 1997-1998. namun kenyataanya, krisis ini tidak (atau belum) menimbulkan kepanikan terhadap kehidupan masyarakat. Harga-harga sembakao relatif stabil tidak menampakkan kenaikan, bahkan kebutuhan pokok serta minyak goreng, kedelai mengalami penurunan. Apalagi didukung dengan menurunya harga minyak di pasaran dunia.
Teori Hukum Ekonomi
Teori hukum adalah mengkaji pengertian-pengertian asas yang terkandung di dalam hukum positif tertentu. Ruslan Saleh, menyatakan teori hukum adalah cabang ilmu pengetahuan hukum yang mempelajari berbagai aspek teoritis maupun praktis dari hukum positif tertentu secara tersendiri dan dalam keseluruhan nya secara interdespliner, yang bertujuan memperoleh pengetahuan dan penjelasan yang lebih baik, lebih jelas dan lebih mendasar mengenai hukum positif yang bersangkutan.
John Austin, menggolongkan teori hukum ke dalam dua macam, yaitu : Ekpositorial Jurisprudence, yaitu mengkaji hukum sebagaimana adanya (as it is) dan Censorial Jurisprundence, yaitu mengkaji hukum sebagaimana seharusnya (as it right to be). Salmon mengemukakan penggolongan yang berbeda, yakni Analytical Jurisprundence, yaitu analisis dari prinsip-prinsip utama hukum tanpa memperhatikan aspek historis maupun aspek etisnya, dan Historical Jurispridence, yaitu studi tentang perkembangan konsep hukum yang fundamental. Philipus M. Hadjon mengemukakan bahwa teori hukum adalah merupakan ilmu eksplanasi hukum yang sifatnya interdisipliner. Eksplanasi dalam teori hukum sifatnya eksplanasi analisis. Sedangkan sifat interdisipliner dalam bidang kajian teori hukum meliputi : analisis bukan hukum, ajaran metode hukum, metode keilmuan, dogmatika hukum dan kritik ideologi hukum.
Sehubungan dengan ruang lingkup dan fungsunya, teori hukum diartikan sebagai ilmu dalam perspektif interdisipliner dan eksternal yang mana secara kritis menganalisis berbagai aspek gejala hukum, baik dalam konsepsi teoritisnya maupun manifestasi praktis.
Olah karena itu tidak mengherankan cabang-cabang ilmu seperti sosiologi, psikologi, dan athropologi telah memberikan sumbangan yang penting bagi perkembangan ilmu hukum. Bahkan beberapa ahli berpendapat bahwa prinsip-prinsip ekonomi dapat memberikan cara terbaik untuk mendeskripsikan, menjelaskan, dan menilai beberapa aturan dari suatu sistem hukum positif. Dengan demikian prinsip-prinsip ekonomi dapat memberikan deskripsi tentang aturan-aturan hukum, menjelaskan mengapa masyarakat memilih peraturan tersebut, dan mengevaluasi peraturan-peraturan itu dan menentukan peraturan mana yang harus dimiliki oleh masyarakat. Niccolo Machiavelli dala karyanya ”The Prince” adalah penulis pertama yang menyusun kebijakan ekonomi dalam bentuk nasihat. Dia melakukanya dengan menyatakan bahwa para bangsawan dan republik harus membatasi pengeluarannya, dan mencegah penjarahan oleh kaum yang punya maupun oleh kaum kebanyakan. Dengan cara itu, maka negara akan dilihat sebagai ”murah hati”, karena tidak menjadi beban berat bagi warganya. Francis Bacon, salah seorang perintis merkantilism berpendapat bahwa seharusnya mengekspor barang lebih banyak dibandingkan jumlah yang diimpor sehingga luar negeri akan membayar selisihnya dalam bentuk Precions Metals. Merkantilistis juga berpendapat bahwa bahan mentah yang tidak dapat ditambang dari dalam negeri maka harus diimpor dan mempromosikan subsidi seperti penjaminan monopoli protective tariffs, untuk meningkatkan produksi dalam negeri dari manufactured goods. Richard Cantillon, seorang sejarawan ekonomi yang dijuluki bapak ekonomi dalam tulisannya yang berjudul ”Essay on the natural Commeerce in General”, menekankan pada mekanisme otomatis dalam pasar yakni panawaran dan permintaan, peran vital dari kewirausahaan, dan analisis inflansi moneter ”Pra Austrian”, yang cangih yakni tentang bagaimana inflansi bukan hanya menaikkan harga tetapi juga mengubah pola pengeluaran. Adam Smiths, dalam bukunya ”The wealth of nations”, menjelaskan bahwa persaingan adalah kekuatan yang tidak terlihat, industrial capitalism, memberi kemungkinan bagi akumulasi modal yang luas, menyatakan kebebasan universal atau kebebasan alamiah serta pasar modal adalah awal kemakmuran. Karl Marx, menggabungkan berbagai aliran pemikiran, dengan mengktitik ekonomi pasar. Karl Marx menginginkan kemajuan tetapi membenci kaum kapitalis, sifatnya sama rata-sama rasa, kapitalis merupakan cacat alamiah, hanya mengeksploitasi buruh, menentang mesin dan teknologi, karena dapat menyebabkan pengangguran. John Maynard Keynes dalam karyanya yang berjudul ”General theory of Employ ment, interest and money”, mengemukakan gagasanya tentang keberadaan central banking dan campur tangan pemerintah dalam hubungan ekonomi, ia juga menyampaikan kritik terhadap ekonomi klasik dan juga mengusulkan metode “managenent of aggregate demand”.
Keterkaitan Krisis Moneter Dengan Teori Hukum Ekonomi
Sebelum membahas keterkaitan krisis moneter dengan teori hukum ekonomi, maka untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai keterkaitan dari kedua hal tersebut, perlu kiranya dipaparkan secara kronologis terjadinya krisis moneter di Indonesia tahun 1998 dan krisis moneter di Amerika Serikat tahun 2008.
Sebelum krisis, ekonomi Indonesia tumbuh sangat pesat pendapatan per kapita meningkat dua kali lipat antara tahun 1990 dan 1997. Perkembangan ini didukung oleh kebijakan moneter yang stabil, dengan tingkat inflansi dan bunga yang rendah, nilai tukar rupiah terkendali rendah, dengan APBN yang berimbang serta kebijakan ekspor yang tidak saja tergantung pada sektor migas. Kesuksesan ini disatu pihak menimbulkan optimistis dan di lain pihak menimbulkan keteledoran. Kesuksesan pembangunan ekonomi di Indonesia memukau para kreditur asing yang menyediakan kredit tanpa batas dengan tidak meneliti terhadap proyek-proyek yang diberi kredit. Selain itu kegiatan ekonomi didalam negeri juga lepas dari pengawasan. Kredit jangka pendek diinvestasikan dalam jangka panjang. Sementara itu terjadi pula perombakan drastis dalam strategi pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang selama ini adala state and goverment led beralih menjadi led by private inisiative and market. Hutang pemerintah turun dari USD 80 Milyar menjadi USD 50 Milyar diakhir tahun 1996. Sementara hutang swasta membubung sangat cepat, yakni pada awal 1996 sebasar USD 15 Milyar dan diakhir tahun 1996 menjadi USD 75 Milyar. Dalam waktu yang sangat cepat bertebaran Bank-Bank Swasta di tanah air. Privatisasi/swastanisasi berjalan terus tanpa kendali dan penuh KKN. Maka ketika diserang krisis mata uang, situasi kondisinya belum siap, terutama dunia perbankan. Sehingga terjadilah krisis moneter yang kemudian menjadi krisis ekonomi dan selanjutnya meluas menjadi krisis sosial. Restrukturisasi perbankan tidak mempan, sektor finansial tetap memburuk. Dampaknya adalah pengangguran meningkat, kemiskinan merajalela, utang nasional menumpuk. Sektor tradisional/informal yang selama ini dianggap penghambat pertumbuhan ekonomi, memainkan peran yang cukup berarti karena dapat menggantikan sektor ekonomi modern yang ambruk. Mereka yang di PHK, dengan semangat kekeluargaan tertampung disektor tradisional/informal.
Gejolak moneter yang melanda di Amerika Serikat seperti yang telah dikemukakan pada pembahasan sebelumya bahwa tidak saja menggoncang sendi-sendi ekonomi Amerika Serikat, tetapi juga menimbulkan kepanikan global. Hal tersebut tercermin pada kacaunya bursa saham, harga saham bertumbangan, para pialang mengalami shock, investor dilanda kepanikan, nasabah menyerbu Bank nilai tukar mata uang anjlok, kucuran dana untuk pembangunan tersendat, transaksi perdagangan dihentikan, otoritas pemerintah kehilangan akal, dan urat nadi perekonomian global terancam bangkrut.
Gejolak moneter di Amerika Serikat adalah konsekuensi dari sistem perekonomian ”pasar bebas dan ideologi (neo) liberalisme”. Sistem pasar bebas dengan minimalisme pengendalian negara setidaknya mengasilkan empat watak kultural: 1) orbital, berupa perputaran ekonomi moneter yang mengglobal; 2) virtual, dengan sektor moneter yang bersifat maya; 3) viral, dengan penjalaran efek ekonomi yang cepat bak virus; dan 4) banal, dengan sistem ekonomi yang merayakan konsumerisme remeh-temeh.
Jean Baudrillard dalam Fatal Strategis (1990) menggambarkan kondisi kultural ekonomi macam itu melalui metafora kosmologi ”orbit” (orbital). Sistem moneter layaknya sebuah orbit, yaitu garis edar mata uang berputar mengelilingi ”sektor riil” sebagai titik pusat orbit, tetapi terpisah darinya. Bisnis keuangan berlangsung di sektor moneter, tanpa bersentuhan dengan sektor riil. Triliunan dollar AS diperjualbelikan di pasar modal, tetapi hanya sebagian diputar di sektor riil.
Dalam sistem ekonomi itu, peran mata uang terlalu besar, mendeterminasi fluktuasi ekonomi. Sementara sistem moneter sendiri kini bersift virtual, dengan sistem virtual money dan perputaran kian cepat dan real time. Hazel Henderson dalam Paradigms ini Progress: Life Beyond Economics (1991) menyebutkan, percepatan sistem moneter meningkatkan ketidakpastian, indeterminasi, dan turbulensi ekonomi, yang rentan tehadap resiko krisis, kemacetan, bahkan kehancuran.
Kondidi kesaling terhubungkan dalam kesaling tergantungan global telah menciptakan budaya ekonomi global sebagai “jejaring terbuka” (open network) – laaknya jejaring internet – yang rawan teradap serangan virus spekulasi dan kemacetan. Serangan virus (kemacetan likuiditas) disebuah tempat (seperti AS) dengan cepat menjalar ke seluruh jejaring global tanpa ada yang tersisa. Inilah “efek kupu-kupu” (buttefly effect) dalam jaringan chaos sistem ekonomi pasar bebas yang rentan.
Celakanya, sistem ekonomi moneter itu amat tergantung pada “sistem konsumsi”, khususnya konsumsi barang mewah dan banal, sebagai “alibi” agar modal terus berputar dan berakumulasi. Sistem ekonomi merayakan gaya hidup konsumerisme yang bersifat banal: kemewahan, lifestyle shooping, dan hiperkomoditi. Sebaliknya, segala kemewahan itu bergantung pada kondisi moneter karena produk mewah diproduksi melalui uang bank. Inilah “lingkaran setan” ekonomi moneter.
Gejolak moneter tidak saja mengguncang fondasi ekonomi global, tetapi mengangkat kembali masalah “etika kapitalisme”. Bencana krisis moneter adalah buah tindak ekonomi yang terlepas dari etika sosial. Padahal, tindak ekonomi seharusnya dilandasi etia sosial karena terkait masalah hak, kebebasan, keutamaan (virtue), kepercayaan (trust), dan tanggung jawab. Dalam kondisi krisis, pengabaian etika sosial kian dirasakan efeknya.
Etika liberalisme ekonomi, khususnya di AS, menurut Paul Tillich dalam The Corange to Be (1980), dicirikan oleh etika “keberanian eksperimen” dan “berspekulasi”. Setiap individu bebas bereksperimen dan berspekulasi tentang apapun; siap menghadapi segala “resiko”, “kegagalan”, “krisis” dan “bencana” (katastrofe), dan kegagalan tak menyurutkan “keberania” (courage). Inilah etika “keberanian individualistik – liberal”.
Namun, dalam sistem “ekonomi jejaring” (network economy), dimana pelaku ekonomi saling terhubung dan bergantung secara global, etika “keberanian spekulasi” individual saja tidak cukup, harus disertai etika “keberanian bertanggung jawab” secara sosial (courage of responsibility). Ironisnya, dalam sistem jejaring ekonomi liberal, orang lebih mudah melempar tanggung jawab karena minimnya etika sosial dan kebersamaan, seperti ditunjukkan Direktur Lahman Brothers Richrd Fuld.
Ekonomi yang telah bertransformasi menjadi semacam “dromonomik” (dromononics), yaitu “sistem ekonomi gerak cepat” (dromos = berlari kencang) dan “megalonomik” (megalonomics), yaitu “ekonomi serba raksasa” menggiring pada situasi dimana kecepatan dan “keraksasaan” telah diluar kendali manusia, yang menyebabkan orang kehilangan kontrol akibat kelengahan, data yang keliru, umpan balik terlambat, informasi tak memadai, atau respons terlalu lambat.
Institusi ekonomi yang merayakan “keutamaan individualistik” mengabaikan “aneka keutamaan sosial”, seperti tanggung jawab, kebersamaan, dan keadilan sosial. Alasdair Maclntyre dalam vurtue (1999) mengatakan, institusi tanpa keutamaan sosial akan keropos, korupsi, dan rentan penghancuran diri sendiri (self-desruction). Disana mudah disembunyikan kesalahan, kebodohan, dan kegagalannya dibalik “kambingb hitam jaringan” yang terlanjur rusak pula.
UPAYA PENYEMBUHAN TERHADAP KRISIS MONETER
Dochak Latief, mengemukakan bahwa terdapat beberapa kebijakan yang dirasa sangat penting untuk mengatasi krisis moneter, diantaranya adalah: (1) mengembalikian kepercayaan pemerintah. Hal ini merupakan persyaratan pokok untuk efektifnya kebijakan pemerintah baik dibidang ekonomi, politik, (2) perombakan model pembangunan, (3) merubah perimbangan kebijakan ekonomi luar negeri dan dalam negeri secara lebih berimbang untuk mengurangi ketergantungan pada ekonomi global dan memanfaatkanya secara maksimal, (4) serta perbankan jelas perlu segera disehatkan dengan tetap menjaga keseimbangan dengan sektor keuangan yang lain, namun tidak sampai mengorbankan kepentingan rakyat banyak, (5) kebijakan yang berkait dengan usaha mewujudkan kurs yang stabil. Ada tiga alternatif yang ditawarkan yang kiranya sama berisiko tinggi, yaitu sistem devisa bebas seperti Indonesia sekarang ini, kontrol devisa secara penuh atau sistem bebas terkendali seperti sebelum krisis ekonomi, (6) menyelesaikan permasalahan pri dan non pri, kaitanya dengan usaha memperbaiki hubungan yang lebih rasionil dan objektif yang memungkinkan terjadinya pengaturan untuk kerjasama saling menguntungkan seperti dilaksanakan di Malaysia dengan The New Economic Policy.
Soedrajad Djiwandono, mengemukakan bahwa yang: Pertama kali agar bangsa dapat keluar dari krisis yang melanda kehidupan ekonomi, sosial dan politik adalah dengan cara menghentikan Hemorr hage yang terus berlangsung selama ini. Kedua, perlu adanya kestabilan politik, perlindungan hukum dan jaminan terhadap HAM, bagi pelaku pasar. Ketiga, kebiasaan dalam prakte-praktek yang tidak mendukung pembangun yang berkesinambungan (sustainable) harus dihidarkan. Semua pelaku harus memperhatikan prinsip kehati-hatian. Keempat, secara individual maupun secara keseluruhan kegiatan dari pelaku pasar dan masyarakat luas harus menyesuaikan diri dengan kemampuan. Kelima, bagi pelaku dunia usaha swasta perlu ada kesadaran hukum bahwa masalah ekonomi yang kita hadapi dewasa ini sering dikataka timbul bukan karena anggaran pemerintah yang kurang tetapi sektor swasta yang kurang prinsip kehati-hatian (ekspansi yang berlebihan pada proyek-proyek yang kurang produktif), cenderung menimbulkan Bubbles yang mudah busting, dengan sumber pembiayaan yang beresiko tinggi dalam bentuk pinjaman jangka pendek dari luar untuk pembiayaan proyek yang kurang produktif yang berjangka panjang. dan Keenam, memerangi praktek KKN, hal ini bukan hanya dijadikan slogan saja.
Didik. J Rachbini, mengemukakan bahwa dalam rangka menagatasi krisis yakni dengan menerpkan ekonomi kerakyatan tetapi ridak boleh bersifat isolatif terhadap ekonomi global. Daniel Bell, sosiolog dari Harvard mengatakan bahwa pembangunan ekonomi, politik dan sosial akan menjadi semakin global dan saling terkait antar satu negara nengan negara yang lain, hal ini menunjukkan bahwa masalah pembangunan ekonomi bukan hanya menjadi milik satu negara atau sekelompok negara dalam satu kawasan tertentu saja, melainkan merupakan tanggung jawab yang harus diselesaikan secara bersama.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut diatas dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut:
- Krisis moneter adalah merupakan akibat dari gejolak finansial atau ekonomi dalam perekonomian yang mengidap kerawanan.
- Kerawanan perekonomian terjadi karena dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain adanya kebijakan makro yang tidak sustainable, lemahnya atau hilangnya kepercayaan terhadap mata uang dan lembaga keuangan serta adanya ketidakstabilan politik, adanya KKN. Faktor eksternal antara lain berupa kondisi keuangan global yang berubah, misaligment dari nilai tukar mata uang dunia atau perubahan cepat dari sentimen pasar yang meluas karena herd instinet dari pelaku dunia usaha, keserakahan sektor modern akan kredit dan sebagainya.
- Dilihat dari teori hukum ekonomi terjadinya krisis moneter disebabkan karena penerapan teori hukum ekonomi yang tidak konsisten dan/atau penerapan hukum ekonomi yang kurang memperhatikan situasi dan kondisi internal dalam negara yang bersangkutan. Selain itu masing-masing teori ekonomi mengandung kelemahan yang mana kelemahan tersebut kurang menjadi perhatian.
- Dalam upaya mengendalikan terjadinya krisis tidak perlu diadakan dokotomii antara teori ekonomi tradisional dengan teori ekonomi modern melainkan harus diintegrasikan.
09.14.09
EXTREME TOYOTA
Sama halnya dengan PT Sinar Sosro ketika pertama kali memumlai usahanya. Hampir enam puluh tahun lalu, ketika pertama kali Toyota Motor Corporation terjun ke kolam besar pasar otomotif AS dengan sebuah mobil kecil yang dipandang sebelah mata. Bahkan ironisnya Toyota dalam industry global dipandang sebagai kisah miskin menjadi kaya. Karena pada 1950, perselisihan pekerja telah memaksa penutupan pabrik Toyota selama dua bulan, dan hampir menyebabkan kebangkrutan. Bahkan, sebagai satu persyaratan untuk pendanaan ulang pinjaman, Toyota harus memecat seperempat tenaga kerjanya. Sementara presiden dan pendiri perusahaan, Kiichiro Toyoda, memutuskan mengundurkan diri.
Pada 1957, dengan Toyopet Crown, Toyota memulai ekspor pertamanya ke AS, tapi Toyopet Crown tidak diterima dengan baik, bahkan inventaris yang tidak terjual ditarik kembali. Toyota terus mencoba mencari permasalahannya dan memperbaikinya melalui praktik perbaikan berkelanjutan (Kaizen). Yang akhirnya mereka dapat memproduksi Corona yang lebih masuk akal pada 1965, lalu diikiuti oleh Corolla, Camry, Lexus, dan Tundra.
Setelah lima puluh tahun berselang, mobil-mobil made in Toyota menjadi mobil yang lazim ditemui dirumah-rumah warga AS. Dan kini Toyota-pun keluar sebagai pemenang dalam persaingan pasar otomotif di AS, bahkan telah menjadi perusahaan yang menakjubkan berdasarkan semua ukuran konvensional. Pada tahun 2007 Toyota mampu menjual 9,37 juta mobil dan truk, sedangkan pertumbuhan rata-rata adalah sebesar 11% pertahun. Wajarlah bila angka-angka tersebut membuat General Motor sebagai produsen mobil terbesar dunia merasa khawatir.
Toyota kini diakui sebagai paradigma kinerja yang superior di antara perusahaan manufaktur yang dijalankan dengan cara terbaik dan paling sukses di dunia. Sementara bagi para pengamat industry, keberhasilan Toyota sulit dipahami. Karena perusahaan itu bergerak bertahap dengan ledakan kemajuan dalam sejumlah lompatan besar. Hal tersebutlah yang membuat Toyota dikenal ekstrem dalam pembangunan bisnis dan industrinya, karena, Toyota dapat berhemat dalam sumberdaya, tetapi mengeluarkan dana besar untuk manusia dan proyek. Perusahaan beroperasi dengan efisien berkat sejumlah praktik produksi efektif biaya seperti Toyota Pdoduction System – tetapi berkelimpahan dalam manajemen SDM. Toyota membentuk sebuah lingkungan stabilitas dan paranoia dalam waktu yang bersamaan. Perusahaan tersebut bersifat hirarkis dan birokratis, tetapi mendorong adanya perbedaan pendapat. Perusahaan itu juga menuntut komunikasi yang sederhana seraya membangun jaringan komunikasi yang kompleks dan berlapis-lapis.
Dan, apa yang membedakan Toyota dengan para pesaingnya adalah arti pekerja pabrik bagi Toyota. Mereka lebih dari sekedar sepasang tangan di lini perakitan. Setiap orang adalah pekerja pengetahuan yang mengumpulkan pengetahuan baru melalui pengalaman dan interaksi langsung dengan pekerja lainnya. Apa yang diinginkan Toyota adalah suatu model manajemen baru yang sesuai untuk produksi industry di era pengetahuan, di mana pertumbuhan tidak hanya bergantung pada efisiensi operasional, tetapi juga pada kemampuan manusia dan organisasi. Model Toyota ini mewakili pendekatan yang lebih manusiawi bagi produksi industry karena perusahaan menempatkan manusia, bukan mesin, pada inti dari segalanya.
09.08.09
Trilogi: Kehidupan dan Kematian Perusahaan
Bukan hanya sebuah novel macam lord of the ring atau laskar pelangi saja yang dapat menghadirkan kisah trilogy. Jim Collins seorang perisat dan penulis buku bisnis kenamaan juga telah berhasil menyeslaikan epilognya dengan mempersembahkan buku How The Mighty Falls sebagai epilog dari karya - karyanya sebelumnya, good the great dan Built to Last. Ketiga buku tersebut merupakan sebuah kisah epik dari perjalanan dan perkembangan perusahaan – perusahaan di dunia.
Di dalam Good to Great, Collins member kita peta bagaimana perusahaan dengan kinerja yang bagus kemudian melejit menjadi hebat dengan kinerja yang minimal tiga kali lipat dari rata-rata pasar. Esensi yang dia temukan adalah perubahan kinerja ini didasari kepemimpninan yang ibarat ilmu padi, semakin sukses semakin menunduk, pemimpin yang mampu membangun tim eksekutif yang mempunyai nilai dan karakter yang cocok dan bersama-sama mereka menentukan tujuan dan focus kompetitif (hedgehog) perusahaan.
Kepemimpinan seperti itu, yang dia namakan level 5 leadership, menjadi pemicu energy yang ditujukan kepada kepentingan institusi dan bukan kepada kepentingan pribadi dang pejabat.. dari titik tolak ini, dia akan membangun budaya eksekusi didalam institusinya untuk secara konsisten mengimplementasikan strategi perusahaan dengan disilpin yang kuat. Jika proses transisi ini tercapai, perusahaan akan menjadi a great company dengan kinerja yang hebat.
Lalu bagaimanakah kinerja yang tinggi ini dapat dipertahankan? Dia memberikan jawabannya melalui prinsip yang tertera di Built to Last : Perkuat perusahaan sehingga tidak tergantung pada sang pemimpin, temukan makna (misi dan nilai) perusahaan yang tidak sekedar terfokus kepada laba dan sukses pribadi, pertahankan makna perusahaan tetapi dorong terus angin perubahan dengan Big Audicious Hairy Goals (BHAGs) yang didasari focus kompetitif perusahaan.
Di buku ketiganya ini, Collins menagatakan kepada tim risetnya, “we turning to the dark side” (mereka bukan akan meneliti hal positif apa yang membuat perusahaan berhasil, tetapi hal negative apa yang bisa membuat perusahaan gagal).
Disini Collins menyatakan bahwa mencari sebuah kerangka untuk menerangkan bagaimana perusahaan menurun kinerjanya lebih sulit daripada menacari kerangka bagaimana membuat perusahaan menanjak, karena lebih banyak cara untuk gagal daripada sukses. Namun dia memeberikan apa yang dia namakan “kerangka yang berguna” untuk para pemimpin yang ingin mencegahnya atau membalikkan kinerja yang menurun.
Tahap awal penurunan sering susah dideteksi karena kinerja perusahaan masih baik, tetapi indicator dini yang terlihat adalah adanya kesombongan karena sukses, merasa sukses memang sepatutnya mereka dapatkan, namun seringkali hal ini menyebabkan mereka lupa pada fokus kompetitifnya.
Tahap kedua How The Mighty Fall adalah “Mengejar target lebih besar tanpa disiplin”. Disini terlihat pertumbuhan seakan-akan harus dikejar tanpa melihat batas kemapuan internal yang ada. Yang penting harus menjadi lebih besar (bukan lebih baik). Tetapi kekurangan talenta dalam posisi yang diperlukan, pengendalian biaya berkurang, birokrasi bertambah, dan kepentingan pribadi menjadi lebih penting daripada kepentingan perusahaan. Semua perusahaan pasti ingin tumbuh, tetapi pertumbuhan harus dilaksanakan dengan disiplin yang ketat.
Tahap ketiga di namakan “Mengingkari resiko dan bahaya”. Dalam tahap ini, semakin kelihatan turunnya kinerja dan lebih sering hal-hal positif yang dikedepankan, sedangkan hal yang negative tidak banyak dibedah. Kemudian muncul target dan pertruhan perubahan yang besar tanpa validasi yang kuat, dinamika tim mulai tampak menurun, banyak reorganisasi dan kesalahan yang dilimpahkan ke pihak eksternal.
Dua tahap terakhir adalah “mencari jalan keluar” dan “menyerah menjadi tidak relevan atau mati”.
08.28.09
Mempertanyakan Relevansi APEC
Di tengah krisis ekonomi serta kekhawatiran akan terjadinya resesi dunia, memang sulit bagi kita untuk memikirkan APEC dan maknanya bagi Indonesia. Pertemuan APEC di Kuala Lumpur baru-baru ini sekali lagi memperlihatkan simbol kerja sama yang khas, dengan masing-masing kepala negara mengenakan kemeja batik Malaysia yang berpadu rancak dengan warna hijau daun kelapa. Namun panorama ceria itu tidak menutup kenyataan bahwa para kepala negara berdiri kaku, bahkan saling membuang muka.
Padahal, relevansi APEC sedang dipertaruhkan, dan pada saat ini ada tiga pertanyaan pokok yang perlu dikaji secara mendalam. Pertama, relevansi APEC bagi komitmen negara-negara anggotanya terhadap “Sasaran Bogor”, yaitu perdagangan dan investasi bebas dengan tenggat waktu tahun 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara sedang berkembang. Komitmen ini dapat berubah karena krisis ekonomi telah menyebabkan proses liberalisasi dan globalisasi dipertanyakan. Ternyata, program peningkatan liberalisasi kolektif di sembilan sektor, yang disebut sebagai Early Voluntary Sector Liberalization (EVSL), tak juga dapat disepakati.
Di samping itu, salah satu negara yang paling mempersoalkan liberalisasi justru adalah tuan rumah APEC, Malaysia, yang telah melakukan kontrol devisa. Hong Kong, yang selama ini dianggap jagoan ekonomi pasar, juga melakukan intervensi di pasar modalnya. Walaupun tidak tercapai kesepakatan untuk program EVSL, tapi yang menggembirakan ialah tidak ada anggota APEC yang menarik diri dari komitmen liberalisasi. Bahkan, ada seruan untuk mempercepat negosiasi secara menyeluruh (broad-based) di forum multilateral WTO. “Good news” lainnya adalah langkah-langkah Malaysia tidak disambut dengan melakukan de-liberalisasi. Sebaliknya, ada kemajuan dalam proses liberalisasi di masing-masing negara, yang merupakan ciri khas kawasan APEC. Cile akan menurunkan rata-rata tarifnya dari 11 persen menjadi 6 persen dalam kurun waktu 5 tahun. Tiga negara di bawah program IMFKorea, Thailand, dan Indonesiajuga memiliki program liberalisasi dan reformasi yang sangat komprehensif.
Negara anggota yang lain juga diperkirakan melakukan penyesuaian sebagai respons terhadap krisis. Maka, proses liberalisasi melalui wadah APEC diharapkan dapat memberi kepercayaan kepada negara anggotanya agar tetap pada komitmen ekonomi terbuka, dan mencegah kecenderungan proteksionisme dari negara maju. Kendati bagi Indonesia liberalisasi tanpa basis kelembagaan dan kapasitas yang menunjang bisa menyebabkan krisis, patut juga disimak bahwa dalam mengatasi krisis ekonomi kini, komitmen pada liberalisasi ekonomi juga perlu dipertahankan. Tentunya, dampak buruk liberalisasi, seperti arus modal jangka pendek, tetap harus diantisipasi.
Kedua, relevansi APEC melakukan respons terhadap krisis ekonomi yang melanda kawasan ini. APEC memang lahir dan besar dalam keadaan negara anggotanya semua tengah mengalami pertumbuhan pesat. Dalam kondisi pertumbuhan tinggi, negara-negara APEC tidak mampu melakukan respons yang tangkas untuk menangkal krisis. Maka, hanya para pemimpin APEC-lah yang diharapkan memberi solusi dengan cepat dan berani. Memang, pertemuan APEC di Vancouver pada 1997 hasilnya sangat tidak memuaskan dan tidak ada tindak lanjutantara lain karena waktu itu bahaya krisis belum sepenuhnya disadari. Bagaimana dengan hasil Kuala Lumpur? Ternyata, para kepala negara APEC juga tidak berhasil memberikan respons yang diharapkan untuk mengatasi krisis.
Penegasan dan prioritas yang ditetapkan para kepala negara memang sudah tepat, yaitu: jaringan sosial; penyempurnaan sistem keuangan internasional; memperkuat sistem perbankan nasional dan global yang memenuhi syarat prudensial internasional; pemantauan dan manajemen arus dana jangka pendek, termasuk penyempurnaan informasi yang harus disampaikan oleh hedge funds dan badan pengelola dana lain; juga pembentukan kelompok kerja dengan pihak swasta untuk menangani masalah utang dan manajemen risiko. Namun, masih sulit untuk menilai arti konkret kata-kata tersebut karena pelaksanaan dan proses realisasinya sangat tidak jelas.
Hasil konkret bukannya tidak ada, yaitu upaya membantu proses restrukturisasi perbankan dan utang swasta. Walaupun paket dan rinciannya belum jelas, AS telah menawarkan US$ 5 miliar dan diperkirakan akan ditambah US$ 5 miliar lagi oleh Jepang, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia. Bantuan ini dikaitkan dengan program restrukturisasi utang swasta dan perbankan, misalnya untuk dana garansi obligasi yang diterbitkan oleh negara-negara tersebutdalam rangka rekapitalisasi sektor perbankan. Hanya saja, jumlahnya kecil dan mekanismenya belum jelas. Ketiga, relevansi APEC di tengah krisis politik yang melanda berbagai anggotanya.
APEC tidak berpegang pada konsep “non-interference” dan bukan forum untuk membahas politik. Namun pertemuan APEC kali ini sangat diwarnai masalah politik, terutama karena penahanan atas diri Anwar Ibrahim, mantan orang nomor dua di negara jiran itu. Memang, pujian yang disampaikan Wakil Presiden AS, Al Gore, kepada kelompok reformis di Malaysia telah menjatuhkan martabat pemerintah yang kini berkuasa di negeri itu. Walaupun pesan Gore dianggap melampaui batas dan tidak diplomatis, tapi pesan itu sangat penting. Lagi pula, reformasi dan kebijakan ekonomi tidak mungkin terlaksana tanpa komitmen untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bijaksana (good governance). Maka, APEC pun harus mendewasakan diri sehingga dapat lebih bersikap terbuka, bukan saja untuk membahas kebijakan ekonomi masing-masing negara, tetapi juga aspek politiknya. Terlebih dalam era globalisasi ini, ketika kebijakan yang diambil oleh suatu negara dapat mengimbas atau membawa pengaruh bagi negara lain.
Anda Pasti Bisa Bila Anda Berfikir Bahwa Anda Bisa
Kalau ada buku yang bisa membuat saya menjadi sangat percaya diri dan termotivasi untuk bergerak dan meraih impian saya, buku inilah yang saya maksud. Cara bertutur dari buku ini jauh dari kesan menggurui. Cerita tentang pengalaman penulis dan orang-orang yang telah ‘tersentuh’ oleh pandangan dan motivasi yang disampaikan secara persuasif oleh penulis menjadi daya tarik buku ini.Walaupun buku ini ditulis oleh seorang pendeta, namun pesan moral di dalamnya berlaku universal untuk semua manusia, pemeluk agama manapun.
Buku ini mengajarkan kita bahwa di setiap bagian diri kita, ada satu kekuatan yang apabila kita dapat melatihnya, maka segala rintangan yang kita hadapi, akan dapat kita atasi. Disiplin diri untuk selalu berfikir positif dan tidak cepat menyerah adalah suatu hal yang dapat membuat sesuatu yang sebelumnya kita anggap tidak mungkin menjadi hal yang sangat mungkin terjadi.
Seseorang yang selama ini berfikir bahwa ia tidak sanggup melakukan sesuatu yang menurutnya hebat, suatu saat dapat berbalik menjadi seseorang yang dengan mudahnya menciptakan sesuatu yang spektakuler, yang selama ini ia ataupun orang lain tidak pernah membayangkannya. Hal itu dapat terjadi hanya dengan mengubah cara berfikirnya. Seseorang sebenarnya tidak pernah menjadi orang ‘biasa saja’ dengan otak/fikiran kelas dua. Itu hanya karena dia berfikir bahwa dirinya ‘hanya’ seperti itu. Sebenarnya dalam dirinya, terkubur kepribadian sejatinya, yaitu seorang yang luar biasa dengan fikiran kelas satu, dan hanya dengan disiplin diri yang kuat, kepribadian itu dapat dimunculkan.
Saat seseorang sadar akan potensi dirinya, ia akan sadar bahwa ia tidak akan dapat terkalahkan hanya karena ia pernah memiliki perasaan inferior. Buku ini mengajarkan kita agar jangan pernah percaya bahwa ada hal-hal yang tidak dapat kita kerjakan. Banyak hal-hal besar di dunia ini dicapai oleh orang-orang yang tidak tahu apa yang tidak dapat mereka kerjakan. Jadi mereka terus mengerjakannya sampai akhirnya hal tersulitpun dapat mereka atasi. Banyak orang (mungkin sayapun termasuk di dalamnya) yang senang memainkan peran sebagai korban kehidupan, atau korban dari perlakuan orang lain yang menyebabkan dirinya tertimpa kemalangan dan patut dikasihani.
Memang, jika kita menyampaikan kisah kemalangan yang terjadi pada diri kita, kita akan selalu menjadi pusat perhatian dan orang akan cenderung berlaku ‘istimewa’ terhadap kita. Apabila kita terlalu lama memainkan peran ini, mengharap orang lain melihat kita sebagai ‘orang baik’ yang dizhalimi, hal ini akan melumpuhkan diri kita dan kemampuan kita untuk menjadi diri kita yang sebenarnya. Semua orang pernah berbuat kesalahan atau tertimpa musibah.
Tapi bila kita selalu mengungkit kesalahan/musibah itu, mengeluhkan ini, menyesali itu, kita tidak akan bisa belajar dari kesalahan tadi. Tidak akan dapat keluar dari masa lalu. Tidak akan dapat melihat masa depan. Buku ini mengajarkan kita untuk menjalani hidup ini seperti seorang artis/pemain teater atau opera broadway yang melakukan pertunjukan ‘live’, yang ditonton oleh sekian banyak orang. Kerjakanlah yang terbaik yang kita bisa pada saat kita berakting. Tapi setelah selesai, lupakanlah semuanya. Tidak perlu berfikir “kenapa saya tadi tidak melakukan hal begini, atau begitu?” atau “seharusnya tadi saya bisa lebih ini, lebih itu”. Lupakanlah. Mengapa? Karena ribuan penonton itupun melakukan hal yang sama. Mengapa kita tidak? Kita tidak perlu memandang sesuatu hal ‘terlalu penting’ atau ‘terlalu besar’ sehingga dapat menghancurkan hidup kita.
Tantanglah diri kita untuk menjadi yang terbaik yang dapat kita capai. Menjadi manusia yang lebih besar daripada yang kita rasakan selama ini. Tantanglah diri kita untuk berjuang sekuat tenaga untuk mencapai tujuan kita. Kita pasti bisa kalau kita berfikir bahwa kita bisa.
07.04.09
Toxic Employee
Dalam ilmu biologi, toxic atau racun merupakan suatu zat yang dapat menyebabkan luka, sakit, maupun kematian organisme. Namun ternyata istilah toxic atau racun ini tidak hanya menjangkiti pada tubuh makhluk hidup atau organisme saja, tapi juga bisa menjangkit pada sebuah organisasi atau perusahaan, dan dampak yang timbulkannya pun juga dapat mengakibatkan organisasi tersebut menjadi sakit bahkan mati.
Lalu apakah toxic atau racun yang terdapat dalam organisasi atau di perusahaan ini? Seperti di ketahui bersama, bahwa organisasi atau perusahaan merupakan sebuah lingkungan social yang terbentuk dan terdiri dari para anggota maupun karyawannya yang memiliki tujuan bersama. Oleh karena itu, toxic yang terdapat dalam sebuah organisasi ini, sudah tentu dibawa oleh individu-individu dalam organisasi itu sendiri, atau karyawan dalam sebuah perusahaan. Karyawan semacam inilah yang disebut sebagai Toxic employee oleh Antonio Dio Martin dalam buku terbarunya. Garis polisi ‘dilarang melintas’ berwarna kuning melintang di cover buku tersebut memberikan pemahaman semiotika tentang cara untuk mengenali dan menghadapi karyawan yang telah menjadi toxic dalam perusahaan.
Toxic employee alias karyawan beracun sepertinya terdengar menakutkan bagi pembaca. Anthony terkesan sengaja membangun image menakutkan agar pembaca tertarik membaca buku ini dari awal. Pasalnya, terlambat sedikit saja menangani para toxic employee memang bisa berdampak menakutkan bagi perusahaan. Seperti halnya membiarkan residu kanker berkembang dalam tubuh manusia.
Seperti halnya sifat racun. Racun itu membunuh pelan-pelan tapi pasti. Begitu pula karakter karyawan yang beracun bisa membunuh organisasi secara perlahan-lahan. Toxic employee bisa menjangkit pada siapa-pun orangnya. Karena karayawan yang paling berprestasi pun bisa termasuk kategoti toxic employee, dan sebaliknya seorang karyawan yang bodoh dan pemalas pun belum tentu menjadi seorang toxic employe. Bahkan, bukan tak mungkin seorang pemimpin atau manajer sekalipun juga menjadi seorang toxic leader.
Sesungguhnya, siapa saja karyawan disebut beracun tersebut? Lalu, racun apa saja inidkasinya dan seberapa bahayanya? Dalam bukunya, Anthony membagi cirri-ciri karyawan beracun tersebut menjadi tujuh cirri. Cirri – ciri tersebut adalah: Negaholic dan Pesimis; Menyedot Energi Tim; Menjadi Masalah, bukan solusi; Self Centered; Emosional; Suka Menggosip; dan tidak bisa bersyukur.
Sebagai salah satu contohnya adalah Toxic employee nagaholic dapat diilustrasikan dengan tokoh kartun yang cukup dikenal dengan karakter pesimisnya, Eeyore, si keledai pesimis sahabat winie and the pooh. Saking pesimis dan negative, dengarlah komentar Eeyore terhadap pantulan mukannya sendiri, “Menyedihkan, lihat mukamu.” Menurut Anthony, orang negaholic dan pesimis adalah orang yang selalu mementahkan ide baru tanpa mau memecahkannya terlebih dahulu. Bagi mereka (toxic employee negaholic), bekerja tidak lengkap rasanya tanpa berpikir negative.
Dan salah satu pertanyaan menarik dalam pembahasan masalah toxic employee ini adalah mengenai asal usul si Toxic employee? Oleh Anthonio, asal-usul si Toxic employee ini datang dari ilmu Psikologi yang berdasarkan pada empat theory, yaitu, Theory pertama adalah Theory Nature mengatakan bahwa “kebiasaan buruk” toxic employee ini adalah bagian dari karakter yang sudah terbentuk sejak kecil.
Theory Kedua, teori Nurture mengatakan bahwa toxic employee ini terbentuk dari lingkungannya. Theory ketiga, yakni teori ember kosong, teori ini mengatakan bahwa biasanya mereka- mereka ini adalah orang yang mempunyai pengalaman buruk sehingga outputnya pun menjadi buruk.
Theory Keempat, mengatakan asal-muasal toxic employee adalah dari kondisi yang mendapatkan penguatan (reinforcement). Dengan perilakunya mereka, justru mereka mendapatkan tempat dan perhatian. Itulah sebabnya mereka mempertahankan sikap toxic mereka. Apalagi, jika sikap mereka bisa membuat mereka dipromosikan.
Seperti yang telah disebutkan diatas, efek yang sangat mematikan bisa dihasilkan oleh para toxic employee ini. Sesungguhnya ada banyak hal yang bisa dimatikan oleh mereka. Terutama jika mereka berada diposisi sebagai pimpinan. Mereka bisa mematikan kreativitas, antusiasme kerja juga mematikan etos kerja yang positif. Sebuah pepatah yang bagus mengatakan, “Nothing dies faster than a new idea in a close mind”. Begitulah yang akan terjadi jika ide-ide baru dihadapkan kepada para toxic employee. Mereka mudah mengatakan “tidak mungkin,” “Tidak ada gunanya,” ataupun “Mustahil”. Karena itulah ada pepatah cina lain yang mengatakan, “Jangan menuangkan teh panas ke dalam cangkir dengan teh dingin”, si Toxic employee ini dapat diibaratkan cangkir teh dingin yang sudah tidak memiliki lagi ‘uap’ semangat dan gairah untuk menerima ide yang baru dan inovatif.
06.23.09
Marketers Politik
Begitulah judul buku bestseller yang ditulis oleh Seth Godin. Buku yang dipublikasikan pada tahun 2005 tersebut telah mempengaruhi pandangan berjuta orang tentang aktivitas marketing. Sebelumnya, hampir setiap orang mempercayai jika promosi, salah satu aktivitas marketing, selalu berguna untuk meningkatkan brand image sebuah produk. Namun, ternyata tidak semua aktivitas promosi dapat meningkatkan citra sebuah produk. Mengapa ? Karena aktivitas tersebut telah sering ‘dinodai’ oleh pemasar-pemasar penipu.
Barangkali salah satu dari pembaca pernah menerima surat yang berisi panggilan untuk menerima hadiah dari salah satu produk. Penulis pernah mengalaminya beberapa tahun silam. Di dalam surat yang dikirimkan oleh salah satu agen dari beberapa produk dituliskan bahwa saya harus datang ke satu alamat untuk mengambil hadiah. Sebetulnya, hati agak ragu-ragu untuk memenuhi undangan tersebut. Pasalnya, tidak ada angin tidak ada hujan kok tiba-tiba mendapat hadiah. Namun, didorong oleh rasa penasaran, akhirnya datang juga saya ke alamat dimaksud.
Sesampai di alamat tersebut, ternyata sebuah toko elektronik baru. Begitu masuk ke toko itu, saya langsung disambut oleh tiga pelayan. Dua perempuan dan satu laki-laki. Ketiganya masih belia dan penampilannya seolah eksekutif muda. Saya dipersilakan duduk, mereka mulai menjelaskan ini itu untuk menjelaskan maksud undangan tersebut. Intinya, menurut mereka saya adalah salah satu pribadi yang sangat beruntung karena menjadi salah satu orang terpilih menerima hadiah dari sekian ribu orang yang diseleksi. Dan saya tidak bertanya apa parameter dari seleksi mereka. Saya cuma mengamati begitu lincahnya lidah mereka memberi informasi.
Singkat kata sampailah saat saya akan menerima hadiah. Namun, hadiah itu tidak bisa langsung saya terima. Ada beberapa syarat yang harus saya setujui. Pertama, saya harus mengambil undian terlebih dahulu. Macam hadiah yang akan saya terima bergantung dari kupon yang saya pilih. Syarat ini saya setujui. Syarat kedua, saya harus bersedia membayar ½ harga dari hadiah yang saya terima tersebut.
Sebetulnya, dari sini saya sudah mulai mencium bau penipuan. Namun karena harganya juga tidak terlalu mahal, maka syarat kedua pun saya setujui. Setelah kedua syarat tersebut saya setujui, saya dipersilakan mengambil kupon undian. Di kupon tersebut tertulis sebuah produk home-teathre dari salah satu merek china yang tidak pernah saya dengar namanya. Tanpa ba bi bu, saya bayar barang tersebut setengah harga. Saya sadar saya telah ditipu oleh toko tersebut.
Beberapa tahun berselang, produk dari merek tersebut muncul di pasaran. Harganya? Sepertiga dari harga yang telah saya bayarkan ke toko yang telah memberi hadiah saya. Pengalaman tersebut saya ceritakan ke banyak orang supaya tidak tertipu seperti saya alami.
Maka sejak saat itu, saya dan teman-teman tidak pernah mempercayai hadiah-hadiah yang ditawarkan oleh produk-produk yang merknya belum dikenal. Dan yang lebih penting, sejak saat itu saya mulai percaya bahwa sebagian dari pemasar adalah penipu.
Belakangan ini, aktivitas pemasar yang berbau penipuan ini mulai banyak kita jumpai. Namun, kali ini yang dipasarkan bukan barang, tapi ‘citra diri’. Siapa gerangan mereka ? Mereka adalah orang-orang partai yang mencalonkan diri sebagai legislatif maupun presiden. Coba Anda amati berbagai tulisan yang menyertai foto mereka di banner dan spanduk-spanduk yang di pampang di jalan-jalan.
Kata-kata indah bertebar pesona menghiasi sarana promosi mereka. Kata-kata seperti : ‘berjuang untuk rakyat’; ‘mengabdi untuk rakyat’; ‘memberantas kemiskinan’; ‘pendidikan gratis’; ‘memakmurkan rakyat adalah tujuanku’; dan lain sebagainya. Kata-kata indah tanpa makna tersebut tidak hanya dilakukan oleh calon-calon baru. Orang-orang lama yang telah / pernah menjadi legislatif atau presiden pun melakukan hal senada. Mereka ini sepertinya beranggapan bahwa rakyat ini goblok semua, tidak bisa membaca realitas yang sebenarnya. Mereka mungkin mengira bahwa rakyat tidak tahu bahwa sebagian besar aktivitas mereka hanyalah gontok-gontokan, saling ejek dan saling jegal untuk berebut kekuasaan demi memenuhi kepentingan mereka sendiri. Nasib rakyat seakan berada di luar kesadaran mereka. Istilah rakyat baru masuk kembali ke dalam kesadaran menjelang pemilu saja. Di saat seperti ini, mereka berperan bak pahlawan bagi rakyat. Setelah pemilu ? Mereka seolah lupa bahwa ada istilah rakyat di negeri ini.
Bukankah ini juga penipuan. Maka, judul buku Seth Godin, All Marketers are Liars, tidak hanya berlaku di dunia usaha. Di dunia politik ungkapan tersebut semakin mendapatkan pembenarannya. Jika pembohongan yang dilakukan oleh pelaku-pelaku dunia usaha kerugiannya hanya menimpa segelintir orang saja. Tapi kebohongan yang dilakukan oleh para politisi bisa menimpa hampir seluruh warga bangsa ini. Dan lebih parah lagi, akibat yang ditimbulkan olehnya bisa tidak hanya terbatas pada satu generasi saja, tetapi bisa beberapa generasi berikutnya. Generasi anak-cucu kita bisa harus mewarisi kerusakan yang diakibatkan oleh penipuan tersebut.
Efek lain dari perilaku bohong tersebut adalah dampak pembelajaran negatif bagi generasi muda. Barangkali pembaca sudah sama mahfum bila perilaku orang dewasa, terutama yang dipandang sebagai tokoh, seringkali menjadi panutan bagi generasi muda yang sedang membangun karakter pribadinya. Jika tokoh panutannya memiliki karakter terpuji, maka mereka akan mengimitasi karakter dan watak tersebut. Sebaliknya, jika tokoh panutan memberi teladan dengan perilaku-perilaku tercela, seperti pembohongan seperti di atas, otomatis akan menular pada generasi muda.
Tokoh-tokoh partai yang selama ini tidak pernah menunjukkan perilaku membela rakyat keci, tiba-tiba dari mulut mereka keluar kata-kata sok membela kepentingan rakyat. Tokoh-tokoh yang sebelumnya hampir tak mengenal kepentingan rakyat miskin, tanpa malu-malu mengatakan pengabdian mereka hanya untyk rakyat. Sekali lagi, ini dilakukan tanpa rasa malu dan rasa bersalah. Bukankah perilaku demikian bisa mengakibatkan munculnya persepsi bahwa melakukan pembohongan publik merupakan hal yang wajar ? Apakah salah jika generasi muda beranggapan bahwa sifat munafik tidak perlu mengakibatkan rasa malu ?
Penulis pernah menjumpai seseorang yang dianggap tokoh oleh lingkungannya. Orang ini di dalam kesehariannya selalu mengatakan bahwa kita harus selalu hidup sederhana, selalu mendahulukan kepentingan orang lain, hidup selalu berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan dan seribu kalimat senada yang lain. Namun, tingkah lakunya selalu berbeda dengan apa yang dikatakan. Dia selalu berperilaku mementingkan diri sendiri, jika ia membantu orang lain, selalu ada pamrih di baliknya, selalu hidup berfoya-foya dan perilaku-perilaku lain yang sangat tidak terpuji. Apa yang dikatakan selalu berbeda dengan apa yang dikerjakannya. Dampak dari perilaku tersebut, anak-anak orang ini mulai menampilkan perilaku-perilaku munafik seperti dilakukan bapaknya. Bahkan, anak-anak muda yang dekat dengan tokoh kita ini juga mulai meniru-niru perilaku tak terpuji tersebut. Sekarang, bayangkan ! jika cukup banyak pembohong-pembohong seperti ini dengan telanjang mempertontonkan sikap the big pretender seperti itu, kira-kira akan jadi apa ya generasi muda kita nanti ?
06.21.09
How an economic crisis may improve your management skills: Strategies for making it through uncertain times
Leadership is generally defined as influencing others to work willingly toward achieving objectives. The current economic climate that we find our colleagues, staff, and selves working in is unfamiliar and stressful to many of us. Many organizations are cutting budgets, including workforce, in order to remain viable. Now more than ever, managers need to be actively involved in creating a positive work environment and motivating staff to continue giving their best despite a highly tense situation. Employees look to management for leadership, guidance, and for the tools and resources necessary to make it through this crisis.
Successful management involves managing people in a way that motivates and enables them to work at their highest levels of productivity and in harmony with one another so that the organization is thriving in terms of efficiency, service, effectiveness, quality, and value. Good management is always vital to an organization. During times of uncertainty and stress, it is essential. Many of the strategies employed during a crisis are the same as those used in everyday management.
The principal management tool is also the most broad and encompassing—communication. Communication with staff is always central to an organization’s success, but it is especially critical during periods of pressure. Keeping staff informed will alleviate anxiety and keep them focused on organizational goals. Connecting with staff and showing compassion and concern for their well-being helps reinforce trust and support. Key points to remember regarding communication
• Address the rumor mill. Gossip and speculation tend to skyrocket during economic crises. Ignoring it only allows it to fester and preoccupy staff.Open communication about what is actually happening, and immediately dispelling rumors or half-truths, will keep staff focused on their work and create an environment of trust. Remember, in the absence of information the worst-case scenario is often assumed.
• Communicate in person.E-mail should not replace face time with staff. Regular staff meetings and/or one-on-one conversations work best when critical or complex information must be communicated. Anticipate the kind of information employees want to know and what types of questions are likely to ask.
• Be participatory. Share the vision. Employees are more willing to make changes and take on more responsibility or tasks when they understand how it supports the larger objectives of the organization. Often the people who know a process or service best are those who perform them on a daily basis. If services or workflow need to be revised or replaced, involve staff in the discussion. Brainstorming the solution to organizational challenges together gives staff a voice in the outcome and motivates them to put forth their best effort. Being a manager requires caring for employees. People who are shown care work more effectively with and for the people who show that care. These people feel better and are more positive to be around. Being a caring and compassionate manager does not have to be a counseling activity. It simply means showing concern for staff in ways that help them improve performance and grow. During tough times managers may feel the need to become more hard-edged and demanding in an effort to get more out of less people or resources. This sudden desire for better performance may manifest itself as criticism or nitpicking and may place additional stress upon employees resulting in poor performance. Caring for staff happens in many ways
• Practice active and attentive listening. Listening means knowing what others have said, or meant to say, and leaving people with the feeling that they have had their opinions or concerns heard. Do not interrupt. Be able to paraphrase. Listen for underlying meaning. Maintain eye contact. Take notes. Do not frown or make any other derogative facial expressions. Good listeners ask questions to get a better understanding of what is being communicated. Once the conversation has ended, repeat the key points or issues. If necessary, schedule a follow-up discussion. • Share and disclose. Share your thinking on a work issue and ask employees for their input or advice. Pass on pieces of information that may help people do their jobs better or broaden their perspective. When announcing changes or any other important decision, share how you arrived at the decision; explain intentions or reasons. This can help employees understand why things are happening and feel less put upon.
• Be available and personal. Offer opportunities for individuals or small groups to voice their worries or concerns even if there is no further information or answers that can be given at that time. Know several personal things about staff. By asking a few personal questions you may make it easier to grow trust and cultivate relationships. During hard times organizations are asked to do more with less, requiring a reassessment of work and services and providing the opportunity to reallocate staff resources and revise or eliminate processes. Developing a comprehensible plan, setting goals, and communicating clear expectations are the necessary steps towards identifying and eliminating work, which may result in organizational improvement. Nothing assists in moving workflow along better than a clear plan. It helps the staff that has to follow it and leads to better use of resources. Planning in advance anticipates and identifies problems before they occur. What a good planning process involves • Laying out tasks and work. Break the work down into process steps. Ask employees to contribute to this process to ensure that no tasks or details are overlooked and omitted.
• Setting goals. Employees who are given specific goals usually perform better than those who are not. Goals should be challenging, but not so difficult that they appear impossible or unrealistic. Whenever possible, goals should include target dates or deadlines for accomplishments and be set in collaboration with both management and staff. Since ability is an important determinant of performance, giving staff input and the opportunity to ask for assistance, clarification, or further training helps guarantee that goals will be met.
• Keeping expectations clear and concise. Often employees are not entirely clear on what is expected of them in their jobs. Ensuring that staff know what they should be doing is critical during an economic crisis when there could be fewer people performing the work. Clear, concise expectations that transition with the changes in the larger organizational goals and workflow are key to earning staff support and buy-in. Staff recognition The biggest mistake a manager can make is forgetting to recognize individual and group successes. It is easier to identify weaknesses than to recognize people when they are performing well.
Traditionally organizations recognize outstanding performance with salary increases, but with tight economic times the opportunities to provide financial rewards are limited. In hard times staff will regularly hear bad news, so the simple recognition of a job well done can go very far in bringing up morale and self-esteem. Staff recognition is not solely about improving and maintaining staff morale and esteem, it also highlights the kind of performance that is desired and expected in the workplace. It is an important communication tool that reinforces the behaviors and actions that managers want to see repeated. Recognizing staff is inexpensive and does not require great effort. It can be as simple as writing an e-mail or handwritten thank you note for putting in some extra effort to meet a deadline, or it can be done in a public setting, such as a staff meeting, where an employee is recognized for providing exemplary service.
Praising a staff member after they finish dealing with a difficult situation or customer is another way of letting them know that as a manager you value their work. The most effortless form of respect and appreciation a manager can give is to say thank you. Above all, managing during uncertain times or crisis requires the leader to remain positive and upbeat about what is being accomplished or changed without dwelling on the cause of the situation, laying blame, or indulging complainers.
Creating an engaging and positive work environment helps staff become resilient. Management is a demanding job that requires maximum effort without a guaranteed positive return. Any type of stress exponentially increases the difficulty of the work; however, these are the very situations where your skills and talents are put to the test, and often you and your staff come out a stronger, more collaborative, more open, and more productive unit.
06.15.09
MELIHAT LEBIH JAUH
Ada dua kisah nyata inspiratif yang akan saya adaptasi. Pertama tentang seorang tukang pipa (plumber). Alkisah, bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman sedang pusing karena pipa keran airnya bocor, ia takut anaknya yang masih kecil terjatuh. Setelah bertanya ke sana-kemari, ditemukan seorang tukang terbaik. Melalui pembicaraan telepon, sang tukang menjanjikan dua hari lagi untuk memperbaiki pipa keran sang bos. Esoknya, sang tukang justru menelepon sang bos dan mengucapkan terima kasih. Sang bos sedikit bingung. Sang tukang menjelaskan, ia berterima kasih sebab sang bos telah mau memakai jasanya dan bersedia menunggunya sehari lagi. Pada hari yang ditentukan, sang tukang bekerja dan bereslah tugasnya, lalu menerima upah. Dua minggu kemudian, sang tukang kembali menelepon sang bos dan menanyakan apakah keran pipa airnya beres. Namun, ia juga kembali mengucapkan terima kasih atas kesediaan sang bos memakai jasanya. Sebagai catatan, sang tukang tidak tahu bahwa kliennya itu adalah bos perusahaan otomotif terbesar di Jerman. Cerita belum tamat. Sang bos demikian terkesan dengan sang tukang dan akhirnya merekrutnya. Tukang itu bernama Christopher L Jr dan kini menjabat GM Customer Satisfaction & Public Relation Mercedes Benz. Dalam sebuah wawancara, Christopher menjawab, ia melakukan semua itu bukan sekadar tuntutan after sales service atas jasanya sebagai plumber. Jauh lebih penting, ia selalu yakin tugas utamanya bukanlah memperbaiki pipa bocor, tetapi keselamatan dan kenyamanan orang yang memakai jasanya. Christopher melihat lebih jauh dari tugasnya.
Kisah lain. Ada juga kisah dari teman saya, James Gwee, tentang Mr Lim yang sudah tua dan bekerja ”hanya” sebagai door checker (memeriksa engsel pintu kamar hotel) di sebuah hotel berbintang lima di Singapura. Puluhan tahun ia jalankan pekerjaan membosankan itu dengan sungguh- sungguh, tekun, dan sebaik-baiknya. Ketika ditanya apakah ia tak bosan dengan pekerjaan menjemukan itu, Mr Lim mengatakan, yang bertanya adalah orang yang tidak mengerti tugasnya. Bagi Mr Lim, tugas utamanya bukanlah memeriksa engsel pintu, tetapi memastikan keselamatan dan menjaga nyawa para tamu. Dijelaskan, mayoritas tamu hotelnya adalah manajer senior dan top manajemen. Jika terjadi kebakaran dan ada engsel pintu yang macet, nyawa seorang manajer senior taruhannya. Jika ia meninggal, sebagai decision maker, perusahaannya akan menderita. Jika perusahaannya menderita dan misalnya bangkrut, sekian ribu karyawannya akan menderita. Belum lagi keluarganya, termasuk anak istri manajer itu.
Demikian jauh pandangan Mr Lim, dan ia bukan sekadar door checker. Beberapa pelajaran Christopher L Jr dan Mr Lim relatif manusia sejenis. Keduanya bukan kelas manusia sedang atau biasa (good people). Mereka jenis ”manusia besar atau manusia berlebih” (great people) meski jabatan atau pekerjaan formal di suatu saat demikian ”rendah dan biasa saja”. Sikap mental mereka jauh lebih tinggi dari jabatan dan pekerjaan formalnya.
Dua kisah itu memberikan beberapa pelajaran berharga. Pertama, untuk menjadi manusia besar tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan teknis seseorang mengerjakan tugasnya. Kemampuan dan kompetensi teknis (hard competence) boleh sama atau biasa saja, tetapi sikap mental atau soft competence yang lebih akan menentukan seseorang menjadi manusia besar atau tidak. Kedua, untuk bisa mempunyai soft competence dimaksud, kita perlu berontak dan bangun dari tidur panjang selama ini, keluar dari zona nyaman good. Sebagai manusia minimalis, pekerja atau pemimpin apa adanya (yang penting job description dijalankan), target kerja atau key performance indicator (KPI) tercapai, beres! Itulah tipikal manusia biasa saja. Upaya ini memerlukan pengorbanan diri sebab hanya dengan menjadi good people seperti selama ini saja, toh tak ada yang mengusik kita, tetap bisa bekerja dengan nyaman, dan seterusnya. Maka, pemberontakan untuk bebas dari kondisi good people itu harus dari diri sendiri dulu. Ingat petuah Jim Collins, good is the enemy of great. Ketiga, langkah lebih konkret selanjutnya adalah sikap mental untuk ”melihat lebih”! Christopher L Jr plumber yang ingin memastikan kliennya nyaman dan selamat. Mr Lim door checker yang ingin menjamin tamu hotelnya terjaga nyawanya dari bahaya kebakaran. Melihat lebih jauh, beyond the job! Keempat, setelah mampu melihat lebih, barulah kita mampu ”memberi lebih” (giving more). Hanya dengan melihat lebih dan memberi lebih, kita mampu menjadi manusia besar yang tidak hanya bekerja sebatas KPI. Kita akan mampu bekerja dengan memberikan key values indicator (KVI), nilai-nilai lebih, mulia, unggul, berguna bagi setiap pengguna atau penikmat hasil kerja kita. Itulah Christopher L Jr dan Mr Lim. Rindu pemimpin besar Betapa bangsa ini rindu seorang pemimpin hasil pemilu yang layak disebut pemimpin besar, great leader. Mereka yang kini sedang giat berkompetisi dan perang iklan dengan saling sorot KPI masing-masing. Perhatikan dengan saksama, maka segenap janji kampanye, termasuk realisasinya, konteksnya masih sebatas pemenuhan KPI. Ini berlaku baik bagi yang masih berkuasa maupun mantan dan juga calon yang baru. Semua bicara tentang KPI kepemimpinan, belum menyentuh KVI kepemimpinan. Para pemimpin dan bahkan kita semua demikian bangga dan terpesona sendiri saat mampu memenuhi ”KPI kehidupan” kita masing-masing, yang biasanya memang bersifat kuantitatif, materiil, dan mudah diukur. Padahal, untuk menjadi great people, great leader, great father, great manager, dan seterusnya, lebih diperlukan kemampuan mempersembahkan ”KVI kehidupan” kita, yang biasanya justru tidak mudah diukur. Bangsa ini sangat memerlukan Christoper L Jr dan Mr Lim sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Sebagai catatan akhir, seorang office boy yang mampu mempersembahkan KVI nilainya tak kalah dengan seorang CEO yang hanya memberikan KPI-nya. Jika kita ”mau” melihat lebih jauh, kita akan ”mampu” melangkah lebih jauh.